SIAP UN MAU KEMANA ?

Ujian Nasional sudah selesai dilaksanakan, walaupun dalam pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini terdapat berbagai macam permasalahan, seperti diundurnya waktu pelaksanaan ujian nasional dibeberapa wilayah, kemudian juga keterlambatan pendistribusian soal kesekolah, dan juga kekurangan jumlah soal sehingga untuk mencukupinya, soal tersebut mesti difotokopi. Walaupun terdapat berbagai kendala dalam pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini, namun alhamdulillah Ujian Nasional selesai juga dilaksanakan, baik untuk tingkat Sekolah Dasar ( SD ) sederajat, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ( SLTP ) sederajat, Maupun pelaksanaan di Sekolah Menengah Atas ( SMA ) sederajat.

            Ujian Nasional memang sudah selesai dilaksanakan, beban dikepala yang biasa menghantui para pelajar sudah mulai beransur hilang, perasaan takut dan cemas sudah berubah menjadi legah. Namun ditengah – tengah kegirangan seperti ini, ada pertanyaan besar yang masih mengganjal, apakah hasil Ujian Nasional tersebut memuaskan ?, dalam artian apakah nama kita masuk kedalam nama – nama yang dinyatakan  Lulus dalam Ujian Nasional ?. Jikalau dinyatakan Lulus dalam Ujian Nasional, ada satu lagi kegalauan yang mengganjal dalam pemikiran pelajar, Setelah Ujian Nasional ini mau kemana ?. hal ini wajar ada pada diri seorang peserta didik, bayangkan aja, bagi Siswa Sekolah Dasar misalnya, Ujian Nasional merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilannya selama enam tahun di Sekolah tersebut. Bagi Siswa SMP, Ujian Nasional juga merupakan salah satu bentuk keberhasilannya selama tiga tahun disekolah tersebut, dan begitu juga dengan siswa SMA / Sederajat, Ujian Nasional juga merupakan bentuk perwujudan keberhasilannya selama tiga tahun disekolah tersebut. Namun hal ini yang perlu ditanamkan dalam diri pelajar tersebut adalah rasa optimis. Kalau memang kita sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menempuh ujian nasional yang telah kita laksanakan, sekarang kita tinggal berdo’a kepada Allah SWT, insya Allah kita juga akan mendapatkan hasil dari apa yang telah kita usahakan tersebut.

            Kita lihat saat ini, sebahagian sekolah sudah ada yang memulai membuka pendaftaran bagi calon peserta didik barunya, beragam fasilitas untuk menarik minat peserta didik baru untuk bergabung disekolah tersebut terus ditonjolkan. Yang penting bagi calon peserta didik untuk menentukan mau sekolah dimana setelah ini, tentu jawabannya pilihlah sekolah yang bagus dan berkualitas yang  bisa  mengantarkan kita untuk mengembangkan potensi diri yang kita miliki demi meraih kesuksesan yang diharapkan.

            Pada prinsipnya dimanapun kita sekolah, yang  sekolah tersebut belum tentu menjamin kesuksesan yang kita inginkan, akan tetapi faktor penting yang sangat menentukan kesuksesan kita adalah  diri individu kita masing – masing. Walaupun kita sekolah ditempat yang bagus, semua fasilitas mencukupi, akan tetapi keseriusan kita individu dalam menimbah ilmu disana yang tidak ada, maka kesuksesan itu tentu akan jauh dari kita. Akan tetapi sebaiknya para calon peserta didik baru yang akan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi lagi, yang paling penting untuk diluruskan adalah niat untuk melanjutkan pendidikan disekolah yang baru tersebut. Tanamkan dalam jiwa bahwa saya sekolah ditempat yang baru ini, betul – betul untuk menginginkan kesuksesan yang diinginkan.

            Ada beberapa trik bagi para pelajar untuk meraih kesuksesan yang diinginkan, diantaranya adalah :

  1. Kita mesti mempunyai target dan tujuan yang jelas dalam memilih sekolah yang kita inginkan. Maksudnya Apa tujuan kita memilih suatu sekolah yang kita jadikan pilihan bagi kita untuk mendaftar. Sebetulnya dimanapun kita sekolah, kita mesti memiliki target dan tujuan yang jelas. Target kita untuk sekolah ditempat yang baru itu apa ? tentunya kalau ingin sukses targetnya itu tentu hal – hal yang baik pula, yang bisa mengantarkan kesuksesan tersebut.
  2. Percaya akan potensi yang ada pada diri sendiri, maksudnya adalah, semua manusia itu memiliki potensi, jangan takut untuk mencoba sesuatu hal yang baru, diamanapun kita melanjutkan pendidikan, yang pertama itu yang perlu kita tanamkan adalah kesenangan untuk sekolah disana, sehingga kalau memang kita sudah memiliki kesenangan untuk melanjutkan pendidikan ditempat yang baru, maka proses menuntut ilmu ditempat yang baru tersebut juga kita lalui dengan penuh kesenangan tampa beban.

Ini beberapa trik bagi pelajar yang akan melanjutkan pendidikan disekolah yang baru, yang penting berusaha, optimis, perbaiki niat, dimanapun kita melanjutkan pendidikan yang perlu itu adalah keseriusan kita dalam menuntut ilmu disekolah tersebut, demi mewujudkan cita – cita yang diharapkan.****

 

 


           

 

Sampah dibuang jadi Penyakit, ditabung jadi duit

ImageSampah dibuang jadi penyakit, sampah ditabung jadi duit, Tulisan ini muncul karena penulis terinspirasi dari sebuah motto Adiwiyata yang terpampang didekat gerbang  sebuah Sekolah Dasar yang ada dikelurahan Kubu Tanjuang, Kabupaten Agam. Kalimat ini ringkas akan tetapi memiliki banyak inspirasi bagi orang yang mau memaknai isi yang terkandung dalam kalimat ini.

Istilah sampah pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Jika mendengar istilah sampah, pasti yang terlintas dalam benak kita adalah setumpuk limbah yang tidak berguna, kadangkala sampai menimbulkan aroma bau busuk yang sangat menyengat, sampah juga diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan. Ya siapa sich yang suka dengan sampah, yang namanya barang bekas, kadangkala banyak dipandang sebagai material yang tidak berguna lagi, sehingga dibuang menumpuk di TPA ( Tempat Pembuangan Akhir ).

Besarnya tumpukan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung, baik bagi penduduk kota apalagi penduduk yang tinggal di sekitar tempat penumpukan sampah tersebut. Dampak langsung dari penanganan sampah yang tidak dikelola secara bijaksana akan menimbulkan banyak mudharatnya seperti berjagkitnya berbagai penyakit seperti penyakit kulit serta gangguan pernafasan, dan penyakit lainnya. Kemudian dampak tidak langsungnya terjadinya bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya saluran air baik di got maupun di sungai karena terhalang oleh timbunan sampah yang dibuang ke saluran air tersebut.

Selain sampah yang menumpuk akan berpengaruh juga pada perubahan iklim, sehingga mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida, metana, dan dinitrooksida. Semua zat ini yang menyebabkan terjadinya pemanasan Global, zat tersebut terjadi, salah satunya dari pembakaran-pembakaran sampah plastik yang di lakukan. Sehingga saat ini  udara  panas disiang sangat terasa.

Tentu kebiasaan seperti ini  yang perlu kita robah, yang biasanya sampah menjadi hal yang tidak berguna dan diabaikan, sekarang bagaimana kita memamfaatkan sampah ini menjadi hal yang berguna dan bermamfaat.

Sampah Alam misalnya, seperti daun – daunan, ranting kayu, yang berasal dari alam itu sendiri, biasanya kita tumpuk dan dibakar, akan tetapi untuk saat ini kebiasaan seperti ini yang akan kita robah. Sampah alam yang ada ditengah – tegah kehidupan kita setiap hari, kita kumpulkan dan kita kelolah menjadi hal yang ramah lingkungan dan bermamfaat. Sampah tersebut ditumpuk dalam suatu tempat, lalu ditimbun dengan tanah dan ditutup dengan plastik, biarkan lebih kurang dua atau tiga bulan, lalu dibukak plastiknya kembali. Sampah yang dulunya daun – daunan sekarang sudah berobah menjadi kompos, yang bisa digunakan untuk memupuk tanaman atau dijual yang menghasilkan uang, lahirlah pengusaha kompos yang bermamfaat bagi banyak orang. Wow bayangkan berapa banyaknya sampah alam yang belum kita kelola dengan baik. Jika dikelola dengan bijak, sampah alam yang biasanya terbuang sia – sia, atau dibakar, sekarang kita olah menjadi kompos yang bermamfaat dan tidak merusak lingkungan.

Penulis juga pernah menyaksikan sendiri, pengalaman yang baru pertama kali dalam hidup penulis, disekolah tempat penulis melaksanakan Praktek Lapangan, suatu hari sekolah tersebut menginstruksikan kepada siswanya untuk membawa sampah atau daun – daunan satu kantong asoi masing – masing siswa kesekolah. Penulis berfikir untuk apa sampah – sampah ini bagi pihak sekolah, kalau murid disuruh membawa sampah kesekolah, secara otomatis sekolah tersebut berarti kekurangan sampah donk…ini becanda penulis terhadap pihak sekolah,,e  ternyata sampah tersebut dimamfaatkan untuk cara pembuatan kompos yang diperlihatkan langsung kepada siswa. Inilah salah bentuk pemamfaatan dari sampah untuk diolah menjadi hal yang bermamfaat

Kemudian juga dari sampah – sampah plastik bekas bungkus minyak goreng misalnya, dengan berbagai merek yang ada, seperti bimoli dan merek lainnya, dari pada dibuang begitu saja, alangkah baiknya dikumpulkan, dibersihkan, dirangkai, menjadi hal yang bermamfaat, seperti dirangkai menjadi tas cantik yang bentuk sederhana tetapi memiliki nilai jual yang lumayan, tas dari plastik yang menarik. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta kita terhadap lingkungan.

Tentunya cari ini akan lebih baik digunakan dari pada kita membakar sampah, atau mengabaikan sampah yang pada intinya memiliki nilai jual yang menghasilkan, asalkan kita mau memamfaatkannya menjadi barang yang berguna.  

Sampah dibuang akan menimbulkan Berbagai Penyakit, akan Tetapi Sampah ditabung akan menjadi Duit. ( By : Syafri Salmi )

 

Selamat Milad ke III Sangka FM

Image

Oleh :

Syafri Salmi

( Crew SANGKA FM )

 

            Radio Sangka FM, Merupakan Station Radio dengan frequensi 104,1 MHz yang terletak di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ( STAIN ) Batusangkar. Radio ini berdiri pada tanggal 06 Mei 2010 yang lalu sebagai radio dakwah dan edukasi. Tanpa terasa dengan silih bergantinya tahun, sekarang Sangka FM Sudah berusia Tiga tahun mengudara, dengan beragam program siaran telah disuguhkan kepada pecinta radio, khususnya yang berada dikawasan Kabupaten Tanah Datar, dan pada umumnya kepada seluruh Fens radio yang bisa menangkap gelombang 104,1 MHz ini.

Pada Minggu 19 Mei 2013 Kemaren, Radio Sangka Fm Kembali merayakan miladnya yang ke III. Beragam acara pun digelar dalam rangkah memeriahkan HUT yang ke III Sangka FM ini. Diantaranya gerakan jalan sehat, dengan Star di depan gedung putih STAIN Batusangkar yang terletak dijalan Sudirman No.137 Limo Kaum Batusangkar, diteruskan ke Lampu Merah Pincuran 7, kemudian ke dobok, simpang empat Rambatan, Limo Kaum dan Finist Kembali didepan gedung Putih STAIN Batusangkar. Kegiatan ini dilepas langsung oleh Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan STAIN Batusangkar Dr. Rizal, M.Ag.

Masyarakat sangat merespon positif acara yang digelar Sangka FM ini, hal itu terbukti dengan banyaknya peserta yang mengikuti gerakan jalan sehat. Hal ini tidak hanya dikalangan masyarakat sekitarnya saja, akan tetapi juga terlihat karyawan dan dosen selingkup STAIN Batusangkar, Unsur Muspika Kecamatan Lima Kaum, Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar, juga ikut hadir dalam acara ini.

Para peserta juga diberi kupon doprezz, yang diundi pada waktu acara puncak Milad Sangka FM, yaitu setelah pelaksanaan Gerakan Jalan Sehat, sembari juga dihibur dengan penampilan dari Band UKM SMART STAIN Batusangkar.

Dalam rangka memeriahkan Milad ke III Sangka FM ini juga hadir para musisi pencipta lagu – lagu minang, diantaranya bapak Fery Zein, selaku ketua KPID Sumbar sekaligus pemilik Carolina Record, dan juga turut hadir Yon Anas, R.E Odong Pencipta lagu merak Bangkauni.

Selamat Milad Sangka FM, Semoga selalu jaya diudara, menjadi station radio yang banyak diminati pendengar dalam menyampaikan syiar Agama Islam dan juga sebagai sarana pendidikan buat kita semua.***

JANGAN JADIKAN UJIAN NASIONAL SEBAGAI BEBAN

Image  Mungkin kita semua telah tahu, apa itu ujian Nasional, Ujian Nasonal merupakan salah satu cara yang digunakan oleh pemerintah dalam dunia pendidikan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa disetiap satuan instansi pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar ( SD ), SLTP ( Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ), sampai ke satuan pendidikan tingkat SLTA ( Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ). Yang waktu pelaksanaannya juga berbeda pada masing – masing satuan pendidikan.

            Pelaksanaan ujia nasional sudah diambang pintu, untuk tingkat SLTA / M.A / SLTP / MTs akan dilaksanakan pada bulan April, dan untuk tingkat SD / Sederajat akan dilaksanakan bulan Mei. Tentu kita semua berharap, perjuangan yang dilakukan oleh para siswa dan siswi ini akan membuahkan hasil yang memuaskan demi kemajuan dunia pendidikan di negeri ini, khususnya kita di Sumatera Barat. Tantangan yang akan dihadapi kedepan dalam pelaksaan Ujian Nasional semakin berat, seperti yang diberitakan singgalang edisi Selasa ( 26 /03 ) Kemarin, paket soal untuk pelaksaan Ujian Nasional tahun ini sebanyak siswa, kecil kemungkinan untuk meberikan jawaban atau membantu peserta Ujian lainnya dalam pelaksaan ujian. Hal ini  cukup bagus sekali penerapan karakter memang begitu, kita tidak hanya mementingkan prestasi akademik saja, akan tetapi yang lebih serius menjadi perhatian kita bersama adalah karakter keperibadian dari siswa kita itu  sendiri.

            Namun kadangkala kita lihat, banyak diantara para siswa dan siswi yang beranggapan bahwa ujian Nasional ini adalah suatu yang menjadi beban dalam pemikiran mereka, sebelum Ujian Nasional mereka laksanakan, yang terbayang dalam pemikirannya apakah kita akan lulus?

            Sebetulnya paradigma berfikir yang seperti ini lah yang mesti  dirobah, persoalan berhasil atau tidaknya tergantung kepada usaha kita. Kalau usaha kita maksimal, pasti hasilnya juga maksimal, karena Allah SWT tidak akan sia – sia terhadap apa yag dilakukan hambanya, baik kata Allah, hasilnya pasti akan baik. Jadi kita sebagai hambanya tinggal berusaha untuk mewujudkan yang terbaik tersebut. misalnya belajar dengan rajin, yang tidak dimngerti telah kita cari tahu kepada yang mengerti, dan ditambah dengan memohon bantuan kepada Allah, karena islam menganjurkan, bergantunglah kepada Allah, dari segala sesuatu yang kita inginkan.

            Memang kadangkala kita temui kenyataannya dilapangan, bahwa siswa yang biasanya tidak diragukan lagi kemampuannya, bisalah dikatakan sebagai siswa yang berprestasi disuatu sekolah, selama dia menerima pendidikan disekolah tersebut, tidak ada satupun yang diperolehnya itu hasil yang kurang memuaskan, kadangkala pas di Ujian Nasional tidak Lulus.

            Agar Ujian Nasional tidak menjadi beban bagi kita, maka ada beberapa trik yang perlu kita tanamkan dalam jiwa kita ;

1.      Hadapilah UN dengan tenang dan proporsional

Hadapilah ujian ini dengan sikap yang tenang dan proporsional bahwa ujian ini merupakan suatu yang harus kita dihadapi dan kita dilalui. Maka mari kita hadapi dengan Sikap tenang,idak ceroboh, dan tergesa – gesa. Dan mari kita susun segala taktik dan rencana yang menyenangkan, sehingga kita fres dan enjoy dalam menempuh ujian Nasional ini.

2.       Siapkan mental dan fisik

Kesiapan mental tentu hal yang sangat diperlukan juga dalam menghadapi Ujuan Nasional, kenapa demikian dengan kesiapan mental yang mantap, maka disaat pelaksanaan Ujian kita akan tenang,  percaya diri, dan tidak takut atau stress.karena apa, suatu hal yang mebebani pemikiran dalam pelaksanaan Ujian Nasional ini, seperti rasa galau, cemas, dan takut tersebut itu akan  melemahkan kemampuan diri kita. Sehingga apa yang dilakukan akan menjadi beban yang berat dalam pemikiran kita.

3.      Tingkatkan motivasi belajar

Keberhasilan kita dalam menghadapi Ujian Nasional juga sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya motivasi yang ada pada diri kita. Kita akan memiliki dorongan belajar yang tinggi apabila kita juga memiliki motivasi yang kuat. Karena motivasi merupakan suatu proses yang sangat berpengaruh juga dalam menentukan keberhasilan dari suatu perbuatan yang akan kita lakukan dalam mencapai tujuan yang kita ingingkan.

4.      Siapkan kemahiran dan keterampilan

 Yang kita maksud dengan kemahiran disini adalah kita juga membekali diri kita dengan kemahiran dan kecakapan dalam menghadapi Ujian Nasional tersebut, misalnya keterampilan dalam mengisi LJUN ( Lembar Jawaban Ujian Nasional tersebut ) disamping penguasaan materi yang akan di ujikan tersebut. Karena hal – hal yang kecil – kecil ini harus kita cermati dan kita perhatikan dengan seksama, mungkin sebahagian orang mengabaikan hal – hal yang sepertinya sepele ini, tetapi ini mengakibatkan hal yang sangat fatal sekali jika kita tidak serius memperhatikannya, karena orang bilang, “ lobang kecillah yang sering menjatuhkan dibandingkan dari lobang yang besar” jadi mari kita biasakan, memperhatikan segala sesuatu, mulai dari yang sekecil – kecilnya itu perlu kita cermati dengan baik.

5.      Buatlah perencanaan yang matang

Menghadapi ujian Nasional merupakan suatu perjuangan yang kita lakukan dalam meniti jembatan dalam menempuh kesuksesan. Tentu hal yang penting ini memerlukan  perencanaan yang mantap. Karena sangat nihil sekali rasanya, suatu yang penting yang sangat kita dambakan dan kita inginkan tidak kita prsiapkan dengan perencanaan yang mantap pula. Mari kita ukur, kira – kira sudah sejauh mana kemampuan dalam penguasaan  materi yang akan di ujikan tersebut, dan kita juga sadar akan kekurangan yang kita miliki, maka dari kekurangan tersebut, kita jangan sungkan untuk mencari jawabannya, sehingga kekurangan kita tadi bisa teratasi, akhirnya kita sudah benar – benar siap dalam menghadapi ujian ini.

PEMIMPIN YANG DIHARAPKAN

Image     

Tidak berapa lama lagi dinegeri ini akan dilaksanakan acara baralek   gadang, yaitu  pelaksanaan pemilu di tahun 2014. Beragam partai politik sudah disibukkan dengan penerimaan calon yang bakal diusungkan di pemilu nanti.beragam nama sudah mulai bermunculan dengan semangat yang tinggi serta optimis siap untuk menghambakan diri mengemban amanah yang dipercayakan rakyat banyak.

            Belakangan ini juga dengan gencarnya media mengabarkan, beragam latar belakang dari bakal calon yang direkrut oleh berbagai partai politik berasal dari beragam kalangan, ada pemain lama yang sudah dikenal oleh orang banyak, dan ada juga pemain baru yang siap maju mewakili rakyat banyak, dan asyik  juga saat ini partai politik juga merekrut calon dari kalangan selebriti.

            Siapa saja yang akan lolos pertempuran ini tidak masalah, yang penting siap membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik, harapan rakyat terlaksanakan, ketentraman dan kesejahteraan dirasakan. Janji tidak hanya tinggal janji, akan tetapi janji butuh bukti dan di realisasikan.

            Berbicara mengenai sosok pemimpin yang sukses memimpin bangsanya, berkaca kita terhadap kepemimpinan Rasulullah SAW. Diceritakan bagaimana keingkaran kaum kafir quraisy pada waktu itu. Bahkan dengan spontan mereka menolak ajaran kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW pada waktu itu. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Rasul dalam menyampaikan kebenaran ini. Dan akhirnya kebenaran tersebut berhasil juga disampaikan, ketentraman dan kesejahteraan pun dirasakan.

            Dalam menjalankan roda kepemimpinan memang banyak sekali tantangan yang mesti dihadapi, lika liku  perjalanan semak berduri yang di lalui, hal ini sudah biasa dalam sebuah roda kepemimpinan, yang penting bagaimana kita mensiasati dan mau menginstropeksi diri dari kejadian yag sudah pernah terjadi.

            Orang cerdas tidak akan mau jatuh ke lobang yang sama, orang cerdas dia akan lebih berhati – hati, hal yang pernah menimpa pemimpin yang sebelumnya tidak akan terulang kembali dimasa kepemimpinannya dimasa yang akan datang.

            Mancaliak ka nan rancak, Bacamin Ka na sudah, ( melihat ke yang bagus, berkaca kepada yang terdahulu ), kita lihat sifat – sifat yang ada pada diri Rasulullah SAW yang dikenal sebagai salah satu sosok pemimpin yang berhasil membawa kemajuan terhadap rangkyat, dan bangsa yang dipimpinnya. Sifat tersebut adalah :

  1. 1.      Rasul memiliki sifat Sidiq ( Benar )

Pemimpin yang diharapkan itu adalah pemimpin yang lurus, benar dalam perbuatan maupun perkataannya, tidak ada yang disembunyikan dari rakyatnya, pemimpin tersebut memiliki kesadaran dilandasi dengan keimanan yang ada di hati, bahwa dia yakin dan percaya bahwa saat ini sedang menjalankan kepercayaan rakyatnya.

  1. 2.      Rasul Memiliki sifat Amanah ( Dapat Dipercaya )

Kunci sukses seorang pemimpin adalah pemimpin yang mampu menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh rakyatnya, yakin bahwa apa yang dipimpin saat ini akan dimintakan pertanggung jawabannya, baik di akhir kepemimpinannya maupun nanti dipengadilan Allah SWT. Jangan khianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat yang  kita pimpin.

  1. 3.      Rasul Memiliki sifat Fathonah ( Cerdas )

Untuk memimpin suatu roda kepemimpinan tentu dibutuhkan orang – orang yang cerdas, memiliki terobosan – terobosan baru terhadap roda kepemimpinan yang sedang dijalankannya, sehingga apa yang dipimpin itu mengalami kemajuan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

  1. 4.      Rasul Memilki sifat Tabligh ( Menyampaikan )  

Ini yang sangat penting sekali bagi seorang pemimpin, menyampaikan apa yang wajib disampaikan kepada rakyatnya dengan penuh kejujuran tampa ada yang disembunyikan, ibarat kata anak muda sekarang Tiada Dusta Diantara Kita

Inilah yang diharapkan kepada pemimpin yang siap mengabdikan diri membantu, serta mewakili rakyat Nusantara ini, sehingga yang namanya kedamaian, ketentraman, dan Kesejahteraan memang dirasakan****

KUMPULAN ARTIKEL KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN PAI SEMESTER VII STAIN BATUSANGKAR 2012

PENERAPAN METODE GALLERY WALK DAN SMALL GROUP DISCUSSION DALAM MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN/MA)

Oleh :

Defri Aldi Mustaqim

e-mail: mustaqim.defrialdi@yahoo.com

Abstrak: Kesuksesan dalam suatu pembelajaran sangat ditentukan oleh pemilihan metode yang tepat, agar peserta didik tidak merasa jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran yang diajarkan. Sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan harapan dan perencanaan.

Kata Kunci: penerapan,metode Gallery walk dan Small group discussion , al-Qur’an hadits, Madrasah.

Pengertian Metode

Metode adalah cara yang teratur dan sistematis untuk pelaksanaan sesuatu; cara kerja.[1] Kata metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu ”metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan.[2]

Dalam bahasa Arab, kata metode diungkakapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata at-Tarikah, Manhaj, dan al-Washilah berarti perantara atau mediator. Dengan demikian, kata arab yang dekat artinya dengan metode adalah at-Tarikah kata kata serupa ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an. Menurut Muhamad Fuad Abd al-Baqy didalam al-Qur’an kata at-Tarikah diulang sebanyak sembilan kali, seperti neraka, sehingga menjadi jalan menuju neraka (Q.S. 4:9); terkadang dihubungkan dari sifat jalan tersebut, seperti at-Tariqah al-Mustaqim, yang diartikan jalan yang lurus (Q.S. 46:30); terkadang dihubungkan dengan jalan yang ada ditempat tertentu, seperti at-Tarikah fi al-Bahry yang berarti jalan (yang kering) di laut (Q.S. 20:77); terkadang dihubungkan dengan akibat dari kepatuhan mematuhi jalan tersebut, seperti pada ayat yang artinya : “dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus diatas jalan itu (Agama Islam) benar benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)”(Q.S. 42:16); dan terkadang at-Tarikah berarti tata surya atau langit, seperti p[ada ayat yang artinya: “dan kami telah menciptakan diataskamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit) ; dan kami tidaklah lengah terhadap ciptaan kami.”(Q.S. 23:17).

Dari kedekatan kebahasaan tersebut nampak bahwa metode lebih menunjukkan kepada jalan, dalam arti jalan yang bersifata non fisik. Yakni jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu pada cara yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada tujuan yang ditentukan.[3]

Menurut Nana Sujjana, metode adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.[4]

Sedangkan menurut Wina Sanjaya, metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata  agar tujuan yang telah disusun tercapai dengan optimal. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangakaian sistem pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangata tergantung kepada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat didimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.[5]

Dari beberapa pengrtian metode diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang didalam fungsinya adalah merupakan alat untuk mencapai tujuan. Sehingga berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai tergantung penggunaan metode yang tepat.

Metode Gallery Walk dan Small Group Discussion

                Gallery Walk terdiri dari dua kata yaitu Gallery dan Walk. Gallery adalah pameran. Pameran merupakan kegiatan untuk memperkenalkan produk, karya atau gagasan kepada khalayak ramai. Misalnya pameran buku, lukisan, tulisan dan lain sebagainya. Sedangkan walk artinya berjalan, melangkah.[6] Sedangkan menurut Silberman, gallery walk atau galeri belajar merupakan suatu metode pembelajaran merupakan suatu cara untuk menilai dan mengingat apa yang telah dipelajari oleh siswa selama ini.[7]berdasarkan uraian tersebut Gallery walk (galeri belajar)merupakan suatu metode pembelajaran yang mampu meningkatakan kemampuan siswa untuk menemukan pengetahuan baru dan dapat mempermudah daya ingat, karena seuatu yang ditemukan itu dilihat secara langsung. Gallery walk (galeri belajar) juga dapat memotivasi kehadiran siswa dalam proses belajar, sebab bila sesuatu yang baru ditemukan berbeda antara satu dengan yang lainnya maka dapat saling mengoreksi antara sesama siswa baik kelompok maupun antar siswa itu sendiri.

            Ada beberapa komponen dalam pemakaian metode Gallery walk. Komponen-komponen tersebut adalah :

  1. Guru, guru yang mengajar harus paham betul dalam menggunakan metode Gallery walk.
  2. Peserta didik, dalam kegiatan belajar mengajar peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda-beda hal ini perlu dipertimbangkan dalam pemakaian metode Gallery walk.
  3. Alat /bahan, bahan yang disisapakan adalah kertas plano dan spidol.

Sebagai mana disebutkan bahwa banyak sekali starategi belajar baru dalam pembelajaran. Dari berbagi strategi baru dalam belajar tersebut, sebenarnyanbisa digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan siosial. Hal ini sebagai usaha dalam pengmbangan dari metode-metode lama yang kadang dianggab kurang banyak melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran.

  1. Langkah-langkah menggunakan metode Gallery walk.

Langkah-langkah penerapan:

  1. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok
  2. Kelompok diberi kertas plano
  3. Tentukan topik/tema pelajaran
  4. Hasil kerja kelompok ditempel didinding
  5. Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain
  6. Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan kelompok lai
  7. Koreksi bersama-sama
  8. Klarifikasi dan penyimpulan.[8]
  9. Kelebihan metode Gallery walk
    1. Siswa terbiasa membangun budaya kerjasama memecahkan masalah dalam belajar.
    2. Terjalin sinergi saling menguatkan pemahaman terhadap tujuan pembelajaran.
    3. Membiasakan sisiwa bersikap menghargai dan mengapresiasi hasil belajar kawannya .
    4. Mengaktifkan fisik dan mental siswa dalam prose pembelajaran.
    5. Membiasakan siswa memberi dan menerima kritik.
  10. Kelemahan metode Gallery walk
    1. Bila anggota kelompok terlalu banyak akan terjadi sebagian siswa menggantungkan kerja kawannya.
    2. Guru perlu ekstra cermat dalam mementau dan menilai keaktifan individu dan kolektif.
    3. Pengaturan seting kelas yang lebih rumit

            Small Group Discussion secara bahasa Small adalah kecil, Group adalah kelompok, dan Discussion adalah kegiatan membincangkan suatu masalah dan menyamakan antar persebsi antara dua orang atau lebih. Jadi Small group discussin adalah mendiskusikan suatu masalah dalam suatu kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang.[9]

Adapun langakah-langkah dalam pelaksanaan metode ini didalam buku Ismail adalah sebagai berikut:

  1. Bagi kelas menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil(maksimal 5 siswa) dengan menunjuk ketua dan sekretaris.
  2. Berikan soal studi kasus (yang dipersiapkan oleh guru) sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
  3. Instruksikan setiap kelompok untuk mendiskusikan jawaban soal tersebut.
  4. Pastiakan setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam diskusi.
  5. Instruksikan setiapa kelompok melalui juru bicara yang ditunjuk menyajikan hasil diskusinya dalam forum kelas.
  6. Klarifikasi, penyimpulan dan tindak lanjut (guru).

Mengingat adanya kelemahan-kelemahan diatas maka guru yang berkehendak menggunakan metode kerja kelompok sebaiknya mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan sistematis terlebi dahulu. Dan dalam hal ini peran guru sebagai pemberi dorongan semangat dan membesarkan hati sangat diperlukan, terutama oleh peserta yang tergolong kurang pintar atau pendiam.

            Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang perubahan perilaku peserta didik.

Untuk meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan agama Islam (al-Qur’an hadits) banyak hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya adalah dalam hal penyampaian materi dari seorang guru terhadab siswa melalui metode tertentu. Tanpa metode,  suatu materi pendidikan tidak dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pengajaran. Oleh karena itu, metode merupakan garis-garis haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.[10]

Sedangkan metode yang digunakan di sekolah dirasakan masih kurang menciptakan suasana kondusif , hal ini menyebabkan siswa secara mentalitas mengnggab bahwa pendidikan agama Islam sbagai pelajaran yang sukar dipahami sehingga siswa kurang bergairah dalam belajar.

Pembelajaran aktif (Aktif Learning) bisa dikatakan sebagai sarana  pembelajaran yang aktif diperlukan partisipasi siswa yang aktif dan terampil. Selain siswa guru juga dituntut untuk menguasai model pembelajaran aktif  dan melaksanakan dikelas, guna membuat siswa belajar menjadi lebih senang dan tidak terbebani dalam belajar.

Dalam belajar seharusnya ada beberapa aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik yang bisa membuatnya lebih aktif diantaranya: 1) Mendengarkan, 2) Memandang, 3) Meraba dan mencium, 4) Menulis atau mencatat, 5) Membaca, 6) Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggaris bawahi, 7) Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan, 8) Menyusun paper atau kertas kerja, 9) Mengingat, 10) Berfikir, 11) Latihan atau praktek.[11] Aktifitas-aktifitas tersebut bisa menuntut keaktifan siswa jika metode yang digunakan guru menuntut adanya umpan balik yang berarti dari siswa, untuk itu guru harus menggunakan metode pembelajaran aktif agar proses pembelajaran menjadi aktif.

Menurut hisyam zaini “pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif”[12], dimana peserta didik yang mendominasi aktifitas pembelajaran dengan cara aktif menggunakan otak, baik menggunakan ide pokok dari materi pembelajaran, memecahkan persoalan maupun mengaplikasikan persoalan dengan kehidupan nyata.

Dari berbagai model Aktif Learning, terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan misalnya: Metode Jigsau Learning, Index Card Match, Team Quiz, The Power of Two & Four , dan Role Play. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Gallery walk dan Small group discussion. Karena, Strategi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk bekerjasama antar siswa kelompok kecil untuk menyampaikan materi yang ada kepada kelompok lain untuk menyampaikan materi yang ada kepada kelompok lain dengan exhibition atau pameran dikelas. Metode  tersebut jarang digunakan oleh Guru Al-Qur’an Hadist, dan kedua metode tersebut dapat dikolaborasiakan secara bersama-sama untuk menciptakan suasan belajar yang menyenangkan (aktif).

Adapun keunggulan metode Gallery walk adalah membangun budaya kerjasama memecahkan masalah, memebiasakan siswa menghargai dan mengapresiasi hasil belajar temannya, membiasakan siswa memberi dan menerima kritik. Dan keunggulan metode small group discussion keterampilan memecahkan masalah terkait materi pokok dan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat zaman dahulu proses pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah yang sudah mendara daging dalam dunia pendidikan, dominasi guru akan suatu materi ajar yang cukup banyak transformasi dari guru kesiswa hanya dengan berbicara dan didengar siswa, membuat siswa menjadi lebih malas dan kurang aktif mencari ilmu padahal seharusnya siswa lebih aktif mencari ilmu, karena hakikat dari siswa dalam bahasa Arab adalah pencari ilmu.

Diharab dalam dalam aktifitas pembelajaran guru tidak hanya menggunakan metode ceramah, karena informasi yang bisa dicernah oleh otak siswa dalam mendengar 20%, membaca 10%, melihat 30%, melihat dan mendengar 50%, mengatakan 70%, dan melakukan 90% hal ini sesuai dengan filosof Cina konfusius bahwa “apa yang saya dengar, saya lupa” “apa yang saya lihat, saya ingat” “apa yang saya lakukan saya paham”.[13]

Kesimpulan

 Untuk meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan agama Islam (al-Qur’an hadits) banyak hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya adalah dalam hal penyampaian materi dari seorang guru terhadab siswa melalui metode tertentu. Tanpa metode,  suatu materi pendidikan tidak dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pengajaran. Oleh karena itu, metode merupakan garis-garis haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.

penggunakan metode Gallery walk dan Small group discussion bisa menjadi solusi dalam membelajarkan al-Qur’an hadits  Karena, Strategi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk bekerjasama antar siswa kelompok kecil untuk menyampaikan materi yang ada kepada kelompok lain dengan exhibition atau pameran dikelas dan juga metode Gallery walk bisa membangun budaya kerjasama memecahkan masalah, membiasakan siswa menghargai dan mengapresiasi hasil belajar temannya, membiasakan siswa memberi dan menerima kritik. Dan keunggulan metode small group discussion keterampilan memecahkan masalah terkait materi pokok dan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

SUMBER BACAAN­

Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-barry.1994. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arloka.

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, jakarta: Bumi Aksara, 1996.

Nana Sujjana.2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru.

H. Abuddin Nata.2005. Filasafat Pendidikan Islam, Ciputat Jakarta Selatan: Gaya Media Pranata.

Wina Sanjaya.2006. Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Persada Media.

Ismail, SM.2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM Semarang: RASAIL Media Group.

Mel Silberman.2006. 101 Aktive Learning Starategi, Yogyakarta, Yapendis.

Rodgers. 2000. Apa Gallery Walk?. http://www .rsu.edu/resorces/diakses 05 Desember 2013

Syaiful bahri  jamarah, et, at.1995. Startegi Belajar Mengajar . Jakarta : Rineka Cipta.

Wasty Soemanto.2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hisyam Zaini, ddk. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif,  (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga.

 


[1]  Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arloka, 1994)., hal. 461

[2]  M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (jakarta: Bumi Aksara, 1996)., hal. 61

[3]  H. Abuddin Nata, Filasafat Pendidikan Islam, (Ciputat Jakarta Selatan: Gaya Media Pranata, 2005), hal.145

[4]  Nana Sujjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 2000), hal. 26

[5]  Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Persada Media), hal. 146

[6]  Ismail, SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Semarang: RASAIL Media Group,2008), hal. 89

[7]  Mel Silberman, 101 Aktive Learning Starategi, (Yogyakarta, Yapendis, 2006), hal. 23

[8]  Rodgers. 2000. Apa Gallery Walk?. http://www .rsu.edu/resorces/diakses 05 desember 2013

[9]  Ismail, SM, Op.Cit., hal ,90

[10]  Syaiful bahri  jamarah, et, at, Startegi Belajar Mengajar . (Jakarta : Rineka Cipta 1995) hal. 5

[11]  Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), h. 107-113

[12] Hisyam Zaini, ddk, Strategi Pembelajaran Aktif,  (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2007), h. xvi

[13] Mel Silberman, Op.Cit., hal 23

 

 

URGENSI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI BUDAYA SEKOLAH

Oleh :

 

Dessy Sartika

10 101 005

Abstrak : Dewasa ini moralitas generasi muda Indonesia, khusunya para pelajar dan mahasiswa sudah menjadi problem umum yang merupakan persoalan yang belum ada jawabannya secara tuntas. Pelajar dan mahasiswa sekarang sangat mudah terpengaruh oleh budaya asing, mudah terprovokasi, cepat marah, pergaulan bebas dengan lawan jenis yang ditunjukkan dengan maraknya seks bebas yang terjadi banyak melibatkan pelajar dan mahasiswa, banyak diantara mereka yang tidak lagi menaruh hormat terhadap guru-gurunya, bahkan tidak hormat terhadap orang tua. Hal ini merupakan gambaran anak bangsa yang terancam keutuhan pribadinya. Melihat Realita yang terjadi diatas, maka sangat logis apabila ada kritik dari masyarakat bahwa selama ini PAI belum berhasil dengan tidak mengatakan “gagal” dalam  membina peserta didik  menjadi insan yang beriman dan bertaqwa serta  berakhlak mulia. Kondisi demikian tentunya sangat berpengaruh pada sistem pendidikan disekolah terlebih di sekolah umum. Jika pengembangan intelektual tidak dibarengi dengan penanaman nilai-nilai  yang diwujudkan dalam pengembangan budaya agama di sekolah., maka tujuan pendidikan nasional tidak akan tercapai dengan baik. Pendidikan Agama Islam, sebenarnya memiliki kawasan yang begitu luas dan strategis dalam membentuk kepribadian anak bangsa. Pengembangan PAI tidak cukup hanya dengan mengembangkan pembelajaran di kelas dalam bentuk peningkatan kualitas dan penambahan jam pembelajaran, tetapi bagaimana mengembangkan PAI melalui budaya sekolah.  Hal ini merupakan langkah strategis dan sangat urgen yang dapat dilakukan sekolah dengan jalan meningkatkan peran-peran kepemimpinan sekolah dan kesadaran warga sekolah untuk perwujudan budaya Religius di sekolah.

Kata kunci : Urgensi, Pengembangan PAI, Budaya Sekolah

Pembahasan:

  1. Pengertian pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai Budaya Sekolah

Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup). Pendidikan agama memiliki peran dalam melakukan transformasi religuitas pada siswa. Tujuan pendidikan agama sejatinya bukanlah sekedar mentransfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan lebih merupakan sebuah ikhtiar menumbuhkembangkan fitrah insani. Berfikir mengenai pengembangan mengajak seseorang untuk berfikir kreatif dan inovatif  dalam melakukan perubahan sebagai akibat dari keprihatian terhadap suatu kondisi. Pengembangan pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah berarti bagaimana mengembangkan PAI di sekolah, baik secara kuantitatif maupun kualitatif diposisikan sebagai pijkan nilai,semangat, sikap dan perilaku bagi para actor sekolah seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, tenaga kependidikan dan seluruh warga sekolah.

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pempelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Selanjutnya pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Pendidikan Agama Islam baik pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah antara lain bertujuan mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan social serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah (Permen Diknas, Nomor 22 tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Isi terutama pada lampiran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PAI. Dengan demikian, upaya pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah telah memperoleh legalitas yang kuat.

Pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah merupakan sebuah alternatif  untuk mengimplementasikan eksistensi dari nilai-nilai ajaran Islam yang secara konseptual tertuang dalam mata pelajaran PAI di sekolah dasar dan menengah. Karena menurut Nurkhalis Majid bahwa kegagalan Pendidikan Agama Islam disebabakan pembelajaran PAI lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya. Proses belajar mengajar diakui selama ini masih mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan, padahal yang diperlukan lebih pada suasana keagamaan.

Berbicara tentang budaya sekolah mengajak seseorang untuk mendudukkan sekolah sebagai suatu organisasi yang didalamnya terdapat individu-individu yang memiliki hubungan  dan tujuan bersama. Tujuan ini tentunya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu atau memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan. Budaya sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai, keyakinan, asumsi, pemahaman dan harapan-harapan yang diyakini oleh warga sekolah serta dijadikan pedoman berperilaku bagi seluruh warga sekolah. Budaya sekolah akan menjadi sebuah ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.Budaya sekolah mempunyai dampak yang kuat terhadap prestasi kerja. Jika prestasi kerja yang diakibatkan oleh terciptanya budaya sekolah yang bertolak dari ajaran dan nilai-nilai Islam, maka akan bernilai ganda, yaitu di satu pihak sekolah itu sendiri akan memiliki keunggulan dengan tetap menjaga nilai-nilai agama sebagai akar budaya bangsa. Di lain pihak, para pelaku sekolah seperti kepala sekolah, guru, peserta didik dan tenaga kependidikan lainnya telah mengamalkan nilai-nilai Ilahiyah, Ubudiyah dan muamalah, sehingga memperoleh pahala yang berlipat ganda dan memiliki efek terhadap kehidupannya di akhirat.

  1. Strategi pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai Budaya Sekolah

Pendidikan agama sebagai salah satu kegiatan untuk membangun pondasi imtaq yang kokoh ternyata belum berjalan secara maksimal. Kekurangberhasilan pendidikan agama di sekolah secara khusus dan masyarakat secara umum adalah masih melebarnya jurang pemisah antara pemahaman agama masyarakat yang belum dibarengi dengan perilaku agama yang diharapkan. Indicator yang sangat nyata adalah semakin banyaknya para pelajar yang terlibat dalam tindakan yang tidak diinginkan dan bertentangan dengan ajaran agama yang diajarkan.

Sementara sebagian masyarakat menganggap bahwa terjadinya kasus-kasus tersebut disebabkan karena kegagalan Pendidikan Agama Islam di sekolah. Kurang efektifnya pendidikan agama seperti yang berjalan saat ini, pada gilirannya akan menimbulkan kekhawatiran terhadap mentalitas anak bangsa pada masa yang akan datang. Bahkan kekhawatiran ini telah menjadi fakta social pada saat sekarang, yaitu bobroknya moralitas anak bangsa yang notabenenya adalah kaum intelek dari sebuah lembaga pendidikan seperti praktik KKN yang menjamur dikalangan pemerintah, tawuran antar pelajar dan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya.  Untuk menjawab kekhawatiran ini, sekolah harus mampu memberikan pencerahan spiritual dengan cara mengembangkan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah.

Komitmen dan dukungan dari seluruh warga sekolah terhadap upaya pengembangan PAI sebagai budaya sekolah merupakan  kunci keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Karena itu terjadi perubahan paradigma pendidikan agama di sekolah, yaitu bahwa pendidikan agama bukan hanya menjadi tugas guru agama saja, tetapi merupakan tugas bersama antara kepala sekolah, guru agama, guru umum, seluruh aparat sekolah dan orang tua murid. Memahami perubahan paradigma ini harus bersifat ekstra hati-hati agar tidak terjadi missunderstanding (salah pengertian). Adanya paradigma tersebut bukan berarti guru-guru matematika, IPA, IPS atau lainnya dituntut untuk mengajarkan sifat-sifat wajib Allah, asmaul Husna, bab thaharah, sholat, aqidah, nikah, mengajarkan tafsir atau hadis dan lain-lainnya untuk bagi-bagi tugas. Guru matematika, IPA, IPS dan lain-lainnya tetap pada posisi dan proporsinya sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Tetapi sejalan dengan pengertian pendidikan, sebagaimana terkandung dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 1, maka setiap guru dan warga sekolah memiliki kewajiban untuk mengembangkan kekuatan spiritual keagamaan, dan menciptakan suasana belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Upaya ini dapat dilakukan oleh guru melalui pengintegrasian imtak dengan materi pelajaran, proses pembelajaran, dalam memilih bahan ajar serta memilih media pembelajaran dan semua warga sekolah memiliki kewajiban untuk mengembangkan komitmennya masing-masing bagi terwujudnya nilai-nilai agama dan akhlak mulia di sekolah.

Kepala sekolah dalam hal diatas memiliki peran sentral dalam membawa keberhasilan lembaga pendidikan. Kepala sekolah berperan memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi, memotivasi kerja, mengemudikan lembaga, menjalin jaringan komunikasi yang baik, dengan komunitas sekolah, lingkungan sekitar dan yang lainnya. Peran kepemimpinan dalam mengembangan nilai-nilai agama sebagai budaya sekolah sangat penting. Karena sebuah lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemimpin yang berkomitmen serta berwawasan luas, memahami dan berjiwa Islami, maka akan berjalan dengan tertib dan dinamis. Dan  idealnya, seluruh warga komunitas sekolah diharapkan untuk selalu menginternalisasikan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari yang diwujudkan dalam penerapan akhlak terpuji sebagai pengembangan budaya agama di komunitas warga sekolah.

Uraian tersebut diatas menggarisbawahi perlunya pembinaan perilaku dan mentalitas yang tidak hanya mengandalkan pada jam-jam belajar pendidikan agama, tetapi juga harus didukung oleh pembudayaan agama dalam komunitas sekolah. Pembudayaan pendidikan agama harus dimaknai secara luas, bukan hanya sebatas melaksanakan shalat berjama’ah dan membaca Al-Qur’an.  Tetapi dapat diwujudkan juga dalam budaya 3S (senyum, salam, sapa), etos kerja, tertib, disiplin, jujur, adil, toleran, simapti, empati, membuang sampah pada tempatnya, kebersihan dan keindahan lingkungan, tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut sesungguhnya telah tertata rapi dalam ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan mewujudkan budaya diatas, berarti warga sekolah telah menghidupkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam itu sendiri.

Muhaimin dalam bukunnya yang berjudul “Rekonstruksi Pendidikan Islam” menjelaskan bahwa langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membudayakan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut; pengenalan nilai-nilai agama secara kognitif, penghayatan nilai-nilai agama secara afektif, dan pembentukan tekad secara konatif.  Inilah trilogy klasik pendidikan yang disebut oleh Ki Dewantara Hajar  dengan istilah “cipta, rasa dan karsa” atau tiga ngo (bahasa jawa), yaitu ngerti (mengerti), ngerasakno (merasakan atau menghayati), dan ngelakoni (mengamalkan). Dengan analisis ini, Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah membimbing peserta didik untuk secara sukarela mengikat diri pada ajaran dan nilai-nilai Islam.

Pengembangan PAI sebagai budaya sekolah tidak bisa dilepaskan dari peran para penggerak kehidupan keagamaan di sekolah tersebut yang berusaha melakukan aksi pembudayaan agama di sekolah. Strategi pengembangan budaya agama dalam komunitas sekolah , meniscayakan adanya upaya pengembangan dalam tiga tataran, yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian dan tataran symbol-simbol budaya.

Pada tataran nilai yang dianut , perlu dirumuskan secara bersama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan disekolah, selanjutnya dibangun komitmen dan loyalitas bersama diantara semua warga sekolah terhadap nilai-nilai yang disepakati. Nilai-nilai tersebut ada yang bersifat vertical dan horizontal. Yang vertical berwujud dalamj hubungan warga sekolah denga Allah (habl min Allah) dan hubungan warga sekolah dengan sesamanya (habl min an-nas) dan dengan lingkungan sekitar.

Dalam tataran praktik keseharian, nilai-nilai keagamaan yang telah disepakati tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku keseharian oleh semua warga sekolah. Dan dalam tataran simbol-simbol budaya, pengembangan yang perlu dilakukan adalah mengganti simbol-simbol yang kurang sejalan dengan ajaran dan nilai-nilai agama dengan simbol budaya yang agamais. Perubahan simbol dapat dilakukan dengan mengubah model berpakaian dengan  prinsip menutup aurat, pemasangan hasil karya peserta didik, foto-foto dan motto yang mengandung pesan-pesan nilai-nilai keagamaan dan lain-lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai budaya sekolah yang utama adalah menggunakan power strategy, yakni strategi pembudayaan agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaan atau melalui people’s power, dalam hal ini peran kepala sekolah dengan segala kekuasaannya sangat dominan dalam melakukan perubahan. Strategi ini dapat dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau reward and punishment. Selanjutnya dikembangkan melalui pembiasaan dan keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan dalam proses pembelajaran maupun diluar jam pelajaran yang dilakukan secara berkesinambunagn dan penuh komitmen dari seluruh warga sekolah hingga akhirnya terbentuk kesadaran diri (self awareness) pada peserta didik.

Penutup:

Pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah memiliki landasan yang kokoh, baik secara normative religious maupun konstitusional, sehingga tidak ada alasan bagi sekolah untuk mengelak dari upaya tersebut, apalagi saat ini bangsa Indonesia dilanda krisis multidimensional yang intinya terletak pada krisis akhlak atau moral. Dengan mengembangkan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah, maka akan menjadi sebuah solusi yang tepat dalam memecahkan problem dekadensi moral dan menggiring generasi muda untuk memiliki karakter dan kepribadian yang baik. Karena pada dasarnya Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten, tetapi sampai memiliki will dan kebiasaan (habit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) kurang  membangun  jika hanya dijadikan sebagi sebuah mata pelajaran pada jam-jam tertentu, maka dari itu diperlukan sebuah upaya keras dari seluruh komunitas sekolah untuk mengembangkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah. Dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai objek sentral sangat urgen untuk mempengaruhi, mengkoordinir, dan menggerakkan semua warga sekolah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Sumber Bacaan :

Muhaimin, (2009), Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Hendiyati Sutopo (1984), Kepemimpian dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : Bima Aksara

UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No.47 tahun 2008 tentang wajib belajar

Permendiknas no.20 pada tanggal 23 Mei 2006

STRATEGI PENANAMAN NILAI-NILAI PAI DALAM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Di ERAGLOBALISASI

Oleh :

KHAIRUNNISA

09 101 049

Abstrak : Dalam Menanamkan nilai-nilai PAI dalam pengembangan Sumber Daya Manusia Di Eraglobalisasi diperlukan sebuah Strategi. Agar nilai-nilai PAI dalam pengembangan SDM tersebut dimasa Eraglobalisasi tercapai dengan sebagai mana mestinya dan sesuai dengan harapan yang dinginkan.

Kata Kunci  :  Penanaman Nilai-nilai PAI, Eraglobalisasi

Transisi Kebudayaan

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolohgi dewasa ini telah mempercepat berubahnya nilai-nilai sosial yang membawa dampak positif dan negatif terhadap petrumbu8han bangasa kita ( Indonesia), terutama kehidupan keluarga.

Dampak positifnya adalah bertambahnya kecepatan dan peningkatan berfikir didalam berbagai bidang, dan terjadi perubahan pola hidup yang lebih efesien dan pragmatis. Dampak negatifnya adalah bahwa masyarakat mengalami kesulitan dalam memahami dan merencanakan perkembangan yang begitu cepat diberbagai bidang tersebut, sehingga terjadi benturan berbagai kecenderungan dengan nilai-nilai sosial yang membawa dampak positif dan negatif terhadap pertumbuhan bangsa kita ( Indonesia), terutama kehidupan keluarga.

Dampak positifnya adalah bertambahnya kecepatan dan peningkatan tingkat berfikir di dalam berbagai bidang, dan terjadi perubahan pola hidup yang lebih efesien dan pragmatis. Dampak negatifnya adalah bahwa masyarakat mengalami kesulitan dalam memahami dan merencanakan perkembangan yang begitu cepat diberbagai tersebut, sehingga benturan berbagai kecenderungan dangan nilai-nilai luhur bangsa kita.

Globalisasi yang termanifestasikan dalam strukturnya melibtakan semua jaringan dengan tatanan yang seragam dalam pola hubungan yang sifatnya penetratif, rasional, dan pragmatis (Conny R. Semiawan, 2002) dalam berbagai kehidupan kita terutama dalam dimensi ekonomi dan budaya.

Konsekuensinya adalah bahwa didalam berbagai penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM), kita harus realistik, karena globalisasi menjadi tantangan yang terkait dengan daya saing dan prakarsa, yaitu kemampuan-kemampuan yang belum menjadi ciri budaya kita, yang amat mementingkan keselarasan, keseimbangan dan keserasian.

Perdaban dunia yang mengalami berbagai transisi dari era pertanian industri dan era informasi, menampakkan diri secara simultan dan era informasi, menampakkan diri secara simultan pada layar kehidupan bangsa Indonesia, yang berdampak terhadap  keseluruhan kehidupan bangsa Indonesia, yang berdampak terhadap keseluruhan masyarakat dan sistem pendidikan kita.

Sebelum kita soroti kondisi masyarakat yang dipersyaratkan dalam lingkungan persaingan global, dalam kaitan dengan kemampuan individual yang dipersyaratkan dan yang harus ditempa oleh pendidikan formal dan pendidikan informal atau pendidikan keluarga, sebaiknya harus dipahami pemenuhan kebetuhan manusia.

Sebagaimana sudah menjadi pengatuahn umum, menurut Maslow (1972), kebutuhan manusia akan sandang, pangan dan papan, yang merupakan kebutuhan primer, kebutuhan kasih sayang, rasa aman, serta perhatian untuk menumbuhkan harga diri (self esteem), dan kebutuhan untuk menumbuhkan diri atau mengaktualisasikan diri. Manusia yang tumbuh kembang dalam kehidupan keluarga sebagai unit terkecil di dalam kehidupan masyarakat, merupakan sumber daya manusia yang paling esensial bagi pembangunan bangsa, nahkan pembangunan bangsa itu sendiri bersumber dari keluarga.

Namun, tugas masyarakat yang teroantul dalam kehidupan keluarga bukan merupakan suatu aktivitas yang menghadapi sehelai kertas putih bersih. Anak manusia adalah seorang makhluk manusia yang meskipun bersumber dari suatu struktur sosial, adalah seorang individu yang menghayati eksistensi sosialnya secara aktif dan eksploratif. Bahkan secara genetik setiap manusia memiliki azas ingin menjadi seseorang yang mempunyai kekhasan sendiri dan memiliki daya kreatif untuk mewujudkannya.

Paradigma Baru Kehidupan Keluarga

Seperti yang telah dikemukakan, proses globalisasi mengakibatkan rektrukturisasi dunia, disertai banjirnya informasi. Banjirnya informasi yang melanda dunia, berdampak terhadap kehidupan nyata. Kita adalah bagian dari masyarakat informasi (information based society). Apa artinya to be a part of an information based society. Kompetensi apa yang dipersyaratkan untuk dapat bertahan dan menekankan diri dalam masyarakat seperti itu.

Informasi based society ini memberikan peluang berpartisipasi (paarticipation opportunitities) untuk berproduksi antar individu, sehingga dapat berkonstribusi terhadap perkembangan keuarga, masyarakat dan bangsa. Hal ini bukan saja mencakup kesempatan bersekolah, melainkan juga bekerja, terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan politik serta melindungi lingkungannya (levinger, 1996).

Peluang berpatisipasi juga memiliki rentangan perangkat dan situasi yang dari satu keluarga dengan keluarga lain, dan dari daerah yang satu dengan yang lain, serta dari satu tempet dan lembaga dengan tempat dan lembaga lain.

Kemampuan Manusia yang dipersyaratkan

Perkembangan kemampuan manusia (human capacity development) adalah hasil interaksi antara individu dan masyarakat yang memiliki peluang berpastisipasi.perkembangan kemampuan manusia terkait erat dengan peluang berpartisipasi karena mewakili perangkat masukan (set of inputs)  yang menumbuh kembangkan kemampuam tersebut. Keluaran (output) perkembangan kemampuan manusia daoat diartikan sebagai keseluruhan peluang paertisipasi yang dapat diraih oleh individu dan masyarakat, bahkan dapat menciptakan peluang partisipasi baru yang bersifat bermakna bagi seseorang yang terkait  secara khusus dengan konteks tertentu (context specific) dan berarti meningkatkan pemberdayaannya.

Untuk pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat terus-menerus mempengaruhi situasi, neakin meluas dan tidak lengkap. Karena kondisi yang berubah secara terus-menerus, bukan saja diperlukan pemahaman, tetapi tindakan dan refleksibilitas, keterbuakaan, berfikir kreatif, berfikir kritis, “dexterity” yang bersifat kompleks, dan terkait dengan media informasi yang makin canggih memiliki kepekaan dan kemampuan mengidentifikasi dan mengatasi masalah serta kerjasama dalam interaksi kemanusiaan. Perilaku dan sifat-sifat tersebut tidak semuanya diperoleh di sekolah, melainkan sebagian diperoleh dari tugas rumah dan tugas keluarga.

Arus Globalisasi Dan Dampaknya Terhadap  Kehidupan Keluarga

Beralihnya masyarakat kita dari peradaban agraris ke peradaban mesin, industri dan informatika, mempengaruhi kehidupan. Akibatnya dari berbagai perubahan yang cepat sebagai peningkatan IPTEK mempunyai dampak terhadap seluruh dimensi dan berbagai nilai kehidupan.

Berbagai kecenderungan kehidupan yang menjadi nyata di beberapa tempat di dunia ini telah dikaji oleh beberapa penulis Naisbit, et, al, dalam Jacob, T, 1991). Kehidupan di Indonesia tidak dapat dilihat terlepas dari teresponnya negara kita terhadap arus globalisasi dalam berbagai bidang, teknologi, sosial, ekonomi dan juga gaya hidup.

Untuk maju dan bersaing dalam petumbuhan ilmu dan teknologi, negara-negara yang sedang berkembang berlomba dalam pembangunan. Hasil kemajuan diukur pada hal-hal yang dapat diukur, misalnya benda, barang serta jumlah daan percepatan membuatnya (Jacob, T, 1991, dalam Semiawan, 1994). Hal tersebut berdampak terhadap nilai0nilai kehidupan. Nilai-nilai to be yang merupakan pancaran kehidupan kejiwaan yang mendalam, terutama bersumber dari kehidupan religius keluarga, terus-menerus bertarung dengan nilai-nilai to have, yaitu hidup serba benda prestise lahiriah. Ciri materialsme dalam gaya hidup ini berkembang terus sejajar dengan ketidakpuasan manusia. Ada yang terus menumpuk hartanya karena harus mengejar ketinggalan pada masa lalu atau karena “ gengsi” sehingga cenderung memiliki berbagai benda, seperti: mobil lux dan berbagai barang lux lainnya yang tidak diperlukan, namun yang dapat mengangkat “gengsinya” dan dianggap odentik dengan kehidupan modern. Padahal, gaya hidup seperti itu dianggap dampak negatif dari modernisasi.

Dampak negatif terdebut terkait dengan makin kuatnya gema penonjolan materialisme yang tidak dapat dilihat terlepas dari eksistensi individu dengan sering mengecilkan fungsi keluarga. Keinginan untuk maju, berpacu dengan gaya yang terpancar dari kecenderungan (to have), juga dikarenakan keberhasilan seseorang yang sering diukur dari segi lahiriah, ciri individualisme dan materialisme makin tampak. Hal sering ditambah pula dengan kurang adanya waktu mencerna rangkaian kejadian yang begitu cepat terjadi, sehingga kurang adanya pemahaman terhadap maknanya.

Tanpa memperkecil peranan proses demokrasi individu, keberhasilan, demokrasi tersebut sebenarnya bersumber dari kekuatan fungsi keluarga dan kehidupam spritualnya, terutama untuk mencegah kerakusan manusia untuk makin memiliki.

Pembangunan Sumber Daya Manusia dapat dilihat dari dua sisi. Yakni sisi internal dan sisi eksternal. Dari sisi internal sumber daya manusia dapat diartikan sebagai upaya mewujudkan situasi, komdisi, sarana prasarana, sistem, dan lain sebagainya yang emungkinkan seluruh potensi yang terdapat dalam diri manusia dapat diberdyakan sesuai dengan cita-cita dan keinginan manusia itu sendiri. Potensi yang ada dalam diri manusia itu meliputi potensi fisik, intelektual, emosional, spiritual, dan sosial , dan ada pula yang menyebutkannya sebagai dimensi kefitrahan, keindividualan, kesosialan, kesusialaan, dan kebergamaan. Kelima dimensi tersebut merupakan satu kesatuan, saling terkait dan berpengaruh kelima hal tersebut pada dasarnya menyatu, berdinamika dan bersinergi sejak awal kejadian individu, dalam perkembangan dirinya dari waktu ke waktu, sampai akhir kehidupannya. Kelimanya menuju kepada perkembangan individu menjadi manusia seutuhnya. Untuk memungkinkan perkembangan individu kearah yang dimaksudkan itu, manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan yang dalam hal ini disebut dengan pancadaya, yaitu daya takwa, daya cipta, daya karsa, dan daya karya.

Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal, fikiran,fungsi kecerdasan dan fungsi otak.

Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau serin g disebut dengan unsur afektif. Hal-hal yang terkait denga suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam rasa .

Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu, secara dinamis  bergerak dari satu posisi ke posisi lain, baik dalam arti psikis maupun keseluruhan diri. Kemampuan atau keinginan berbuat atau will, dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa.daya karsa ini mengalirkan individu untuk mengaktifkan dirinya, untuk berkembang, untuk berubah dan keluar dari kondisi status quo.

Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk nyata yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri, orang lain dan atau lingkungan.

Pembangunan sumber daya manusia dari segi internal dapat pula diartikan sebagai upaya membangun seluruh kecerdasan emosi, kecerdasn, spritual, kecedasan sosial, kecerdasn logika matematika, spasial, musik, kinestetik jasmaniah, interpersonal, intrapersonal, dan naturalisasi.

Di dalam Undang-Undang Bomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dinyatakan, bahwa pembangunan sumber daya manusia adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perdaban bangsa-bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu pengetahuan, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam pembangunan sumber daya manusia yang bertolak dari sisi internal ini melihat bahwa peserta didik adalah subjek yang merdeka dan memiliki berbagai potensi yang luar biasa besarnya, yang apabila potensi ini diaktualisasikan, dinampakan, atau diberdayakan, maka akan menjadi sesuatu yang bermanfaat baik bagi yang bersangkutan maupun bagi masyarakat sekitarnya. Selanjutnya pembangunan sumber daya manusia dari segi eksternal adalah upaya memberikan ilmu pengetahuan, wawasan, keterampilan, pengalama, nilai-nilai dan sebaigainya. Pembangunan sumber daya manusia dari segi eksternal ini, menempatkan manusia sebagai objek yang tunduk sepenuhnya tundik kepada pengaruh yang datang dari luar. Pembangunan manusia yang demikian itu selanjutnya memberikan kebebasan kepada pemegang kebijakan atau kelompok-kelompok yang sosial yang berpengaruh di masyarakat.

Idealnya pembangunan sumber daya manusia harus memadukan kepentingan internal dan eksternal, yakni disamping untuk memberdayakan manusia bagi kepribadian pasar, juga dalam rangka membangun manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berkarakter, dan berkerpribadian mulia. Dengan demikian ruang lingkup pembangunan SDM tersebut tidak hanya menekankan segi kognitif, keterampilan dan kemampuan menguasai teknologi, melainkan juga menekankan kecerdasan spritual, emosional, sosial, estetika, dan sebagainya, akan dapat dilahirkan manusia seutuhnya. Dengan kata lain, bahwa arah pembangunan SDM agar ditujukan pada pembangunan kualitas SDM secara komprehensif,meliputi aspek kepribadian, dan sikap mental, penguasaan ilmu dan teknologi,serta profesional dan kompetensi yang kesemuanya dijiwai oleh nilai-nilai religius sesuai dengan agamanya. Dengan kata lain, pembangunan SDM harus meliputi pengembangan kecerdasan akal / Intelegent Question (IQ), kecerdasan sosial/ Emotional Qustion (EQ), kecerdasan spritual / Spritual Question (SQ), dan kecerdasan-kecerdasan lainnya secra seimbang.

Sumber Daya Manusia (SDM) menurut ( Abuddin Nata, 2012)  merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, uakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini terabaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efesiensi dan daya saing dalam duniab usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasioanl akan terjadi persaingan antar- ngara. Indonesia dalam kancah global menemukan World Compettitiveness Report  meliputi urutan ke-54 atau terendah dari seluruh dari negara yang telah diteliti, dibawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filiphina ( 38), dan Thailand ( 40).

Terkait dengan kondisi SDM, ada dua masalah yang terkait, Pertama, adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. Kedua, adanya tingkat pendidikan angkatan kerja yang masih relatif rendah. Struktur angkatan kerja di Indonesia masih di dominasi pendidikan dasar, yaitunya sekitar 63,2 %. Sementara disisi lain, jumlah angkata kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 dan ada sekitar 1,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Terjdainya pengangguran tersebut antara lain disebabkan karena tendahnya SDM di Indonesia, sebagai akibat dari kurangnya penguasaan Iptek. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disintegrasiakan dengan tuntutan kompetensi. Oleh karena itu, dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitsa SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus dikedepankan.

IMPLIKASI

Peningkatan oeranan keluarga serta pemberdayaan dalam mendidik anak menghadapi masa depan, terkait dengan suatu strategi yang mengacu kepada hubungan ayah dan ibu, sebab pendidikan anak tersebut berada di tangan kedua orang tuanya. Adalah kewajiban setiap orang tua dalam proses pendidikan tersebut mengembangkan potensi anak didiknya, yang banyak tergantung dari suasana pendidikan yang bersumber dari suasana keluarga dan tetangga, serta iklim pergaulan dan kehidupan spritual antara orang tua dan anak bagaimana tugas tersebut diwujudkan.

Bila kehidupan keluarga disesuaikan kepada tuntutan masa depan, yang mengandung kondisi persyaratan untuk mampu membawa perubahan pada masyarakat kita, dalam upaya memperbaiki kondisi kehidupan sebagaimana menjadi tuntutan zaman, maka seyogyanya ada wawasan untuk memiliki cita-cita, sasaran-sasaran jangaka panjang dan jangka pendek untuk dicapai. Meskipun sasaran-sasaran tersebut besrfiat pragmatis, namun makna  hidup yang berkenaan dengan interdependensi global dan martabat manusia yang sifatnya interhuman yang harus dipahami. Dalam mewujudkan diri untuk mencapai sasaran tersebut seseorang akan sekaligus belajar bertanggung jawab dan belajar menuntaskan apa yang ingin dicapainya, dan hal tersebut akan berdampak terhadap kehidupan keluarganya.

Seluruh kehidupan keluarga yang secara bertanggung jawab mampu menghadapi dan menangani masalah dengan kompleksitas kehidupan yang terus-menerus berubah karena peningkatan teknologi dan perubahan nilai-nilai sosio-kultural, berarti berada dalam setting kehidupan untuk menjadikan benak (theur mind) anggotanya terlatih, mengelola dan mengatur masalah-masalah yang belum terpecahkan di dalam kehidupan. Ini sekaligus dapat disertai dengan menjalin kepentingan keluarga tersebut dalam kepentingan lingkungannya. Usaha semacam ini nukan hanya tugas masyarakat dan pemertintah, namun juga tugas rumah, yaitu tugas keluarga, karena setiap kejadian kehidupan menuntut pilihan untuk dihadapi.

Pilihan terhadap kehidan kritis dalam kehidupan inilah yang harus diwujudkan menjadi kemampuan membedakan yang baik dan benar. Meskipun tidak ada yang jelek dan salah 100% dan benar 100%, anak manusia wanita maupun pria harus mampu dilandasi pengertian bahwa martabatnya ditentukan dengan dan oleh adanya manusia yang lain. Ayah dan ibu sebagai pendidik anak bertugas untuk terus-menerus mengamati dan berupaya meneladani perilaku yang baik dalam menjalankan tugasnya. Upaya-upaya tersebut akan mengarahkan anak  dan seluruh keluarga menyadari tujuan hidupnya, menyadari apa yang diharapkan oleh lingkungannya, dengan menumbuhkan cara-cara memainkan peran dalam meletakkan aspirasi dalam cita-cita bangsanya, dengan demikian meningkatkan kualitas SDM.

Pemberdayaan keluarga bertolak dari paradigma ini, dilandasi oleh dua kutub eksisitensi, yaitu individu dan sosial. Masing-masing memiliki dorongan untuk mencipta, berkembang memberdayakan diri pada suatu pihak, dan pada pihak lain dorongan untuk mencipta, berkembang memberdayakan diri pada suatu pihak, dan meletakkan kepentingan dalam kepentingan kehidupan umum lingkungannya.

Daftar Pustaka

Jacob, t, 1991. Masa depan: Mempelajari, Menyonsong dan Mengubahnya. Yogyakarta Balai Pustaka

Maslow, A.H. 1972. The Further Reacbes of Human Nature, New York: The Viking Press.

Semiawan, C. 1994. Linking Educational Attainment and Job Requirement. Bandung : Internasional Conference on Education in Asia And The Pasific. ARAVEG

Abuddin Nata, 2012. Kapita Selekta Pedidikan Islam Isu-isu Kontemporer tentang Pendidikan Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

PEMBELAJARAN KOOPERATIF MELALUI PEMANFAATAN METODE PRACTICE REHEARSAL PAIRS DAN METODE DRILL DI SEKOLAH/MADRASAH

 

Oleh :

Maizul fajri

e-mail: maizulfajri@gmail.com

Abstrak: seorang guru harus mampu memanfaatkan berbagai metode salah satunya yaitu metode practice rehearsal pairs dan metode drill di dalam proses pembelajaran di sebuah sekolah atau madrasah. Di dalam memanfaatkan suatu metode harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, sehingga dengan memenfaatkan berbagai metode tersebut akan terciptanya suasana belajar yang menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, metode practice rehearsal pairs dan metode drill, hasil belajar.

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai falsafat mengenai tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Peserta didik bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak mengarahkan kelompok ke arah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-bentuk assesment oleh sesama peserta didik digunakan untuk melihat hasil prosesnya.

Pebelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Jadi pada hakikatnya pembelajaran kalaboratif dan kooperatif dua hal yang saling kontinum artinya antara kedua pembelajaran tersebut saling keterkaitan antara satu dengan yang lainnnya.

Dukungan teori kontrukvitisme sosial Vygotsky telah meletakkan arti penting model pembelajaran kooperatif. Kontruktivisme sosial Vygitsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Peserta didik berada dalam konteks sosiohistoris. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman. Dengan cara ini, pengalaman dalam konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk perkembangan pemikiran peserta didik. Dari Piaget ke Vygotsky ada pergeseran konseptual dari individu ke kooperatif, interaksi sosial, dan aktivitas sosiokultural.

Dalam pendekatan konstruktivis Piaget, Peserta didik mengkonstruksi pengetahuan dengan mentranformasikan, mengorganisasikan, mengorganisasikan pengetahuan dan informasi sebelumnya. Vygotsky menekankan peserta didik mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keberagaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Untuk mecapai hasil belajar itu model pembelajaran kooperatif menuntut kerja sama dan interdependensi peserta didik dalam struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward-nya.

Salah satu aksentuasi model pembelajaran kooperatif adalah interaksi kelompok. Interaksi kelompok merupakan interaksi interpersonal (intraksi antar anggota). Interaksi kelompok dalam pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkankan intelegensi interpersonal.

Adapun Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif adalah sebagai berikut:

Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajarn kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif.

Model pembelajaran kooporatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan: (1) memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama,  (2) pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai. Disamping itu Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif yaitu:

Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok dapat dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yaitu:

  1. Saling ketergantungan positif.
  2. Tanggung jawab perseorangan.
  3. Interaksi promotif.
  4. Komunikasi anatarangggota.
  5. Pemprosesan kelompok.

Metode Practice Rehearsal Pairs Dan Metode Drill  

Pendidikan merupakan suatu sarana untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi atau kemampuan yang dimiliki peserta didik. Kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik tanpa diarahkan dan dikembangkan akan tetap terpendam dan tidak terealisasi secara optimal. Tanpa pendidikan didalam kehidupan maka peradaban manusia tidak akan mengalami kemajuan. Hal ini disebabkan karena majunya pendidikan suatu bangsa akan membawa bangsa itu pada keadaan yang lebih baik.

Didalam undang-undang no.23 tahun 2003 tentang Sisdiknas dinyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mngembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan undang-undang diatas maka dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting didalam kehidupan manusia, karena dengan pendidikan manusia dapat dibimbing, dididik, dilatih, dan diarahkan menjadi manusia yang berguna bagi Bangsa dan Negara serta Agama. Didalam proses pendidikan, belajar sangat penting sekali. Oleh sebab itu setiap pendidikan pasti ada proses pembelajaran, karena belajar merupakan kunci paling utama dalam setiap kegiatan pendidikan. Tanpa adanya belajar bisa dikatakan tidak pernah ada pendidikan.

Kegiatan belajar tidak akan terlepas dari proses kehidupan manusia. Dengan belajar manusia dapat mengetahui disekitarnya dan dapat pula memanfaatkannya didalam kehidupan sehari-hari. Didalam mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut tidak kenang waktu, usia, dan tempat. Kita bisa belajar untuk mendapatkan ilmu dilembaga pendidikan formal, seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan perguruan tinggi. Disamping itu kita juga bisa juga mendapatkan ilmu melalui lembaga nonformal, seperti pengajian, ceramah, diskusi dan lain-lain. Agar tujuan pendidikan yang telah direncanakan dapat tercapai salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menggunakan metode di dalam proses pembelajaran.

Seorang guru mempunyai peranan penting didalam proses pembelajaran, karena metode, media yang digunakan, pengelolaan kelas dan keadaan peserta didik sepenuhnya tergantung kepada peserta didik tersebut. Oleh sebab itu seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas dan kecakapan yang diperlukan dalam menjalakan tugasnya. Didalam pembelajaran sebaiknya guru atau pendidik menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran sehingga metode tersebut dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam hal ini Imansjah Alipandie seorang ahli pendidikan mengatakan bahwa “seorang guru yang sangat miskin penguasaan metode atau teknik pengajarannya maka tidak akan mencapai tujuan pengajaran sebagaimana yang diharapkan, sekaligus akan merugikan dirinya dan juga peserta didik.

Di dalam pembelajaran metode mempunyai andil yang cukup besar sekali, kemampuan yang dimiliki guru diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik dan juga akan ditentukan kerelevansian penggunaan suatu metode dengan tujuan pembelajaran.

Menggunakan berbagai metode pembelajaran agar proses pembelajaran tidak membosankan dan dapat merespon perhatian peserta didik. Seorang guru seharusnya menggunakan metode pembelajaran yang berfariasi, bila pengguanaan tidak tepat dengan situasi yang tidak mendukung, maka tujuan pembelajaran dan pendidikan tidaka akan tercapai sebagaimana yang diharapkan. Didalam hal ini potensi guru diperlukan didalam memilih metode yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan metode tidak selalu menguntungkan bila guru mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaannya.

Guru di sekolah merupakan figur atau tokoh utama yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh memberikan kemampuan dasar tentang pendidikan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Menurut Al-Ghazali dalam buku Bukhari Umar tugas guru yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Meningkatkan kualitas belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar merupakan tanggung jawab guru, karena guru dengan kegiatan mengajarnya adalah membimbing aktivitas belajar siswa secara optimal. Hasil dari pengajaran guru yang dilakukan secara optimal adalah tingkat prestasi siswa. Walaupun guru bukan satu-satunya syarat penunjang tercapainya prestasi siswa. Namun, tidak dapat dinapikan bahwa gurulah yang mempunyai peranan sangat besar dalam peningkatan mutu siswa, karena guru lebih banyak berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar di dunia pendidikan. Di samping bimbingan guru dalam aktivitas belajar, sehingga siswa dapat mencapai prestasi belajar yang memuaskan, faktor lain yang juga menentukan adalah sikap siswa dalam belajar.

Hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mengiuti proses pembelajaran bergantung kepada kepiawaian guru dalam mengadakan variasi mengajar, termasuk di dalamnya adalah menciptakan suasana yang nyaman, penampilan yang menarik dan kreativitas dalam menyampaikan muatan dari materi pelajaran.

Sehingga dengan demikian di dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk menguasai berbagai metode pengajaran yang disesuaikan juga dengan psikologi peserta didik, Dengan demikian pergantian metode disesuaikan dengan situasi, fasilitas dan tingkat kematangan peserta didik, tetap berorientasi kepada pencapaian tujuan secara efektif dan efesien.

Kenyataan yang dapat kita jumpai pada saat sekarang ini dikelas-kelas suatu sekolah selama ini adalah pembelajaran berpusat pada guru (Teacher Centered Learning) yang meletakkan guru sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa dan cara penyampaian pengetahuannya masih cendrung dan didominasi dengan metode ceramah. Penggunaan metode ini menyababkan partisipasi siwa rendah, kemajuan siswa, perhatian siswa tidak dapat dipantau, dengan dominasi metode ini peserta didik tidak aktif didalam proses pembelajaran. Ketidak aktifan siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang dapat mengakibatkan siswa sulit memahami konsep suatu materi. Jika hal tersebut terjadi dapat mengakibatkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik kurang optimal.

Dengan perolehan hasil belajar yang kurang optimal, maka dikatakan bahwa tujuan pembelajaran tidak tercapai. Walaupun demikian, bukan berarti metode ceramah tidak cocok digunakan untuk pembelajaran Fiqih. Supaya hasil belajar yang diperoleh dapat menjadi lebih baik, perlu dicoba pembelajaran yang menggunakan metode ceramah yang dikombinasikan dengan strategi pembelajaran lain.

Metode pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. Jadi seorang guru  harus menyusun metode ataupun strategi agar tujuan pembelajaran itu tercapai.

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif berarti mereka yang mendominasi aktifitas belajar. Dengan ini mereka secara aktif  menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari meteri kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari kedalam suatu persoalan yang ada dalam kehidipan yang nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk  turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan, sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.

Dengan demikian Metode practice rehearsal pairs (praktek berpasangan) adalah salah satu metode yang berasal dari active learning, yang menjelaskan bahwa strategi ini adalah strategi yang digunakan untuk mempraktekkan suatu ketrampilan atau prosedur dengan teman belajar dengan latihan praktek berulang-ulang mengunakan informasi untuk mempelajarinya. Materi-materi yang sifatnya psikomotorik adalah materi yang baik untuk diajarkan dengan metode ini.

Sedangkan Metode latihan yang disebut juga dengan metode Training, yang merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.

Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan. Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan ini kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini.

Kesimpulan

Pebelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keberagaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Untuk mecapai hasil belajar itu model pembelajaran kooperatif menuntut kerja sama dan interdependensi peserta didik dalam struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward-nya.

Seorang guru mempunyai peranan penting didalam proses pembelajaran, karena metode, media yang digunakan, pengelolaan kelas dan keadaan peserta didik sepenuhnya tergantung kepada peserta didik tersebut. Oleh sebab itu seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas dan kecakapan yang diperlukan dalam menjalakan tugasnya. Didalam pembelajaran sebaiknya guru atau pendidik menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran sehingga metode tersebut dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Sehingga dengan demikian di dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk menguasai berbagai metode pengajaran yang disesuaikan juga dengan psikologi peserta didik, Dengan demikian pergantian metode disesuaikan dengan situasi, fasilitas dan tingkat kematangan peserta didik, tetap berorientasi kepada pencapaian tujuan secara efektif dan efesien.

SUMBER BACAAN­

Muhibbin Syah,  2002, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya.

Umar Tirtarahaja dan La Sulo, 2005, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Martinis yatim, 2007, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, Jakarta: Gaung Persada Perss.

Imamsyah Alipandie, 1984, Didaktik Metode Pendidikan Umum, Surabaya: Usaha Nasional.

Syaiful Bahri Djamarah, 2006, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Rostiyah N.K, 1991, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Wina Sanjaya, 2006, Strategi Pembelajaran Berorientasi standar Proses Pendidikan,Jakarta: Kencana.

Hisyam Zaini dkk, 2007.  Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD (Center For TeachingStaff Development).

Agus Suprijono, 2010, Cooperatife Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM), Yogyakarta: Pustaka Belajar,

Melvin L. Silberman, 2004, Active Learning: 101 Cara Belajar Aktif, Bandung: Nusamedia dan Nuansa.

Anita Lie, 2008, Cooperative Learning, Jakarta: PT. Grafindo,

 

PEMANFAATAN MEDIA FLASH CARD DALAM MENINGKATKAN HAFALAN AYAT PENDEK SISWA

Oleh

Mayenni Fitri

e-mail : fitrimayenni@yahoo.co.id

Abstrak : Kesuksesan atau kegagalan seorang guru dalam proses belajar mengarar di kelas, itu tergantung kepada kemahiran seorang guru dalam memakai strategi dan metode pembelajaran. Selain itu, tidak kalah pentingnya dengan penggunaan media pembelajaran agar proses belajar mengajar tersebut tidak membosankan. Guru sebagai pendidik hendaknya bisa memanfaatkan media yang ada dalam proses pembelajaran.

Al Quran

Menurut Sa’id Ismail Ali, sebagaimana dikutip oleh Bukhari Umar dalam buku Hasan Langgulung, sumber pendidikan Islam terdiri dari atas enam macam, yaitu Al Quran, Sunnah/Hadis, kata-kata sahabat, kemaslahatan umat, tradisi atau adat kebiasaan masyarakat, dan hasil pemikiran para ahli dalam Islam. Keenam sumber Pendidikan Islam tersebut didudukkan secara hirarkis. Artinya, rujukan penyelidikan Islam diawali dari sumber pertama yaitu Al Quran dan kemudian dilanjutkan dengan sumber-sumber berikutnya secara berurutan. Jadi Al Quran merupakan sumber utama hukum Islam.

Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para rasul.

Dalam Al Quran terdapat banyak ayat-ayat suci yang harus di baca dan dipahami oleh manusia. Karena, Al Quran merupakan petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Untuk itu belajar Al Qur’an dimulai dari sejak dini. Di sekolah, untuk mempelajari Al Quran ini terdapat dalam mata pelajaran khusus yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dalam mata pelajaran ini, terdapat beberapa ayat pendek yang diajarkan seperti surah Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Kafirun, dan lain sebagainya.

Selain itu, sekarang di Sumatera Barat telah ada mata pelajaran khusus untuk mempelajari Al Quran beserta tajwidnya, yaitu mata pelajaran Pendidikan Al Quran (PAQ). Mata pelajaran ini merupakan kebijakan dari Gubernur Sumbar yang diajarkan pada sekolah-sekolah umum mulai dari SD, SMP, dan SMA/SMK.

Untuk itu, agar belajar Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Al Quran tidak membosankan, khususnya dalam belajar ayat-ayat pendek, karena dapat kita lihat, kebanyakan ayat-ayat pendek yang diajarkan merupakan ayat-ayat pendek yang pada umumnya siswa sudah hafal. Agar siswa bisa lebih hafal dan memahami maksud ayat tersebut, sebaiknya guru memakai metode atau strategi dan media yang cocok dengan materi yang akan diajarkan, karena belajar merupakan proses mendapatkan pengetahuan. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin di sebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, antara lain murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku, modul, selebaran, majalah, dan lain-lain), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas (video, radio, televise, computer, dan lain-lain).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil terknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak menutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman, dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping itu, guru juga dituntut untuk mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apakah media tersebut belum tersedia.

Media

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cendrung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. National Education Association memberikan defenisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual dan peralatannya, dengan demikian, media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar atau dibaca.

Jadi dapat disimpulkan Media pendidikan merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Alat bantu itu disebut media pendidikan, sedangkan  komunikasi adalah sistem penyampaiannya.

Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kuranag efisien) melakukannya.

  1. Ciri Fiksatif (fixative property)

Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat. Peristiwa yang kejadiannya hanya sekali dapat diabadikan dan disusun kembali untuk keperluan pembelajaran. Demikian pula kegiatan siswa dapat direkam untuk kemudian dianalisis dan dikritik oleh siswa sejawat baik secara perorangan maupun secara kelompok.

  1. Ciri manipulatif (manipulative property)

Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time lapse recording.

  1. Ciri Distributif (distributive property)

Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.

Menurut Kemp & Dayton (1985), mengemukakan manfaat media yaitu :

  1. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku.
  2. Pembelajaran bisa lebih menarik.
  3. Pembelajaran lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan
  4. Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat karena kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk mengantar pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa.
  5. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilaman integrasi kata dan gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik, dan jelas.
  6. Pembelajaran dapat diberikan kapan dan dinama diinginkan atau diperlukan .
  7. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
  8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif.

Adapun macam-macam media menurut taksonomi Leshin, dan kawan-kawan (1992) yaitu media berbasis manusia ( guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, dan lain-lain), media berbasis cetakan (buku, penuntun, buku kerja/latihan, dan lembaran lepas), media berbasis visual (buku, charts, grafik, peta, figur/gambar, transparansi, film bingkai atau slide), media berbasis audio-visual (video, film, slide bersama tape, televisi), dan media berbasis komputer ( pengajaran dengan bantuan komputer dan video interaktif).

Salah satu kriteria yang sebaiknya digunakan dalam pemilihan media adalah dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan kemudahan memperolehnya. Apabila media yang sesuai belum tersedia maka guru berupaya untuk mengembangkannya sendiri. Ada beberapa media yang bisa dikembangkan seperti media berbasis visual, media berbasis audio visual, dan media berbasis komputer.

  1. Media berbasi visual

Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar/ilustrasi, sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih.

Media berbasis visual (image dan perumpamaan) memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman, memperkuat ingatan, menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visiual sebaliknya di tempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

Bentuk visual bisa berupa: a). Gambar representasi seperti, gambar, lukisan atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya sesuatu benda, b).Diagram yang melukiskan hubungan-hubungan konsep, organisasi, dan struktur isi materi, c). Peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang antara unsur-unsur dalam isi materi, d). Grafik seperti tabel, grafik, chart (bagan) yang menyajikan gambaran atau kecenderungan data atau antar hubungan seperangkat gambar atau angka-angka.

                  Pengembangan Produk Media Berbasis Visual Dalam Pembelajaran PAI

Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, sepeti foto, gambar, sketsa, bagan dan lain-lain. Keberhasilan penggunaan media berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan visual dan grafis itu. Hal ini hanya dapat dicapai dengan mengatur dan mengorganisasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakannya dengan seksama, dan menggunakan teknik-teknik dasar visualisasi objek, konsep, informasi dan situasi. Dalam penetapan elemen-elemen visual harus dapat menampilkan visual yang dapat di mengerti, terang atau dapat dibaca, dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunanya.

Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain tertentu, antara lain:

1.      Kesederhanaan

Secara umum kesederhanaan itu mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual, jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang di sajikan visual itu. Contohnya antara (15 sampai 20 kata), kata-kata harus memakai huruf sederhana dengan gaya huruf yang mudah terbaca dan tidak terlalu beragam dalam satu tampilan. Kalimatnya harus ringkas tetapi padat dan mudah di mengerti.

2.      Keterpaduan

Keterpaduan elemen-elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang bisa membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya.

3.      Penekanan

Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin, seringkali konsep yang ingin di sajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa. Dengan menggunakan ukuran, hubungan-hubungan, perspektif, warna atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur-unsur penting.

4.      Keseimbangan

Bentuk atau pola yang di pilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris. Keseimbangan yang seluruhnya simetris disebut keseimbangan formal, seperti menampakan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. Oleh karena itu, keseimbangan formal cenderung tampak statis. Sebaliknya, keseimbangan informal tidak keselurahannya simetris tapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian.

5.      Bentuk

Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian. Oleh karena itu, pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan, informasi atau isi pelajaran perlu di perhatikan.

6.      Garis

Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus.

7.      Tekstur

Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna.

8.      Warna

Warna merupakan unsur visual yang penting, tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. Warna digunakan untuk memberikan kesan pemisahan atau penekanan dan warna dapat mempertinggi tingkat realisme objek atau situasi yang digambarkan, menunjukkan persamaan dan perbedaan, dan menciptakan respons emosional tertentu.

  1. Media berbasis audio visual

Media audio dan audio visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah dan terjangkau. Disamping itu, tersedia pula materi audio yang dapat digunakan dan dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Audio dapat menampilkan pesan yang memotivasi.

  1. Media berbasis komputer

Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran dikenal dengan nama pembelajaran dengan bantuan komputer. Dilihat dari situasi belajar di mana komputer digunakan untuk tujuan menyajikan isi pelajaran, bisa berbentuk tutorial, drills and practice, simulasi, dan permainan.

Media Flash Card

Salah satu pengembangan dari media yaitu media flashcard. Dimana media flash card ini merupakan pengembangan dari media berbasis visual. Dimana media flash card ini merupakan pengembangan dari media gambar garis (sketsa atau stick figure).

Gambar garis dapat digunakan pada media flash card (kartu kecil yang berisi gambar, teks, atau tanda simbol yang mengingatkan atau menuntun siswa kepada sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu). Flash card biasanya berukuran 8 x 12 cm, atau dapat disesuaikan dengan besar kecilnya kelas yang dihadapi. Kartu abjad misalnya, dapat digunakan untuk mengeja lancar (dalam bahasa Arab atau bahasa inggris). Kartu yang berisi gambar-gambar (benda-benda, binatang dan sebagainya) dapat digunakan untuk melatih siswa mengeja dan memperkaya kosakata. Kartu-kartu tersebut menjadi petunjuk dan rangsangan bagi siswa untuk memberikan respons yang diinginkan.

Kita bisa mengajak siswa membuat flash cards mereka sendiri, yang nantinya bisa dibawa pulang ke rumah untuk berlatih sendiri ataupun bersama orang tua dan saudara. Flash cards adalah media yang tepat untuk membantu siswa/anak mengingat dan mempelajari informasi baru. Kartu ini mudah dibuat dan digunakan. Sebagian besar anak-anak adalah visual learners dan kartu bergambar dengan warna-warna menarik bisa sangat bermanfaat untuk mengajar mereka.

Dengan banyaknya media yang berkembang saat ini, seharusnya seorang guru bisa mmanfaatkan media-media yang ada dalam proses belajar mengajar. Kalau guru memakai media dalam PBM, maka belajar itu akan sangat mengasyikkan bagi anak dan tidak akan membosankan. Seperti yang kita lihat, biasanya siswa akan merasa jenuh dan bosan apabila berhadapan dengan mata pelajaran Agama Islam, karena guru PAI cendrung monoton dalam PBM. Agar proses belajar mengajar PAI itu tidak membosankan, selain penggunaan strategi dan metode seorang guru juga harus bisa menggunakan dan memanfaatkan media. Salah satu media yang bisa dipakai dalam mata pelajaran PAI khususnya pada pelajaran tentang ayat-ayat pendek adalah media flash card.

Kesimpulan :

Seorang guru PAI sebaiknya juga menggunakan media dalam proses belajar mengajar, agar PBM tersebut tidak membosankan. Sebaiknya, siswa juga dilibatkan dalam mencari dan menemukan pengetahuan dari materi yang diberikan, hendaknya siswa itu tidak hanya menerima saja dari guru, seperti yang sudah lewat yang kita lihat. Dalam mengajarkan ayat-ayat suci Al Quran guru bisa memakai salah satu media yang bisa mendukung yaitu media flash card, dimana media ini tergolong mudah dibuat dan tidak banyak memakan biaya. Guru juga bisa mengajak siswa untuk membuat media flash cardnya sendiri agar siswa bisa mengeluarkan kreatifitas yang ada pada dirinya dan bisa juga membuatnya di rumah bersama orang tuanya. Dengan seperti itu, akan menimbulkan kecintaan bagi siswa untuk belajar PAI khususnya dalam materi Al Quran atau ayat-ayat pendek pilihan yang ada dalam SK dan KD yang sudah ditentukan. Kita berharap guru sekarang dan guru masa depan bisa memanfaatkan media yang ada dan juga mengembangkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Azhar Arsyad, 20011, Media Pembelajaran, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Agus Suprijono, 2010, Cooperative Learning, Yogyakarta : Pustaka Belajar

Bukhari Umar, 2011, Hadis Tarbawi, Batusangkar : STAIN Btusangkar Press

http://immtarbiyahpwt.blogspot.com/2012/01/pengembangan-produk-media-berbasis.html

http://1nd1r4.wordpress.com/2008/11/20/flash-cards/

ADAB-ADAB YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH SEORANG WANITA KETIKA AKAN MENDATANGI MASJID

Oleh :

Meli Herlina

Ikhlas Hendaknya ketika berangkat ke masjid benar- benar ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin bertemu dengan para wanita atau ibu-ibu yang lain, bukan karena ingin mendengarkan bacaan Imam, atau karena ikut-ikutan teman. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, dalam surat al- Bayyinah ayat 5.

Dan juga sabda Nabi SAW yang artinya, “Barang siapa mendatangi masjid untuk tujuan tertentu, maka itulah yang menjadi bagiannya.” (HR. Abu Daud)

Meminta Izin Seorang wanita yang akan pergi ke masjid seharusnya meminta izin kepada ayah atau suaminya, berdasarkan hadits Nabi SAW dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, artinya: “Janganlah kalian melarang wanita untuk mendatangi masjid, bila mereka minta izin kepada kalian.” (Shahih Muslim)

Di dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan, “Apabila istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, maka berilah mereka izin.” Jika telah mendapatkan izin, silakan ke masjid, namun jika tidak diizinkan janganlah berangkat, karena taat terhadap suami lebih didahulukan daripada ibadah sunnah, demikian pula seorang putri jika tidak diizinkan ayahnya.

Selayaknya seorang suami jangan melarang istrinya pergi ke masjid, bila telah meminta izin dengan baik-baik, kecuali jika ada kondisi yang

tidak mengizinkan, seperti bahaya atau gangguan di jalanan. Namun para wanita juga harus menyadari, bahwa shalat mereka di rumah adalah lebih utama, dan juga keluarnya mereka ke tempat umum justru terkadang menimbulkan fitnah atau dosa.

Berhijab/Menutup Aurat Jangan sampai pergi ke masjid dalam kondisi Tabaruj,  sengaja memancing perhatian, berpakaian ketat serta menampakkan perhiasan atau auratnya, sebab sekali lagi harus diingat, bahwa jika wanita keluar rumah, maka syetan menghiasnya, sehingga kelihatan menggota dan menarik. Tabarruj adalah salah satu sifat wanita-wanita jahiliyyah yang tercela sebagaimana firman Allah SWT , yang artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertabarruj (berhias dan bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS al-Ahzab: 33) Syarat-syarat hijab adalah: Menutup seluruh tubuh, tidak membentuk lekuk tubuh, tidak pendek atau ketat, tidak transparan, bukan pakaian mewah untuk pamer, tidak mengikuti mode wanita kafir, tidak menyerupai pakaian laki laki dan tidak bercorak menyolok atau bergambar makhluk hidup.

Tidak Memakai Parfum Parfum merupakan salah satu penyebab fitnah dan kerusakan, bila salah dalam mempergunakannya. Rasulullah SAW telah melarang wanita yang menggunakan minyak wangi untuk menghadiri shalat Isya’. Bukan sekedar itu saja, bahkan Rasulullah SAW memberikan peringatan lebih keras lagi dalam hal ini, sebagaimana sabda beliau, “Wanita mana saja yang menggunakan parfum

lalu keluar ke masjid, maka shalatnya tidak di terima sebelum dia mandi.” (HR. Al-Baihaqi).

Jika pergi ke masjid untuk beribadah tidak boleh menggunakan parfum, maka apalagi jika perginya adalah ke tempat-tempat umum selain masjid, tentu lebih tidak boleh lagi.

Tidak Berkhalwat Yakni tidak boleh jalan berduaan dengan laki-laki lain (bukan mahram) baik itu berjalan kaki maupun berduaan di dalam mobil, entah itu teman, tetangga atau sopir pribadi sekalipun. Berdasarkan kepada hadits Nabi, “Jangan sekali-kali seorang laki- laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali wanita tersebut disertai mahramnya.” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas) Di dalam riwayat lain disebutkan, bahwa jika seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, maka pihak ke tiganya adalah syetan

Merendahkan Suara Secara umum bukan hanya wanita saja yang diperintahkan untuk merendahkan suara dan tidak mengeraskannya, apalagi di dalam masjid. Allah SWT dalam surat Luqman ayat 19.

Dan bagi wanita, masalah ini lebih ditekankan lagi, sehingga wanita apabila mengingatkan imam yang lupa atau salah cukup dengan menepukkan telapak tangan kanan ke punggung tangan kiri, bukan bertasbih (mengucap subhanallah). Hendaknya wanita menjaga suaranya di hadapan kaum laki-laki, karena tidak seluruh laki-laki hatinya sehat, di antara mereka ada yang hatinya sakit, dalam arti mudah tergoda dengan suara wanita.

Allah SWT berfirman, dalam surat al-Ahzab ayat 32:

Jika wanita-wanita suci seperti istri Nabi masih diperintahkan untuk demikian, maka selayaknya para muslimah juga mencontoh mereka.

Menundukkan Pandangan Para wanita hendaknya menundukkan pandangan dari laki-laki lain yang bukan mahram sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nuur ayat 31:

Pandangan mata, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim adalah cerminan hati, jika seorang hamba dapat menundukkan pandangannya, maka ia akan dapat menundukkan syahwat dan segala kemauannya. Sebaliknya jika pandangan dibiarkan dengan bebas dan leluasa, maka syahwat akan menguasai-nya. Jarirz pernah bertanya kepada Rasulullah tetang pandangan yang tidak di sengaja, maka beliau menjawab, “Palingkanlah pandanganmu.” (HR Ahmad) Dari Buraidah Radhiallaahu anhu, Rasulullah pernah berkata kepada Ali Radhiallaahu anhu, “Wahai Ali jangan kau susul pandangan (pertama) dengan pandangan yang lain, karena untukmu hanya yang pertama, dan selebihnya bukan buatmu.” (HR. Ibnu Abdul Barr)

Hindari Ikhtilath Jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur) laki- laki dan perempuan, baik ketika di jalan, ketika masuk masjid maupun ketika bubar dari masjid. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan dari Hamzah bin Usaid dari ayahnya, bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda sedang beliau berada di luar masjid, dan kaum pria saat itu bercampur dengan kaum wanita di jalan, maka beliau pun bersabda kepada para wanita, “Menepilah kalian, sesungguhnya kalian tidak ada hak di tengah

jalan, hendaklah kalian semua berjalaan di tepian.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi). Maka seketika itu para wanita menepi ke tembok.

Tidak Menelantarkan Anak-anak. Termasuk tanggung jawab terbesar seorang wanita (ibu) adalah mendidik dan mengawasi anak, dan kelak dia akan ditanya oleh Allah tentang tanggung jawab ini. Apabila kepergian seorang wanita ke masjid dengan menelantarkan anak-anak, seperti menyerahkan kepada pembantu yang kurang baik akhlaknya, atau menjadikan anak pergi leluasa bergaul dengan teman-teman yang buruk, maka hal itu tidak dibenarkan. Karena mencegah sesuatu yang buruk (terlan-tarnya anak) lebih di dahulukan daripada mencari manfaat (tarawih di masjid).

Menjaga Adab di Masjid Masjid adalah rumah Allah dan tempat yang sangat mulia, ketika seseorang akan memasukinya, maka harus memperhatikan dan manjaga adab-adab ketika berada di dalamnya.

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

 PENGGUNAAN MEDIA STRIP STORY DALAM MATA PELAJARAN QUR’AN HADITS

 

Oleh :

Misra

09101055

 

 

Abstrak:  Al-Qur’an merupakan kalam Illahi yang diturunkan kepada Nabi SAW sebagai mukjizat, serta pembelajaran Al-Qur’an yang perlu menggunakan media yang dapat mendukung pembelajaran, Media yang baik adalah media yang dapat menimbulkan rasa senang dan  gembira bagi murid-murid dan memperbaharui semangat mereka, membeantu memantapkan pengetahuan murid serta menghidupkan pembelajaran.

 

Kata Kunci: Media Strip Story, Qur’an Hadits

Al-Qur’an dan Hadits

Al-Qur’an adalah kalamullah sebagai mukjizat yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul (Nsbi Muhammad SAW) dengan perantaraan al-Amiin (Jibril as), ditulis didalam mushahif, terpelihara dalam dada manusia, disampaikan secara mutawatir, bacaannya diberi nilai ibadah, dimulai dengan surat al-Fatihah diakhiri dengan surat an-Nas.

Kedudukan Al– Qur’an, sebagai sumber belajar yang paling utama dijelaskan oleh Allah dalam al – Qur’an. Dalam salah satu firman Allah surat al-Nahl ayat 64 yaitu:

 !$tBur$uZø9t“Rr&y7ø‹n=tã|=»tGÅ3ø9$#žwÎ)tûÎiüt7çFÏ9ÞOçlm;“Ï%©!$#(#qàÿn=tG÷z$#ÏmŠÏù “Y‰èdurZpuH÷qu‘ur5Qöqs)Ïj9šcqãZÏB÷sãƒÇÏÍÈ  

 

Dan kami tidak menurunkan kepadamu Alkitab (al-Qur’an) ini melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Dalam surat lain juga disebutkan, Surat Al-An’am : 38

$tBur`ÏB7p­/!#yŠ’ÎûÇÚö‘F{$#Ÿwur9ŽÈµ¯»sÛ玍ÏÜtƒÏmø‹ym$oYpg¿2HwÎ)íNtBé&Nä3ä9$sVøBr&4$¨B$uZôÛ§sù’ÎûÉ=»tGÅ3ø9$#`ÏB&äóÓx«4¢OèO4’n<Î)öNÍkÍh5u‘šcrçŽ|³øtä†

Artinya : Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Ayat diatas memberikan isyarat bahwa pendiidkan islam cukup digali dari sumber autentik islam, yaitu AL-Qur’an.

Nilai esensi dalam Al-Qur’an selamanya abadi dan selalu relevan pada setiap waktu dari zaman, tanpa ada perubahan sama sekali. Perubahan dimungkinkan hanya menyangkut masalah interpretasi mengenai nilai-nilai instrumental dan menyangkut masalah teknik operasional. Pendidika islam yang ideal harus sepenuhnya mengacu pada nilai dasar Al-Qur’an, tanpa sedikitpun menghindarinya.

As-Sunnah adalah segala sesuatu yang dinukilkan dari Nabi SAW berupa perkataan, perbuatan, taqrir-nya, ataupun selain dari itu. Termasuk selain itu (perkataan, perbuatan, dan ketetapannya) adalah sifat-sifat, keadaan, dan cita-cita Nabi SAW yang belum kesampaian.

Corak pendidikan islam yang diturunkan dari sunnah Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :

1.      Disampaikan sebagai rahmat li al-‘alamin (rahmat bagi semua alam), yang ruang lingkupnya tidak sebatas spesies manusia saja, tetapi juga pada makhluk biotic dan abiotik lainnya. (Q.S. Al-Anbiya’ : 107-108).

2.      Disampaikan secara utuh dan lengkap, yang memuat berita gembira dan peringatan pada umumnya. (Q.S.As-Saba’ : 28)

3.      Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak (Al-Baqarah : 119)

4.      Kehadiranya sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan senantiasa bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan (QS. Asy-Syura : 48)

5.      Perilaku Nabi SAW tercermin sebagai uswah hasanah yang dapat dijadikan figure atau suri tauladan (QS. An-Najm : 3)

6.      Masalah teknik operasional dalam pelaksanaan pendidikan islam diserahkan penuh kepada umatnya.

 

Al-Qur’an-Hadis

 

Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari Al-Qur’an-Hadis yang telah dipelajari oleh peserta didik di MTs/SMP. Peningkatan tersebut dilakukan dengan cara mempelajari, memperdalam serta memperkaya kajian al-Qur’an dan al-Hadis terutama menyangkut dasar-dasar keilmuannya sebagai persiapan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, serta memahami dan menerapkan tema-tema tentang manusia dan tanggung jawabnya di muka bumi, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam perspektif al-Qur’an dan al-Hadis sebagai persiapan untuk hidup bermasyarakat.  Secara substansial, mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an-hadis sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.

 

Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadis bertujuan untuk:

a.       Meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap al-Qur’andan hadis

b.      Membekali peserta didik dengan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur’andan hadis sebagai pedoman dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan

c.       Meningkatkan pemahaman dan pengamalan isi kandungan al-Qur’an dan hadis yang dilandasi oleh dasar-dasar keilmuan tentang al-Qur’andan hadis.

 

Ruang Lingkup Al-Qur’an-Hadits

 

a.      Masalah dasar-dasar ilmu al-Qur’andan al-Hadis, meliputi: 

 

1.      Pengertian al-Qur’anmenurut para ahli

2.      Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadis qudsi

3.      Bukti keotentikan al-Qur’anditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dan sejarahnya

4.      Isi pokok ajaran al-Qur’an dan pemahaman kandungan ayat-ayat yang terkait dengan isi pokok ajaran al-Qur’an

5.      Fungsi al-Qur’andalam kehidupan

6.      Fungsi hadis terhadap al-Qur’an

7.      Pengenalan kitab-kitab yang berhubungan dengan cara-cara mencari surat dan ayat dalam al-Qur’an

8.      Pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitasnya.

 

b.      Tema-tema yang ditinjau dari perspektif al-Qur’an dan al-hadis, yaitu:

 

1.      Manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.

2.      Demokrasi.

3.      Keikhlasan dalam beribadah

4.      Nikmat Allah dan cara mensyukurinya

5.      Perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup

6.      Pola hidup sederhana dan perintah menyantuni para dhuafa

7.      Berkompetisi dalam kebaikan.

8.      Amar ma ‘ruf nahi munkar

9.      Ujian dan cobaan manusia

10.  Tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat

11.  Berlaku adil dan jujur

12.  Toleransi dan etika pergaulan

13.  Etos kerja

14.  Makanan yang halal dan baik

15.  Ilmu pengetahuan dan teknologi.

Media Strip Story

Kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (وسا ئل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.

Media pembelajaran menurut Azhar Arsyad adalah media yang dipakai untuk membawa atau menyampaikan pesan-pesan (informasi) yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. 

Urgensi Penggunaan Media Pembelajaran :

1.      Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki guru

2.      Media dapat mengatasi ruang kelas. Hal-hal yang sukar untuk diserap dan dialami secara langsung oleh siswa/mahasiswa di dalam kelas,

3.      Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan. Gejala fisik dan social dapat diajak berdialog/berkomunikasi dengannya.

4.      Media menghasilkan keseragaman pengamatan. Pengamatan yang dilakukan siswa secara bersama-sama diarahkan kepada hal-hal yang dianggap penting sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.        

5.      Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret, dan realistis.

6.      Media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru.

7.      Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar.

8.      Media dapat memberikan pengalaman yang integral dari suatu yang konkret sampai kepada yang sifatnya abstrak.

 Strip story merupakan media visualitas yang memerlukan penglihatan siswa dalam menangkap setiap pelajaran, visualisasi pesan, informasi atau konsep yang akan disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk seperti fhoto, gambar/ilustrasi, sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu objek atau situasi, sementara grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu atau objek atau situasi.

Strip story merupakan potongan-potongan kertas yang sering digunakan dalam pengajaran bahasa asing. Di samping murah dan amat mudah untuk dibuat, tekhnik strip story sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus untuk menggunakannya

 

Manfaat Strip Story :

 

Strip story bisa dibilang media yang mudah, tidak hanya mudah dan sederhana untuk digunakan tetapi  juga salah satu untuk membuat kegiatan pembelajaran semakin mudah dan menyenangkan. Karena dalam menggunakan media ini semua sangat berperan baik itu anggota tubuh, teman atau guru. Sehingga ketika media ini digunakan suasana kelas terasa lebih hidup dan menyenangkan sehingga peserta didik merasa pembelajaran ini tanpa beban padahal masih dalam konteks belajar.

 

Contoh penggunaan media strip story. (dalam pembelajaran al-qur’an)

1     Guru memilih ayat-ayat al-qur’an yang bersambung dengan rapi, yang kira-kira bisa dibagi rata pada siswa.

2     Ayat tersebut diketik atau ditulis diatas kertas karton (kira-kira bisa untuk dipotong-potong)

3     Setelah itu ayatnya dipotong-potong menjadi kepingan-kepingan kertas yang akan disatukan. (apabila muridnya banyak maka dibagi per kelompok.

4     Potongan ayat tadi dibagikan acak kepada siswa

5     Guru meminta agar siswa menghapalkan potongan ayat yang tertera di kertas yang telah dipotong dan dibagikan tadi. (tunggu  dua sampai tiga menit)

6     Setelah itu guru memerintahkan siswa untuk mengumpulkan kembali potongan kertas tadi.

7     Guru agak diam  sejenak hingga kelas agak mulai tenang

8     Dipastikan mereka telah menghafal ayat yang telah dibagikan

9     Maka siswa diperintahkan untuk  mencari ayat yang pertama diantara teman-temannya dan mulai menyusun satu demi satu

10Setelah itu guru bisa menyuruh murid untuk menuliskannya kedalam buku

11Setelah tugas-tugas itu dilakukanoleh siswa, guru sebaiknya memperlihatkan ayat-ayat yang utuh melalui papan tulis dan OHP.

 

            Strip story dapat digunakan kedalam berbagai mata pelajaran tergantung efektivitas suatu mata pelajaran, bagi guru PAI bisa dimasukkan kedalam materi-materi PAI seperti, Qur’an Hadits, Imla, kisah-kisah, fiqh, mahfudzot, Bahasa Arab dan lain-lain.

            Jadi, pembelajaran ini sangat efektif untuk membangkitkan kembali suasana belajar siswa karena pembelajaran dengan menggunakan strip story tidak hanya menggunakan media visual saja tetapi juga membutuhkan gaya kinestetik sehingga belajar terasa tidak kaku.

           

KESIMPULAN

 

Strip story adalah media visual yang membutuhkan daya penglihatan untuk mempelajari suatu materi pelajaran. Strip story merupakan potongan-potongan kertas yang sering digunakan dalam pengajaran bahasa asing. Di samping murah dan amat mudah untuk dibuat, tekhnik strip story sederhana dan tidak memerlukan keterampilan khusus untuk menggunakannya.

Strip story sebagai media yang menjanjikan kemudahan dalam belajar, tidak hanya itu dengan memakai alat dan barang yang sederhana siapapun bisa melakukannya tanpa harus mempunyai keahlian khusus.

Selain strip story ada strategi lain yang serupa yaitu flash card yang membedakannya hanya tgambar dan tulisan tapi setidaknya didalam gambar tersebut juga terdapat tulisan-tulisan. Tapi yang penting adalah strip story maupun flash card sama-sama menggunakan visualita

 

DAFTAR PUSTAKA

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, 2011, , Jakarta; Rajawali Press

 

Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gava Media, 2010).

 

Hamalik, Oemar, Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1994).

 

Permenag 2008

http://butterfly31girl.blogspot.com/2012/04/strip-story.html

Bukhari Umar. Hadits Tarbawi. ( Batuasangkar : STAIN Batusangkar, 2011)

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Peningkatan hasil belajar siswa melalui Kombinasi  Strategi Pembelajaran Concept Map dan TheEvery One Is Teacher Here

pada Mata Pelajaran Fiqih

 

Oleh :

Muhammad yunus

09 101 056

 

Abstrak: peningkatan hasil belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara terutama dengan  melalui kombinasi strategi pembelajaran concept map dan the every one is teacher here pada mata pelajaran fiqih karena dengan ini diharapkan hasil belajar dapat meningkat secara menyeluruh bukan hanya kepada sebagian siswa saja

 

Kata Kunci: hasil belajar, strategi concept map, strategi the every one is teacher here, Fiqih

 

A.  HASIL BELAJAR

1.      PengertianHasil Belajar

Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.

               Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan prilaku pada individu yang belajar. Perubahan prilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil belajar itu adalah perubahan yang mengakibatkan menusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pembelajaran yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harrow yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

               Proses pembelajaran merupakan sebuah aktivitas sadar untuk membuat siswa belajar. Hal ini mengandung implikasi bahwa pembelajaran merupakan proses yang direncanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang diperoleh siswa merupakan perolehan dari proses belajar siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat adanya proses pembelajaran.

2.      Taksonomi Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

a.    Taksonomi hasil belajar kognitif

          Hasil belajar kognitif adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi dalam kawasan kognisi (melibatkan kemampuan otak) meliputi kegiatan sejak penerimaan, penyimpanan, pengolahan informasi dalam otak hingga pemanggilan kembali informasi dari otak ketika diperlukan untuk menyelesaikan masalah.

          Kemampuan yang menimbulkan perubahan prilaku dalam domain kognitif meliputi beberapa tingkat. Klasifikasi domain kognitif yang banyak digunakan adalah yang dibuat oleh Benjamin S.Bloom. Bloom membagi dan menyusun tingkat hasil belajar kognitif secara hierarki mulai dari yang paling rendah dan sederhana sampai tingkat yang paling tinggi dan kompleks, sebagai berikut :

1)        Kemampuan menghafal (knowledge)/C1, merupakan kemampuan memanggil kembali informasi dalam otak untuk merespons suatu masalah. Tingkat ini adalah yang paling rendah dari ranah kognitif

2)        Kemampuan pemahaman (comprehension)/C2, merupakan kemampuan untuk melihat hubungan fakta dengan fakta

3)        Kemampuan penerapan (application)/C3, merupakan kemampuan untuk memahami aturan, hukum, rumus dan lain sebagainya dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.

4)        Kemampuan analisis (analisys)/C4, merupakan kemampuan memahami sesuatu dengan menguraikannya ke dalam unsur-unsur

5)        Kemampuan sintesis (synthesis)/C5, merupakan kemampuan memahami dan mengorganisasikan bagian – bagian ke dalam kesatuan

6)        Kemampuan evaluasi (evaluation)/C6, merupakankemampuan membuat penilaian dan mengambil keputusan dari hasil penilaiannya.

          Taksonomi hasil belajar afektif.

          Taksonomi hasil belajar afektif dikemukakan oleh Krathwohl yang membagi hasil belajar afektif menjadi lima tingkatan yang disusun secara hierarki mulai dari yang paling rendah dan sederhana sampai tingkat yang paling tinggi dan kompleks, yaitu :

1)        Penerimaan (Receiving) atau menaruh perhatian (Attending) adalah kesediaan menerima rangsangan

2)        Partisipasi atau merespons (Responding) adalah keesediaan memberikan respons  dengan berpartisipasi.

3)        Penilaian atau penentuan sikap (Valuing) adalah kesediaan untuk menentukan pilihan sebuah nilai dari rangsangan tersebut .

4)        Organisasi (Attending) adalah kesediaan mengorganisasikan nilai-nilai yang dipilihnya untuk menjadi pedoman yang mantap dalam perilakunya.

5)        Internalisasi nilai atau karakterisasi (Characterization) adalah menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan untuk tidak hanya menjadi pedoman prilaku tetapi juga menjadi bagian dari pribadi dalam prilaku sehari-hari.

b.    Taksonomi hasil belajar Psikomotor

          Psikomotor merupakan tindakan seseorang yang dilandasi penjiwaan atas dasar teori yang dipahami dalam suatu mata pelajaran. Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Simpson (1956) menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor adalah hasil belajar yang berupa keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak individu.  Jadi, hasil belajar psikomotor merupakan hasil belajar yang bersifat aplikatif dari suatu materi yang telah dipelajari oleh siswa.

          Ranah psikomotor terbagi menjadi 5 tingkatan, yaitu meniru (immitation), manipulasi (manipulation), ketepatan gerakan (precision), melakukan gerakan dengan akurat, baik dan tepat (articulation), serta melakukan tindakan secara alami (naturalization).Namun, taksonomi hasil belajar psikomotor yang paling banyak digunakan adalah taksonomi dari Simpson yang mengklasifikasikan menjadi enam tingkatan, yaitu :

1)   Persepsi (Perception) adalah kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala lain.

2)   Kesiapan (Set) adalah kemampuan menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan. Misalnya, kesiapin diri sebelum mempraktikkan shalat, penyelenggaraan jenazah dan lain sebagainya.

3)   Gerakan terbimbing (Guided Response) adalah kemampuan melakukan gerakan meniru model yang dicontohkan.

4)   Gerakan terbiasa (Mechanism) adalah kemampuan melakukan gerakan tanpa adanya model atu contoh.

5)   Gerakan kompleks (Adaptation) adalah kemampuan melakukan serangkaian gerakan dengan cara, urutan dan irama yang tepat.

6)   Kreativitas (Origination) adalah kemampuan menciptakan gerakan-gerakan baru yang tidak ada sebelumnya atau mengkombinasikan gerakan-gerakan yang ada menjadi kombinasi gerakan baru yang orisinal.

          Apabila siswa sudah mampu untuk memiliki sikap yang baik sebagai karakter dirinya, maka hal itu akan terus berlansung tanpa disadari oleh siswa. Berarti dari segi psikomotor, siswa telah mencapai tingkat yang tinggi.

3.    Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu:

a.    Faktor dari dalam diri siswa

Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya, yang besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Clark, bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.

b.    Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan

Faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar disekolah adalah kualitas pengajaran yaitunya tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.

Disamping faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

B. Strategi Concept Mapdan The Every One Is Teacher Here

  1. PengertianConcept Mapdan The Every One Is Teacher Here

a)    Strategi concept map

Concept mapadalah meminta peserta didik mensintesis atau membuat suatu gambar atau diagram tentang konsep-konsep utama yang paling berhubungan, yang ditandai dengan garis panah ditulis label yang membunyikan bentuk hubungan antar konsep-konsep utama.

b)   Strategi The Every One Is Teacher Here

Melvin L.Silberman mengemukakan dalam bukunya bahwa untuk mengaktifkan siswa itu ada 101 cara yang dapat digunakan. Salah satunya adalah strategi The Every One Is Teacher Here, dimana strategi The Every One Is Teacher Hereadalah merupakan strategi mudah untuk mendapatkan partisipasi seluruh kelas dan pertanggungjawaban individu. Strategi ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai “ guru “ bagi kawan-kawannya.

1)   Langkah-langkah pelaksanaan Strategi Concept Map dan TheEvery One Is Teacher Here

Setiap strategi ataupun metode pembelajaran sudah tentu mempunyai langkah-langkah tersendiri dalam pelaksanaannya. Agar dapat terlaksana secara baik dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka penting sekali untuk mengetahui langkah-langkah dari pelaksanaan suatu strategi maupun metode pembelajaran. Langkah-langkah tersebut harus dilaksanakan secara sistematis sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Demikian pula halnya dengan Strategi Concept Map danTheEvery One Is Teacher Here harus dilaksanakan secara sistematis berdasarkan urutan langkah – langkahnya. Adapun langkah – langkah strategi Concept Map  adalah :

a.         Pilihlah satu masalah atau topik atau teks atau wacana atau bab sebagai bahan evaluasi atau asesmen,

b.        Mintalah siswa atau mahasiswa melakukan brain stroming(curah gagasan) tentang masalah atau topik atau teks atau wacana itu sebanyak mungkin (25-40) konsep),

c.         Kemidian, mintalah siswa atau mahasiswa memilih 10-12 konsep-konsep utama dari 25-40 konsep di atas,

d.        Mintalah kembali siswa atau mahasiswa untuk menuliskan tentang konsep-konsep utama siatas kartu secara terpisah,

e.         Kemudian, dengan kartu-kartu yang telah bertuliskan konsep utama, mintalah siswa

f.       Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama.

Dari tema utama “Sejarah Indonesia”, maka tema-tema turunan dapat terdiri dari : Periode,Wilayah, Bentuk Perjuangan ,dll.

g.      Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol.

Dari setiap tema turunan tertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga dan seterusnya. Maka langkah berikutnya adalah mencari hubungan yang ada antara setiap tema turunan. Gunakan garis, warna, panah atau cabang dan bentuk-bentuk simbol lain untuk menggambarkan hubungan diantara tema-tema turunan tersebut. Pola-pola hubungan ini akan membantu kita memahami topik yang sedang kita baca. Selain itu Peta Pikiran yang telah dimodifikasi dengan simbol dan lambang yang sesuai dengan selera kita, akan jauh lebih bermakna dan menarik dibandingkan Peta Pikiran yang “Miskin Warna”.

h.      Gunakan huruf besar

Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di Peta Pikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poin yang sifatnya menjelaskan poin kunci.

i.        Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit.

Ide dari Peta Pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi Peta Pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabila kita terlalu dini melakukan modifikasi pada Peta Pikiran, maka sering kali fokus kita akan berubah sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.

j.        Sisakan ruangan untuk penambahan tema.

Peta Pikiran yang bermanfaat biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema dan modifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar Peta Pikiran versi pertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya selalu sisakan ruang di kertas Peta Pikiran untuk penambahan tema.

Sedangkan langkah-langkah dari strategi The Every One Is Teacher Here adalah :

a)        Bagikan kartu indeks kepada tiap siswa. perintahkan siswa untuk menuliskan pertanyaan yang mereka miliki tentang materi belajar yang tengah dipelajari di kelas (misalnya: tugas membaca atau topik  khusus yang ingin mereka diskusikan di kelas). Contohnya, dalam sebuah pelajaran tentang cerita pendek Amerika, guru dapat membuat landasan untuk diskusi kelas tentang kisah Sherly Jackson,“The Lotterydengan membagikan kartu indeks dan meminta siswa menuliskan sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang kisah tersebut. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang ditulis oleh siswa dan kemudian dibagikan kembali kepada seluruh kelas untuk mendapatkan jawabannya :

1)        Siapa yang hendak disenangkan oleh penduduk desa dengan diadakannya lotre?

2)        Bagaimana ritual lotre bermula ?

3)        Mengapa setiap orang terus menerus melemparkan batu?

4)        Mengapa Mr.Summer yang bertanggungjawab atas lotre itu?

b)        Kumpulkan kartu, kemudian kocoklah, dan bagikan satu-satu  kepada siswa. Perintahkan siswa untuk membaca dalam hati pertanyaan atau topik pada kartu yang mereka terima dan pikirkan jawabannya.

c)        Tunjuklah beberapa siswa untuk membacakan kartu yang mereka dapatkan dan memberikan jawabannya.

d)       Setelah memberikan jawaban, perintahkan siswa lain untuk memberi tambahan atas apa yang dikemukakan oleh siswa yang membacakan kartunya itu.

e)        Lanjutkan prosedur ini bila waktunya memungkinkan

C.Mata Pelajaran FIQH

1.         Pengertian

          Dalam bahasa arab perkataan Fiqih artinya adalah faham, pengertian. Jika dihubungkan dengan perkataan ilmu yaitu ilmu yang bertugas menentukan dan menguraikan norma-norma hokum dasar yang terdapat didalam Al-Qur’an dan ketentuan-ketentuan umumyang terdapat didalam sunnah Nabi yang direkam didalam hadits-hadits Nabi.

          Para ulama Ushul Fiqih mendefenisikan Fiqih sebagai pemahaman mengenai hukum-hukum islam (Hukum Syara’) yang bersifat amali (amalan) melalui dalil-dalil yang terperinci. Sedangkan para ulama fiqih mendefenisikan fiqih sebagai sekumpulan hukum amaliyah (yang sifatnya akan diamalkan) yang disyariatkan oleh agama islam. Abdullah Siddiq menjelaskan bahwa hukum-hukum islam yang dikenal dengan istilah Syariat disebut dengan ilmu fiqih. Orang yang mengerti dengan ilmu fiqih disebut dengan Faqih.  Ilmu Fiqih adalah kumpulan ilmu yang sangat luas pembahasannya yang membahas bebagai macam jenis hukum dan aturan hidup untuk keperluan seseorang.

          Berdasarkan uraian diatas bahwailmu fiqih merupakan salah satu ilmu yang sangat penting didalam agama islam. Ilmu fiqih sangat diperlukan untuk mengetahui dengan luas dan mendalam tentang semua tentang perbuatan manusia. Ilmu fiqih terbagi atas empat bagian penting yaitu:

a.       Ibadah yaitu segala perbuatan ummat islam dalam mendekatkan dirinya kepada Allah, menunjukkan kepercayaanya dan menyeru kebesaran Allah, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.

b.      Muamalah yaitu segala yang berkaitan dengan jual beli , utang piutang, perjanjian dagang dan sebagainya.

c.       Munakahat yaitusegala yang berkaitan dengan kekeluargaan dan kerumah tanggaan, seperti nikah, cerai, rujuk, dan kewarisan.

d.      Jinayah adalah segala yang berkaitan dengan hukum pidana, seperti hukum zina, membunuh, minuman keras dan lain sebagainya.

          Dalam pembagian fiqih diatas maka terdapat beberapa hokum syara’ yaitu:

a.       Hukum Taklifi

Hukum taklifi adalah titah Allah yang berbentuk tuntunan dan titah yang memberikan pilihan untuk berbuat.

b.      hukum Wadh’i

Hukum wadh’I adalah titah Allah yang bukan bentuk tuntunan namun ditentukan oleh pembuat hokum berkaitan dengan tuntunan yang diberikan.

1.    Tujuan Dan Fungsi Mata Pelajaran Fiqih

          Mata pelajaran fiqih diberikan untuk memberikan pengetahuan tentang syariat islam, meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan pembinaan yang berkaitan dengan pemanfaatan bagi kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan pengertian fiqih maka yang ada di madrasah tsanawiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:

a.       Menumbuh kembangkan pengertian syariat islam dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

b.      Menanamkan pengalaman tentang peran syariat islam tentang lingkungan social disekitar siswa.

c.       Menumbuh kembangkan kesadaran siswa untuk meningkatkan kualitas kehiduan sehari-hari.

d.      Menanamkan sikap dan nilai-nilai keteladanan terhadap pelaksanaan syariat islam.

e.       Menumbuh kembangkan kemampuan untuk mengetahui dan mengamalkan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari.

f.       Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum islam secara menyeluruh baik dalil berupa naqli maupun dalil berupa aqli, pengetahuan dan pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan social.

g.      Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum islam dengan benar, pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kekuatan dalam menjalankan hukum islam dengan disiplin, dan bertanggungjawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi dan sosialnya.

Adapun fungsi mata pelajaran fiqih dimadrasah adalah:

a.       Menanamkan nilai-nilai dan kesadaran beribadah peserta didik kepada Allah sebagai pedoman untuk mencapai kebahagian didunia dan diakhirat.

b.      Membiasakan pengalaman terhdapa hukum islam pada peserta didik dengan iskhlas dan prilaku yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dimadrasah dan di masyarakat.

c.       Membuat kedisiplinan dan tanggungjawab sosial di lingkungan madrasah dan masyarakat.

d.      Meneguhkan keimanan dan ketaqwaan keada Allah serta menanamkan akhlak mulia kepada peserta didik seoptimal mungkin.

2.    Ruang Lingkup, pendekatan Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Fiqih

          Adapun yang menjadi ruang lingkup dalam mata pelajaran fiqih di madrasah adalah:

a.       Kajian tentang prinsip-prinsip ibadah dan syariat islam

b.      Memahami hukum islam dan himahnya

c.       Memahami konsep perekonomian dalam islam dan hikmahnya

d.      Memahami hukum islam tentang pelepasan dan perubahan harta beserta hikmahnya

e.       Memahami hukum islam tentang hudud dan hikmahnya

f.       Memahami hukum islam dan keluarga

g.      Memahami hukum islam dan waris

h.      Memahami hukum islam tentang siyasah dan syariat memahami sumber hukum islam

i.        Memahami kaidah-kaidah ushul fiqih

 

SUMBER BACAAN­

Ramayulis.2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta:Kalam Media

 

Zaini, Hisyam.2002. Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi. yogyakarta:CTSD

Purwanto.2009. evaluasi hasil belajar. yogyakarta:pustaka pelajar

 

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Proses HasilBelajarMengajar. Bandung: RemajaRosdakarya

 

Lufri.2006. StrategiPembelajaranBiologi.padang:UNP PRESS

 

basyiruddin, Usman.2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers

 

M. Dalyono.2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

 

Slameto.2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Keterampilan Variasi Mengajar  Guru Pendidikan agama Islam Terhadap Hasi Belajar Siswa

 

 

Oleh :

Mulia Resti

e-mail: restymulia@ymail.com

 

Abstrak

Didalam sebuah lembaga pendidikan yaitu sekolah atau madrasah bahwa kesuksesan atau kegagalan dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar siswa tergantung kepada kemampuan guru dalam melaksanankan variasi mengajar. Hal ini berguna untuk menciptakan suasana proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.

 

 

Kata Kunci:

Sekolah/madrasah, kemampuan guru, hasil belajar.

Keterampilan Variasi Mengajar Guru Pendidikan Agama Islam terhadap hasil Belajar Siswa

Pendidikan merupakan usaha pengembangan potensi peserta didik secara sadar, teratur, terencana dan terarah agar nanti menjadi manusia dewasa dalam segala aspek kehidupan, siap pakai dan terampil atau disebut juga dengan life skill.Hal ini sesuai dengan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:

Pendidikan merupakan proses yang terjadi secara bekesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik sesara aktif mengembangkan potensi dirinya untik memiliki spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pendidikan bertujuan untuk membantu proses pendewasaan terhadap peserta didik, sehingga dia mampu melakukan sesuatu untuk menjalani kehidupannya secara wajar dan juga dia mampu untuk menentukan apa yang harus dilakukan dalam rangka menatap masa depannya. Pendidikan menjadi sangat penting di dalam kehidupan manusia, karena hannya dengan pendidikanlah manusia dapat mencapai masa depan yang lebih baik lagi.

Pendidikan menurut Redja  Mudjiharjo:

Pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal, non formal dan informal di sekolah dan luar sekolah yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi perkembangan kemampuan-kemampuan indidvidu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat.

Dari uraian di atas pengertian pendidikan disebutkan bahwa pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bebagai bentuk pendidikan yang tujuan akhirnya adalah mengoptimalisasikan perkembangan peserta didik. Maka dari itu penyelenggaraan pendidikan haruslah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar tujuan yang diharapkan ini dapat tercapai.

Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan salah satu komponen pendidikan yang hakiki. Peserta didik sebagai manusia yang belum dewasa maka mereka membutuhkan hadirnya pendidik yang akan memberikan batuan kepadanya untuk mencapai kedewasaannya. Di dalam pengertian umum peserta didik sebagaimana dikemukakan oleh  Syaiful Bahri Djamarah ”setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang menjalankan kegiatan pendidikan, dalam arti sempit peserta didik adalah pribadi yang belum dewasa yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik.

Menurut Umar Tirta Raharja dan S.L.La Sulo ada beberapa ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik yaitu:

1.    Individu yang memiliki potensi pisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.

2.    Individu yang sedang berkembang.

3.    Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.

4.    Individu yang memiliki kemampuan yang unik.

Berbicara tentang suasana belajar, proses pembelajaran dan peserta didik tentu tidak terlepas mengenai lingkungan sekolah, yang mana di dalamnya tercakup faktor-faktor pendidikan yaitu tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, sarana pendidikan, dan lingkungan pendidikan. Untuk dapat terjalinnya hubungan timbal balik yang sistematis antara faktor-faktor pendidikan di atas, maka dalam dunia pendidikan tidak akan terpisah dari masalah kedisiplinan, karena dengan adanya disiplin maka peserta didik akan dapat belajar hidup dengan pembiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkunganny. Hal ini tidak terlepas dari tanggung jawab seorang guru untuk menciptakan disiplin bagi siswanya, terutama  di dalam pembelajaran, yang sesuai dengan sasaran pendidikan itu sendiri yaitu pengajaran dan perilaku yang baik.

Guru merupakan salah satu komponen dalam proses pendidikan yang ikut bergerak aktif dalam pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dan menempatkan diri sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntunan masyarakat yang semakin berkembang, dengan arti kata setiap guru harus dapat melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya dalam rangka membawa siswanya kepada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu, sekaligus pencapaian tujuan pendidikan.

Guru di sekolah merupakan figur atau tokoh utama yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh memberikan kemampuan dasar tentang pendidikan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Menurut Al-Ghazali dalam buku Bukhari Umar tugas guru agama yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dari pendapat di atas jelas bahwa tanggung jawab guru bukan hanya sebagai mentransfer ilmu kepada siswa, akan tetapi yang paling berat adalah membimbing dan mengarahkan siswa kepada pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupannya di dunia dan akhirat. Di samping itu, guru juga mengemban tugas atau fungsinya sebagai komunikator, motivator, dan pembimbing sebagaimana yang dikemukakan oleh Presy Katz sebagaimana dikutip oleh Sadirman AM bahwa: “Guru adalah sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasehat, motivator, sebagai pemberi inspirasi dan dorongan pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai”.

Meningkatkan kualitas belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar merupakan tanggung jawab guru, karena guru dengan kegiatan mengajarnya adalah membimbing aktivitas belajar siswa secara optimal. Hasil dari pengajaran guru yang dilakukan secara optimal adalah tingkat prestasi siswa. Walaupun guru bukan satu-satunya syarat penunjang tercapainya prestasi siswa. Namun, tidak dapat dinapikan bahwa gurulah yang mempunyai peranan sangat besar dalam peningkatan mutu siswa, karena guru lebih banyak berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar di dunia pendidikan. Di samping bimbingan guru dalam aktivitas belajar, sehingga siswa dapat mencapai prestasi belajar yang memuaskan, faktor lain yang juga menentukan adalah sikap siswa dalam belajar.

Hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mengiuti proses pembelajaran bergantung kepada kepiawaian guru dalam mengadakan variasi mengajar, termasuk di dalamnya adalah menciptakan suasana yang nyaman, penampilan yang menarik dan kreativitas dalam menyampaikan muatan dari materi pelajaran.

Untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam proses pembelajaran, guru dituntut mempersiapkan diri dalam kegiatan belajar mengajar dengan optimal yaitu dengan mengadakan variasi dalam mengajar. Guru harus memiliki kompetensi keguruan sebagai wujud keprofesionalannya. Inilah yang dimaksud Uzer Usman (2000) bahwa, agar dapat mencapai hasil yang optimal dalam kegiatan mengajar, guru harus dan dituntut untuk meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya yakni guru mampu merencanakan program pengajaran sekaligus mampu pula melaksanakannya dalam bentuk pengelolaan kegiatan belajar mengajar . Sementara menurut Buchari Alma (2009), salah satu ciri dari perbuatan profesional adalah usaha untuk meningkatkan keterampilan mengajar (Teaching Skill).

Dari kedua pendapat di atas, diyakini bahwa keterampilan mengajar guru yaitu kemampuan mengadakan variasi dalam mengajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa baik itu dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Artinya, keterampilan mengajar guru dalam mengadakan variasi dalam proses pembelajaran akan mempengaruhi hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Tentu hal ini tidak mudah dilakukan oleh seorang guru, karena guru dituntut untuk menciptakan suasana nyaman serta mampu mengadakan variasi mengajar selama kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan demikian guru akan lebih mudah dalam memfokuskan belajar siswa dan memberikan motivasi kepada mereka. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

Guru di sekolah merupakan figur atau tokoh utama yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh memberikan kemampuan dasar tentang pendidikan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Menurut Al-Ghazali dalam buku Bukhari Umar tugas guru agamayang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Mengadakan variasi merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru dalam pembelajaran,untuk mengatasi kebosanan peserta didik, agar slalu antusias, tekun,dan penuh partisipasi. Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi kejenuhan dan kebosanan dan menciptakan suasana proses pembelajaran yang menyenangkan sehingga dengan  demikian akan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Variasi dalam pola interaksi dapat dilakuakan sebagai berikut :

  1. Variasi dalam pengelompokan peserta didik: klasikal, kelompok besar, kelompok kecil dan perorangan.
  2. Variasi tempat kegiatan pembalajaran:dikelas dan diluar kelas.
  3. Variasi dalam pola pengaturan guru:seorang guru dan tim
  4. Variasi dalam pengatuaran hubungan guru dengan peserta didik:langsung ) tatap muak), dan melalui media.
  5. Variasi dalam struktur peristiwa pembelajaran:terbuka dan tertutup.
  6. Variasi dalam pengorganisasian pesan deduktif dan induktif.

Variasi dalam kegiatan pembalajaran dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Variasi dalam penggunan metode pembelajaran.
  2. Variasi dalam pengguanaan media dan sumber belajar.
  3. Variasi dalam pemberian contoh dan ilustrasi.
  4. Variasi dalam interaksi dan kegiatan peserta didik.

Variasi dalam gaya belajar dapat dilakukan dengan berbagai sebagai berikut:

  1. Variasi suara, yaitu: rendah,tinggi, besar, kecil.
  2. Memusatkan perhatian
  3. Mebuat kesenyapan sejenak ( diam sebentar)
  4. Mengadakan kontak pandang dengan peserta didik
  5. Variasi gerakan badan dan mimik
  6. Mengubah posisi, misalnya: dari depan kelas, berkeliling didepan kelas, dan kebelakang kelas, tetapi jangan mensgganggu suasana pembelajaran.

Jadi seorang guru dalam melaksanakan variasi harus ada pengelolaan kelasnya, dan pengelolaan kelas merupakan  keterampilan guru untuk menciptakan  dan memelihara kondisi belajar yang optimal, kondusif dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Adapun prinsip penggunaannya sebagai berikut : (1) Kehangatan dan keantusiasan, (2) Tantangan, (3) Bervariasi, (4) Keluwesan, (5) Penekanan pada hal-hal yang positif, (6) Penanaman disiplin diri.

a.       Komponen keterampilan dalam mengelola kelas

1.                  Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal:

a)      Menunjukan sikap tanggap dengan cara: memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan kelas.

b)      Membagi perhatian secara visual dan verbal

Visual: mengalihkan pandangan dari suatu kegiatan kepada kegiatan yang lain dengan kontak pandang terhadap kelompok siswa atau seorang siswa secara individual

Verbal: guru dapat memberikan komentar, penjelasan,pertanyaan dan sebaginya terhadap aktivitas seorang siawa sementara ia memimpin kegiatan siswa.

c)      Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan peserta didik dalam pembelajaran.kegiatan siswa dalam belajar dapat dipertahankan apabila dari waktu ke waktu guru mampu memusatkan perhatian kelompok terhadap tugas-tugas yang dilakukannya.

d)     Memberi petunjuk yang jelas. Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam pelajaran sehingga tidak terjdi kebingungan pada diri siwa

e)      Memberi teguran secara bijaksana.apabila terjdi tingkah laku siswa yang menggangu kelas atau kelompok dalam kelas,hendaklah guru menegurnya secara verbal.

f)        Memberi penguatan ketika diperlukan.disini guru dapat memberikan penguatan kepda siswa yang menggangu, yaitu dengan jalan “menangkap” siswa tersebut ketika ia sedang melakukan tingkah laku yang tidak wajar dan kemudian menegurnya dan guru juga dapat memberikan penguatan kepda siswa yang bertingkah laku wajar dengan demikian menjadi contoh atau teladan bagi tingkah laku positif bagi siswa yang suka menggangu.

2.  keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi yang optimal.

a)Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah atau kesulitan dan memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.

b)                  Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah dengan cara: memperlancar tugas-tugas dan memelihara kegiatan-kegiatan kelompok.

c)Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendaklikan tingkah laku keliru yang muncul dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.

b.  Hal-hal yang harus dihindari

Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru yaitu:

1.      Campur tangan yang berlebihan

      Apabila guru menyela kegiatan yang sedang asyik berlangsung dengan komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak, kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberi kesaan kepada siswa bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri.

2.      Kelenyapan

                  Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas: juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan fikiran siswa mengawang-awang, melantur, mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran.

3.      Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan

Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktifitas tanpa mengakhiri aktifitas sebelumnya menghentikan kegiatan pertama, mulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya menggangagu kelancaran kegiatan belajar siswa.

4.      Penyimpangan

      Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahan tertentu memungkinkan ia dapat menyimpang. Penyimpanngan tersebut dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.

5.      Bertele-tele

      Permasalahan ini terjadi apabila pembicaraan guru mengulang-ulang hal-hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran yang sederhana menjadi ocehan atau kupasan yang panjang.

 

 

 Kesimpulan

 

Pendidikan merupakan proses yang terjadi secara bekesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik sesara aktif mengembangkan potensi dirinya untik memiliki spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Guru di sekolah merupakan figur atau tokoh utama yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh memberikan kemampuan dasar tentang pendidikan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Menurut Al-Ghazali dalam buku Bukhari Umar tugas guru agama yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Guru di sekolah merupakan figur atau tokoh utama yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh memberikan kemampuan dasar tentang pendidikan dan meningkatkan kualitas peserta didik. Menurut Al-Ghazali dalam buku Bukhari Umar tugas guru agama yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan serta membimbing hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Daftar Bacaan

Redja Mudyaharjo, 2001, Pengantar Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada,

Syaiful Bahri Djamarah, 1991, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional.

Ahmad Rohani, 1995, Abu Ahmdi, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Sardiman AM, 1986, Interaksi Dan Motivasi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Moh.Uzer Usmsn, 2004, Guru Frofesional, PT Remaja Rosdakarya.

Direktoral Jendral pendidikan Agama Islam Departemen Agama RI, 2006, Undang-Undang Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan, Jakarta:Depetemen Agama RI.

Bukhari Umar, 2010, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah.

 

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

STRATEGI PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP PESERTA DIDIK

 

Oleh:

Mursalin

 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengurangi atau bahkan menihilkan nilai kemanusiaan atau yang disebut dehumanisasi. Ibarat cerita Raja Midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan dia tidak semakin senang, tetapi semakin resah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan seisi rumah yan menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang raja pun akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya.

Kemajuan zaman yang terjadi saat ini, yang semula dipandang akan memudahkan pekerjaan manusia, kenyataannya juga menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi manusia, yaitu kesepian dan keterasingan baru, yang ditandai dengan lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturrahim.

Contohnya, penemuan televisi, komputer, dan handphone telah mengakibatkan sebagian masyarakat terutama remaja dan anak-anak terlena dengan dunia layar. Layar kemudian menjadi teman setia. Hampir setiap bangun tidur menekan tombol televisi untuk melihat layar, mengisi waktu luang dengan menekan tombol handphone melihat layar untuk ber-sms ria, main game atau facebook-an. Akibatnya, hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang. Ini menunjukkan bahwa terknologi layar mampu membius sebagian besar remaja dan anak-anak untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain.

Thomas Lickona mengungkapkan sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda ini terdapat dalam suatu bangsa, berarti bangsa tersebut sedang berada di tebing jurang kehancuran. Tanda-tanda tersebut: (1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; (2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; (3) Pengaruh peergroup yang kuat dalam tindak kekerasan; (4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan perilaku seks bebas; (5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) Menurunnya etos kerja. (7) Semakin rendahnya rasa hormat pada orangtua dan guru; (8) Rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara; (9) Membudayanya ketidakjujuran; dan (10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Diakui dan disadari atau tidak, perilaku masyarakat kita sekarang terutama remaja dan anak-anak menjadi sangat mengkhawatirkan, karena mengarah kepada apa yang disebut oleh Lickona di atas. Meningkatnya kasus penggunaan narkoba, pergaulan/ seks bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, dan lain-lain menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Berbagai kejadian dan fenomena yang terjadi di atas semakin membuka mata kita bahwasanya diperlukan obat yang mujarrab dan ampuh untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut. Kata kunci dalam memecahkan persoalan tersebut terletak pada upaya penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter sejak dini yang dilakukan secara terpadu di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat barangkali bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi semua persoalan demikian. (Syamsul Kurniawan, 2012)

Semua pihak dituntut untuk berfikir dan mencarikan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan tersebut, tak terkecuali dengan dunia pendidikan. Dunia pendidikan dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat, terutama untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi berbagai dinamika perubahan yang berkembang dengan sangat cepat khususnya pergeseran aspek nilai dan moral dalam kehidupan masyarakat. Dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan siswa merupakan contoh bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Selain perilaku kekerasan, isu-isu moralitas dikalangan remaja seperti penggunaan narkotika, pornoaksi, tawuran pelajar, free sex, aborsi, perkosaan, perampasan, pencurian, pembunuhan, dan tindakan-tindakan amoral lainnya sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Beberapa data dapat digunakan untuk menggambarkan bahwa betapa dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan oleh siswa dan kaum pelajar serta para pemuda merupakan contoh bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Belum lama ini begitu hangat-hangatnya pemberitaan tentang tawuran pelajar seperti yang terjadi diwilayah Jakarta yang menewaskan seorang pelajar. Begitu juga tawuran antara mahasiswa di Makassar dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang terjadi yang mungkin luput dari pemberitaan media.

Berbagai permasalahan bangsa sebagaimana disebutkan di atas harus segera diakhiri. Sejatinya semua pihak perlu introspeksi diri, segera mencari solusi jitu dan terlibat secara intensif. Salah satu solusi yang sangat tepat adalah dengan optimalisasi penerapan pendidikan karakter di sekolah menengah. Pola pendidikan saat ini hanya menghasilkan siswa yang kehilangan kepekaan sosial (sence of social crisis) atau kehilangan kasadaran budi nurani manusia (social consciousness of men).

Siswa hanya memiliki kemampuan teknis (skill) dan menjadi manusia “siap pakai” layaknya robot (Ghopur, 2010). Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana (Dimyati, 2010).

Banyak orang berpandangan bahwa kondisi demikian diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Dunia pendidikan, sesungguhnya memberikan kontribusi paling besar terhadap situasi ini. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih meninikberatkan pada pengembangan intelektual semata. Aspek-aspek lain yang ada dalam diri siswa, yaitu aspek afektif dan kebajikan moral kurang mendapatkan perhatian (Koesoema, 2007; Koesoema, 2009).

Kondisi ini menegaskan bahwa para guru yang mengajar mata pelajaran apa pun harus memiliki perhatian dan menekankan pentingnya pendidikan karakter pada para siswa.

Perlu diketahui, bahwa untuk memberikan pendidikan karakter terhadap peserta didik tidak cukup hanya dilingkungan sekolah semata, pendidikan karakter harus dimulai dari pendidikan keluarga semenjak masih balita.

Dari kedua orang tua, untuk pertama kali seorang anak mengalami pembentukan karakter dan mendapatkan pengarahan moral. Dalam keseluruhannya, kehidupan anak juga lebih banyak dihabiskan dalam pergaulan keluarga. Itulah sebabnya, pendidikan keluarga disebut sebagai pendidikan yang pertama dan utama, serta merupakan peletak pondasi dari karakter dan pendidikan setelahnya. Dalam hal ini, orang tua bertindak sebagai pendidik, dan si anak bertindak sebagai peserta didik.

Menurut pendapat al-Ghazali, anak-anak adalah suatu hal yang sangat penting sekali, karena anak sebagai amanat bagi orang tuanya. Hati anak suci bagaikan mutiara cemerlang, bersih dari segala ukiran serta gambaran, ia dapat mampu menerima segala yang diukirkan atasnya dan condong kepada segala yang dicondongkan kepadanya. Maka bila ia dibiasakan ke arah kebaikan dan diajar kebaikan jadilah ia baik dan berbahagia dunia akhirat, sedang ayah serta para pendidik-pendidiknya turut mendapat bagian pahalanya. Tetapi bila dibiasakan berperilaku jelek atau dibiarkan dalam kejelekan, maka celaka dan rusaklah ia, sedang wali serta pemeliharanya mendapat beban dosanya. Untuk itu wajiblah wali menjaga anak dari perbuatan dosa dengan mendidik dan mengajarnya berakhlak bagus, menjaganya dari pengaruh buruk lingkungan dan teman-temannya.

Tugas orang tua ini akan lebih jelas lagi bila dihubungkan dengan firman Allah,

$pkš‰r¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqè%ö/ä3|¡àÿRr&ö/ä3‹Î=÷dr&ur#Y‘$tR$ydߊqè%urâ¨$¨Z9$#äou‘$yfÏtø:$#ur$pköŽn=tæîps3Í´¯»n=tBÔâŸxÏî׊#y‰Ï©žwtbqÝÁ÷ètƒ©!$#!$tBöNèdttBr&tbqè=yèøÿtƒur$tBtbrâsD÷sãƒÇÏÈ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS at-Tahrim: 6).

Keluarga sebagai salah satu dari lingkungan pendidikan yang paling berpengaruh atas jiwa anak, karena keluarga adalah lingkungan pertama di mana manusia melakukan komunikasi dan sosialisasi diri dengan manusia lain selain dirinya. Di lingkungan keluarga pula manusia untuk pertama kalinya dibentuk; baik sikap maupun kepribadiannya. Maka keluarga mesti menciptakan suasana yang edukatif sehingga anak didiknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia sebagaimana yang menjadi tujuan ideal dalam pendidikan.

Dalam perspektif pendidikan Islam, agar keluarga mampu menjalankan fungsinya dalam mendidik anak secara Islami, maka sebelum dibangun keluarga perlu dipersiapkan syarat-syarat pendukungnya. Al-Qur’an memberikan syarat yang bersifat psikologis, seperti saling mencintai, kedewasaan yang ditandai oleh batas usia tertentu dan kecukupan bekal ilmu dan pengalaman untuk memikul tanggung jawab yang di dalam al-Qur’an disebut baligh. Selain itu, kesamaan agama juga menjadi syarat terpenting. Kemudian tidak dibolehkan menikah karena ada hal-hal yang menghalanginya dalam ajaran Islam, yaitu syirik atau menyekutukan Allah dan dilarang pula terjadinya pernikahan antara seorang pria suci dengan perempuan pezina. Selanjutnya, juga persyaratan kesetaraan dalam perkawinan baik dari segi latar belakang agama, sosial, pendidikan dan sebagainya. Dengan memperhatikan persyaratan tersebut, maka diharapkan akan tercipta keluarga yang mampu menjalankan tugasnya—salah satu di antaranya—mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi yang tidak lemah dan terhindar dari api neraka.

Karena besarnya peran keluarga dalam pendidikan, Sidi Gazalba, seperti yang dikutip Ramayulis (2008), mengkategorikannya sebagai lembaga pendidikan primer, utamanya untuk masa bayi dan masa kanak-kanak sampai usia sekolah. Dalam lembaga ini, sebagai pendidik adalah orang tua, kerabat, famili, dan sebagainya. Orang tua selain sebagai pendidik, juga sebagai penanggung jawab. Oleh karena itu, orang tua dituntut menjadi teladan bagi anak-anaknya, baik berkenaan dengan ibadah, akhlak, dan sebagainya. Dengan begitu, kepribadian anak yang baik dapat terbentuk sejak dini sehingga menjadi modal awal dan menentukan dalam proses pendidikan karakter selanjutnya yang akan ia jalani.

Untuk memenuhi harapan tersebut, Al-Qur’an juga menuntun keluarga agar menjadi lingkungan yang menyenangkan dan membahagiakan, terutama bagi anggota keluarga itu sendiri. Al-Qur’an memperkenalkan konsep kelurga sakinah, mawaddah, warahmah. Firman Allah SWT:

ô`ÏBurÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä÷br&t,n=y{/ä3s9ô`ÏiBöNä3Å¡àÿRr&%[`ºurø—r&(#þqãZä3ó¡tFÏj9$ygøŠs9Î)Ÿ@yèy_urNà6uZ÷t/Zo¨Šuq¨BºpyJômu‘ur4¨bÎ)’Îûy7Ï9ºsŒ;M»tƒUy5Qöqs)Ïj9tbr㍩3xÿtGtƒÇËÊÈ

Artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS ar-Ruum: 21).

Selain itu, fungsi keluarga dalam kajian lingkungan pendidikan Islam, sekurang-kurangnya ada dua, yaitu:

1.      Keluarga sebagai institusi sosial.

Di sini orang tua berkewajiban mengembangkan fitrah dan bakat yang dimiliki anaknya. Pendidikan dalam perspektif ini harusnya tidak menempatkan  anak sebagai objek yang dipaksa mengikuti nalar dan kepentingan pendidikan, tetapi sebaliknya pendidikan pada anak berarti mengembangkan potensi dasar yang dimiliki anak yang dimaksud. Potensi yang dimaksud cenderung pada kebenaran. Karena ia cenderung pada kebenaran, maka orang tua dituntut untuk mengarahkannya. Dalam kaitannya sebagai institusi sosial, maka keluarga menjadi bagian dari masyarakat dan negara. Tanggung jawab sosial dalam keluarga akan menjadi kesadaran bagi perwujudan masyarakat yang baik. Seperti kita mafhumi, keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama. Di lingkungan ini anak akan diperkenalkan dengan kehidupan sosial. Adanya interaksi antara anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain menyebabkan ia menjadi bagian dari kehidupan sosial.

 

 

2.      Keluarga sebagai institusi keagamaan.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat dididik dan membutuhkan pendidikan. Yang jauh lebih penting lagi adalah peran orangtua menanamkan nilai-nilai keagamaan dan keimanan anak. Aspek ini membutuhkan kasih sayang, asuhan, dan perlakuan yang baik. Termasuk yang jauh lebih penting lagi adalah peran orangtua menanamkan nilai-nilai keagamaan dan keimanan anak. Model pendidikan keimanan yang diberikan orangtua kepada anak dituntut agar lebih dapat merangsang anak dalam mencontoh perilaku orangtuanya (uswatun hasanah).

Lingkungan keluarga menjadi faktor penting dalam menanamkan pendidikan karakter anak, di luar faktor pendidikan di sekolah serta lingkungan sosial. lingkungan keluarga ini, bisa dimulai dari situasi dalam keluarga dan pola pendidikan yang dilakukan.

Jika pola pendidikan karakter di tengah keluarga sudah terbangun dengan baik, dengan sendirinya anak akan lebih mudah untuk menerima pendidikan karakter di sekolah. Demikian pula saat anak harus bersinggungan dengan lingkungan sosial.

Dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Kelompok Diskusi (Poksi) Komisi X FPKS DPR RI, Irma Rahayu mengatakan, untuk menanamkan pendidikan karakter yang baik dari keluarga perlu dilihat dulu kondisi orang tua. Yang paling penting menurutnya, membuang depresi kedua orang tua di tengah persoalan hidup yang kian kompleks.

Sayangnya, kata Irma, yang terjadi sekarang ini orang tua sering mengabaikan dan menyerahkan pendidikan karakter anak kepada sekolah. Persoalan baru pun muncul saat para pengajar (guru) yang harusnya bisa memberikan pendidikan karakter ini juga sudah membawa stres dari rumahnya.

Ditambah dengan lingkungan sosial si anak yang kurang mendukung, jadilah masalah pendidikan karakter ini mandeg. “Kalau sudah kompleks tidak ada yang mau disalahkan dalam kegagalan menanamkan pendidikan karakter ini,” tambahnya.

Anggota Komisi X, Soenmandjaja Roekmandis menambahkan, kegagalan keluarga dalam menanamkan pendidikan karakter memang bisa dimulai dari hal yang kecil di tengah keluarga.

Ia mencontohkan, bagaimana orang tua menyuruh anak rajin ke masjid tetapi orang tuanya sendiri juga jarang melakukannya. “Atau orang tua yang memperingatkan anaknya untuk tidak merokok tapi dilakukan orang tua sambil merokok,” ungkap Roekamandis. (Republika Online, 2012)

Setelah keluarga, sekolah merupakan lembaga pendidikan formal, yang menentukan dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Bahkan sekolah, madrasah atau pesantren bisa disebut sebagai lembaga pendidikan kedua yang berperan dalam mendidik peserta didik. Hal ini cukup beralasan, mengingat bahwa sekolah merupakan tempat khusus dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan.

Strategi implementasi pendidikan karakter di sekolah antara lain dapat dilakukan dengan cara:

1.    Dengan mengintegrasikan konten kurikulum pendidikan karakter yang telah dirumuskan ke dalam seluruh mata pelajaran yang relevan, terutama mata pelajaran agama, kwarganegaraan, dan bahasa (baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah).

2.    Dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

3.    Dengan mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan.

4.    Dengan membangun komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua peserta didik.

 Sedangkan metode implementasi pendidikan karakter dalam keseharian di sekolah dapat juga ditempuh dengan cara:

1.      Keteladanan

2.      Teguran atau nasehat.

3.      Cerita / kisah teladan.

4.      Pengkondisian lingkungan, penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai karakter yang mudah dibaca oleh peserta didik, dan aturan/tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis.

5.      Kegiatan Rutin, berbaris masuk ruang kelas untuk mengajarkan budaya antri, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, dan membersihkan ruang kelas tempat belajar.

Lalu, adanya peran lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter mencakup (1) mengumpulkan guru, orangtua dan siswa bersama-sama mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur karakter yang mereka ingin tekankan, (2) memberikan pelatihan bagi guru tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kehidupan dan budaya sekolah, (3) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat agar siswa dapat mendengar bahwa prilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah dan di kehidupannya, dan (4) memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat untuk menjadi model prilaku sosial dan moral (US Department of Education).

Upaya atau strategi lainnya adalah menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan. Lingkungan yang nyaman dan menyenangkan adalah mutlak diciptakan agar karakter anak dapat dibentuk. Hal ini erat kaitannya dengan pembentukan emosi positif anak, dan selanjutnya dapat mendukung proses pembentukan empati, cinta, dan akhirnya nurani/batin anak.

Meningkatkan guru yang kompeten dan berkarakter adalah strategi lain, namun untuk menjadikan guru yang seperti itu perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan di antaranya: (1) Teori tentang Pentingnya Pendidikan Karakter, (2) Teori dan Implementasi Pendidikan 9 Pilar Karakter secara eksplisit; knowing the good, reasoning the good, feeling the good, and acting the good, (3) Prinsip dan penerapan Brain-based Learning, (4) Penerapan Developmentally Appropriate Practices, (5) Penerapan Multiple Intelligences, (6) Prinsip dan Penerapan Character-based Integrated Learning, (7) Prinsip dan Penerapan Cooperative Learning, (8) Komunikasi Positif dan Efektif, (9)  Prinsip dan Penerapan Student Active Learning, Contextual Learning, dan Project-based Learning, (10) Delapan Prinsip Belajar Membaca Menyenangkan, (11) Prinsip dan Penerapan Inquiry-based Learning, (12) Fun Story Telling, (13) Manajemen Kelas, (14) Penerapan sistem Sentra, (15) Character-based Co-Parenting, dan (16) Training Motivasi.

Terakhir adalah adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua. Orangtua dilibatkan secara aktif didalam usaha pengembangan karakter anak. Salah satu faktor keberhasilan pendidikan karakter adalah adanya konsistensi antara sekolah dan rumah mengenai penerapan pilar-pilar karakter yang ditanamkan. Sekolah Karakter selalu mengadakan sosialisasi mengenai visi/misi dan filosofi pendidikan yang diterapkan di Sekolah Karakter. Pada awal tahun ajaran baru pihak sekolah mewajibkan orangtua untuk mengikuti seminar yang diadakan pihak sekolah. Selain itu, secara berkala pihak sekolah mengadakan seminar parenting education. Hal ini dilakukan agar para orangtua mengerti mengenai praktik-praktik pengasuhan yang berbahaya bagi pengembangan karakter anak. Para orangtua juga dihimbau untuk membaca buku-buku tentang Pendidikan Karakter, yang memberikan petunjuk bagaimana menanamkan karakter pada anak. Dengan adanya kerjasama ini ternayata banyak orangtua yang mengaku banyak belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik, dan bahkan merasakan bahwa karakternya juga semakin baik, dan banyak belajar mengenai perilakuperilaku akhlak mulia dari anak-anaknya.(Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd, 2012)

Tidak hanya keluarga dan sekolah dalam hal ini, masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal, juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan karakter, tetapi tidak mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Masyarakat yang terdiri dari sekelompok atau beberapa individu yang beragam akan mempengaruhi pendidikan peserta didik yang tinggal di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam pendidikan karakter, masyarakat memiliki juga mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mendidik.

Masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang lebih luas turut berperan dalam terselenggaranya proses pendidikan karakter. Setiap individu sebagai anggota dari masyarakat tersebut harus bertanggung jawab dalam menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung. Oleh karena itu, dalam pendidikan anak pun, umat Islam dituntut untuk memilih lingkungan yang mendukung pendidikan karakter anak dan menghindari masyarakat yang buruk. Sebab, ketika anak atau peserta didik berada di lingkungan masyarakat yang kurang baik, maka perkembangan kepribadian atau karakter anak tersebut akan bermasalah.

Dalam kaitannya dengan lingkungan keluarga, orang tua harus memilih lingkungan masyarakat yang sehat dan cocok sebagai tempat tinggal orang tua beserta anaknya. Begitu pula sekolah atau madrasah sebagai lembaga pendidikan formal, juga perlu memilih lingkungan yang mendukung dari masyarakat setempat dan memungkinkan terselenggaranya pendidikan tersebut. Berpijak dari tanggung jawab tersebut, maka dalam masyarakat yang baik bisa melahirkan berbagai bentuk pendidikan kemasyarakatan, seperti masjid, surau, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), wirid remaja, kursus-kursus keislaman, pembinaan rohani, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memberikan kontribusi dalam pendidikan yang ada di sekitarnya.

Mengingat pentingnya peran masyarakat sebagai lingkungan pendidikan, maka setiap individu sebagai anggota masyarakat harus menciptakan suasana yang nyaman demi keberlangsungan proses pendidikan yang terjadi di dalamnya. Di Indonesia sendiri dikenal adanya konsep pendidikan berbasis masyarakat (community based education) sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Meskipun konsep ini lebih sering dikaitkan dengan penyelenggaraan lembaga pendidikan formal (sekolah), akan tetapi dengan konsep ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan serta keberadaannya sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di suatu lembaga pendidikan formal.

 

 

 

 

 

 

Sumber Referensi:

Afif Nurul Iman. 2011. Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah. (tersedia: http://www.mediafire.com/?ucdoohkulpu2772). Online 27 November 2012

Ahmad Sarjita. 2012. Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah. (tersedia: http://ahmadsarjita.blogspot.com/2012/09/penerapan-pendidikan-karakter-di-sekolah.html). Online 27 November 2012

Ibnu Fajar. 2012. Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah. (tersedia: http://ibnufajar75.wordpress.com/2012/01/25/penerapan-pendidikan-pendidikan-karakter-di-sekolah/). Online 27 November 2012

Komunitas Pendidikan. 2012. Cara Jitu Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. (tersedia: http://komunitaspendidikan.com/index.php/forum/cara-jitu-menerapkan-pendidikan-karakter-di-sekolah/264). Online 27 November 2012

Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd. 2012. Strategi Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. (tersedia:http://muhammadiyah-jakarta-selatan.blogspot.com /2012/10/strategi-implementasi-pendidikan.html). Online 05 Desember 2012

Republika Online

Syamsul Kurniawan. 2012. Pentingnya Pendidikan Karakter. (tersedia:http://catatansyamsul.wordpress.com/2012/10/27/pentingnya-pendidikan-karakter/). Online 05 Desember 2012

Timothy Wibowo. Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini. (tersedia:http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-usia-dini/). Online 27 November 2012

. Pentingnya Membangun Lingkungan Berkarakter. (tersedia : http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-membangun-lingkungan-berkarakter/). Online 27 November 2012

. Peran Pendidikan Karakter dalam Melengkapi Kepribadian. (tersedia: http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-melengkapi-kepribadian/). Online 27 November 2012

 . Peran Pola Asuh dalam Membentuk Karakter Anak. (tersedia: http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak/). Online 27 November 2012

 

Yulita Muspitasari. 2012. Implementasi Pendidikan Karakter pada Sekolah Berasrama (Boarding School) di Madrasah Aliyah Negeri 1 Surakarta.(tersedia:http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/12/implementasi-pendidikan-karakter/). Online 27 November 2012

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH SEBAGAI SARANA MEMBENTUK  KARAKTER YANG BAGUS PADA SISWA

 

Oleh:

Nafriza Yuni / NIM. 09 101 059

e-mail : nafriza.yuni@yahoo.com

 

Kata Kunci:  Pendidikan, Karakter, Sekolah, Siswa

Pendidikan Karakter

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut kearah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaska peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa.  

Pendidikan karakter dapat diartikan dengan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan.

Pendidikan karakter merupakan usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya sehari-hari. Islam juga mengajarkan nilai-nilai karakter ini, nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an berkaitan dengan Akhlak terpuji (yang harus dilakukan) dan akhlak tercela (yang harus dihindari).

Pendidikan karakter bukan hanya berurusan dengan penanaman nilai pada diri siswa atau peserta didik, melainkan merupakan sebuah usaha bersama untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan tempat individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa. Melalui pendidikan karakter ini diharapkan dapat dilahirkan manusia yang memiliki kebebesan menentukan pilihannya, tanpa paksaan dan penuh tanggung jawab. Yaitu manusia-manusia yang merdeka, dinamis, inovatif, dan bertanggung jawab, baik terhadap Tuhan, manusia, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Dalam pendidikan karakter harus melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Jika salah satu tidak ada maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dari proses kesadaran seseorang mengetahui tentang nilai-nilai yang baik (knowing the good), lalu merasakan dan mencintai kebaikan (feeling and loving the good) itu sehingga terpatri dan terukir dalam jiwanya yang akhirnya menjadi berkakter kuat untuk melakukan kebaikan.

Ada sepuluh  pilar dari nilai-nilai karakter, yaitu:

1.      Karakter cinta dan ikhlas terhadap Allah swt dan segenap ciptaan-Nya. Ibadah pada hakikatnya segala sikap dan prilaku yang di ditujukan untuk mencari rido Allah, baik itu ibadah personal maupun ibadah sosial.

2.      Tanggung jawab dan kemandirian. Setiap orang bertanggungjawab terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan dalam tindakan manusiawi secara mandiri. Anugerah Tuhan kepada manusia berupa potensi internal (akal, nafs, kalbu, dan fitrah yang dihidupi oleh ruh), kesadaran dan kebebasan memilih untuk bertindak, menjadikan manusia bertanggungjawab apa yang dikatakan dan dilakukan secara mandiri. Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya. Paling tidak seseorang bertanggungjawab memimpin dirinya sendiri.

3.      Kejujuran dan amanah. Menurut Mohammad Nuh, diantara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Di samping itu apabila seseorang diberi amanah, maka ia harus mampu memikul dan menunaikan amanah itu sesuai dengan hak-hak dan kewajiban yang melekat dalam amanah itu.

4.      Saling hormat menghormati dan berlaku santun dalam bersikap dan berkomunikasi. Kebanyakan orang sukses justru ditentukan sejauh mana seseorang menghormati, menghargai dan santun dalam berkomunikasi. Intelegensi hanya salah satu faktor saja untuk menuju sukses.

5.      Ta’awun (tolong menolong), adil (hidup seimbang) dan ihsan (berbuat lebih baik dan terbaik) dan kerjasama dalam menciptakan tatanan dunia yang bermoral. Manusia diciptakan dalam posisinya bersosial. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Bahkan telah matipun, harus dibantu orang lain, yang dikenal dalam Islam fardu kifayah (kewajiban kolektif) untuk menyolatkan, memandikan, mengkafani, dan menanamnya.

6.      Percaya diri dan pekerja keras. Setiap muslim diperintahkan,  jika seseorang selesai  melakukan suatu pekerjaaan, cepat bergegaslah untuk mengerjakan lainnya.

7.      Kepemimpinan. Memimpin diri sendiri dan orang lain untuk menata dunia dalam tatanan moral merupakan suatu keharusan dalam Islam.

8.      Berprilaku baik dan rendah hati. Memperjuangkan kebenaran apabila dilakukan dengan cara yang baik dan rendah hati jauh lebih bermakna dan lebih efektif, daripada dilakukan dengan cara yang tidak baik dan arogan.

9.      Keteladanan. Panji-panji Islam dapat ditegakkan apabila seseorang menempatkan dirinya sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi masyarkat dan keluarganya. Tidak akan dapat menciptakan tatanan dunia yang bermoral apabila terutama para pemimpinnya belum dapat menjadikan diri mereka menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Presiden menjadi teladan bagi rakyatnya. Orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Guru menjadi teladan bagi murid-muridnya. Majikan menjadi teladan bagi para pekerjanya. Supir menjadi teladan bagi penumpangnya. Pimpinan media menjadi teladan bagi pembacanya dan seterusnya.

10.  Toleransi (tasamuh), kedamaian, dan kesatuan. Manusia diciptakan dalam perbedaan. Yang saudara sekandung dan kembarpun pasti berbeda, apalagi yang bukan saudara dan bukan pula kembar. Seseorang tidak boleh bercita-cita untuk menyeragamkan (uniform) setiap orang.

Didalam al-Quran kata-kata  karakter dalam arti sifat, tabi’at dan sikap batin sebagaimana tersebut diatas mirip dengan pengertian akhlak yang jamaknya khuluq. Misalanya terdapat didalam al-Quran surat al-Qalam ayat 4:

y7¯RÎ)ur4’n?yès9@,è=äz5OŠÏàtãÇÍÈ

Artinya: Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam: 4)

Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter, yaitu:

a.    Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa

b.    Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius

c.    Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa

d.   Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan

e.    Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity)

              Pendidikan karakter menurut al-Quran bertujuan untuk:

a.    Untuk mengeluarkan dan membebaskan manusia dari kehidupan yang gelap (tersesat) kepada kehidupan yang terang (lurus), terdapat didalam al-Quran surat al-Ahzab ayat 43:

uqèd“Ï%©!$#’Ìj?|ÁãƒöNä3ø‹n=tæ¼çmçGs3Í´¯»n=tBur/ä3y_̍÷‚ã‹Ï9z`ÏiBÏM»yJè=—à9$#’n<Î)͑q–Y9$#4tb%Ÿ2urtûüÏZÏB÷sßJø9$$Î/$VJŠÏmu‘ÇÍÌÈ

          Artinya:“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.

b.    Menunjukkan manusia dari kehidupan yang keliru kepada kehidupan yang benar, didalam surat al-Jumu’ah ayat 2:

uqèd“Ï%©!$#y]yèt/’Îûz`¿Íh‹ÏiBW{$#Zwqߙu‘öNåk÷]ÏiB(#qè=÷FtƒöNÍköŽn=tã¾ÏmÏG»tƒ#uäöNÍkŽÏj.t“ãƒurãNßgßJÏk=yèãƒur|=»tGÅ3ø9$#spyJõ3Ïtø:$#urbÎ)ur(#qçR%x.`ÏBã@ö6s%’Ås99@»n=|Ê&ûüÎ7•BÇËÈ

          Artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

c.    Mengubah manusia yang biadab (jahiliyah) menjadi manusia yang beradab, terdapat didalam surat al-Baqarah ayat 67:

øŒÎ)urtA$s%4Óy›qãBÿ¾ÏmÏBöqs)Ï9¨bÎ)©!$#ôMä.âßDùtƒbr&(#qçtr2õ‹s?Zots)t/((#þqä9$s%$tRä‹Ï‚­Gs?r&#Yrâ“èd(tA$s%èŒqããr&«!$$Î/÷br&tbqä.r&z`ÏBšúüÎ=Îg»pgø:$#ÇÏÐÈ

          Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.

d.   Mendamaikan manusia yang bermusuhan menjadi bersaudara, dan menyelamatkan manusia yang yang berada ditepi jurang kehancuran menjadi manusia yang selamat dunia akhirat, didalam surat Ali Imran ayat 103:

(#qßJÅÁtGôã$#urÈ@ö7pt¿2«!$#$Yè‹ÏJy_Ÿwur(#qè%§xÿs?4(#rãä.øŒ$#ur|MyJ÷èÏR«!$#öNä3ø‹n=tæøŒÎ)÷LäêZä.[ä!#y‰ôãr&y#©9rsùtû÷üt/öNä3Î/qè=è%Läêóst7ô¹rsùÿ¾ÏmÏFuK÷èÏZÎ/$ZRºuq÷zÎ)÷LäêZä.ur4’n?tã$xÿx©;otøÿãmz`ÏiB͑$¨Z9$#Nä.x‹s)Rrsù$pk÷]ÏiB3y7Ï9ºx‹x.ßûÎiüt6リ!$#öNä3s9¾ÏmÏG»tƒ#uä÷/ä3ª=yès9tbr߉tGöksEÇÊÉÌÈ

          Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

              Didalam hadis dijumpai pesan dan ajaran dari Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang tingginya kedudukan nilai-nilai pendidikan karakter, diantaranya ia diutus untuk menyempurnakan dan membina akhlak yang mulia, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Keharusan menjunjung tinggi karakter mulia (akhlaq karimah) lebih dipertegas lagi oleh Nabi saw. dengan pernyataan yang menghubungkan akhlak dengan kualitas kemauan, bobot amal, dan jaminan masuk surga. Sebagaimana terdapat didalam hadis Rasulullah saw. yang berbunyi:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Artinya: Abu Hurairah r.a.  meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Baihaqi)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا وَكَانَ يَقُولُ « إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

            Artinya: “Abdullah bin Amr RA, berkata, “Nabi SAW bukan seorang yang keji dan bukan pula bersikap keji. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari)

عن جابر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللهَ بَعَثَنِيْ بِتَمَامِ مَكَارِمِ الأَخْلاَقِ وَكَمَالِ محَاَسِنِ الأَفْعَالِ

            Artinya: ”Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah saw. Berkata ‘Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.” (HR. Thabrani).   

Pendidikan Karakter perlu dikembangkan di sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Adapun acuan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan sebagaimana uraian berikut.

1.      Olah hati (spiritual and emotional development). Olah hati bermuara pada pengelolaan spiritual dan emosional.

2.      Olah pikir (intellectual development). Olah pikir bermuara pada pengelolaan intelektual.

3.      Olah raga dan kinestetik (Physical and kinestetic development). Olah raga bermuara pada pengelolaan fisik.

4.      Olah rasa dan karsa (Affective and Creativity development). Olah rasa bermuara pada pengelolaan kreativitas

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca,

(16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab

            Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing.

Kesimpulan

Dalam pendidikan karakter harus melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Jika salah satu tidak ada maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dari proses kesadaran seseorang mengetahui tentang nilai-nilai yang baik (knowing the good), lalu merasakan dan mencintai kebaikan (feeling and loving the good) itu sehingga terpatri dan terukir dalam jiwanya yang akhirnya menjadi berkakter kuat untuk melakukan kebaikan.

Pendidikan Karakter perlu dikembangkan di sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Adapun acuan konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan sebagaimana uraian berikut.

a         Olah hati (spiritual and emotional development). Olah hati bermuara pada pengelolaan spiritual dan emosional.

b        Olah pikir (intellectual development). Olah pikir bermuara pada pengelolaan intelektual.

c         Olah raga dan kinestetik (Physical and kinestetic development). Olah raga bermuara pada pengelolaan fisik.

d        Olah rasa dan karsa (Affective and Creativity development). Olah rasa bermuara pada pengelolaan kreativitas.

Pendidikan karakter ini harus dilakukan secara komprehensif dan integral, baik di sekolah, rumah maupun masyarakat. Berkenaan dengan proses pembelajaran, para pendidik pada satuan-satuan pendidikan dalam penyelenggaraan pembelajarannya dapat mengintegrasikan materi pendidikan karakter cerdas ke dalam materi pelajaran yang dibelajarkannya.

 

 

 

Sumber Bacaan:

Abuddin Nata. 2012. Kapita Selekta Pendidikan Islam Isu-Isu Kontemporer Tentang Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers

Said Hamid hasan dkk. 2010. ­Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter. Jakarta: Kemdiknas

Jamal Ma’mur Asmani. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Diva Press

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

 

PERANAN NINIK MAMAK DALAM PENGAMALAN AGAMA  ANAK KEMENAKAN DI JORONG TANJUNG LIMAU KENAGARIAN SIMABUR KEC PARIANGAN.

                                                            Oleh :

                                                      Najmul habib

                                                 e-mail: najmul  habib @gmail.com

Abstrak:  bagaimana perana ninik mamak terhadap kehidupan anak kemenakan, khususnya dalam pengalaman agama di Jorong Tanjung Limau Kenagarian Simabur kec  Pariangan

       Kata kunci: Peranan, Ninik Mamak,  Pengamalan Agama, Anak Kemenakan

A.    Hakikat Pemimpin Agama sebagai Pemimpin Adat Minangkabau

Peranan

Peranan bersal dari kata “peran” yang diberi akhiran “an”, seperti: “yang bermain”, lakon bagian tugas yang  dilaksanakan.[1] dengan demikian yang penulis maksud di sini adalah bagian tugas yang dilaksanakan oleh ninik mamak dalam membina anak kemenakan.

Ninik Mamak

Ninik mamak atau penghulu adalah orang yang diangkat sebagai pemimpin dalam adat Minangkabau, yang mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap anak kemenakan dalam segala bidang kehidupan, seperti, ekonomi, sosial, pendidikan, perumahan, keamanan, agama dan lain-lain

Pengamalan Agama

Kata pengamalan berasal dari kata “amal”, yang berarti: “perbuatan yang mendatangkan pahala”, “kata pengamalan” berarti: “proses atau (perbuatan) melaksanakan, pelaksanaan atau penerapan”.

Anak Kemenakan

Anak kemenakan adalah “anak dari saudara perempuan”. Dengan demikian yang penulis maksud adalah anak dari saudara perempuan dalam suatu kaum atau suku yang berada di bawah kepemimpinan seorang ninik mamak atau penghulu.

 

     Minangkabau merupakan sebuah suku darimsekian suku dari sekian suku di indonesia oleh para ahli minangkabau dipandang sebagai salah suku yang unik keunikan masyarakan minangkabau ini pada sistem sosial yang dianutnya yaitu sistem matrilineal (garis keturunan ditarik dari garis keturunan ibu) ini merupakan penganut sitem matrilineal terbesar didunia.

     Suku di minangkabau lebih diartiakan sebagai genealogis keluarga suku adalah anggota sedarah dan jauh dekatnya hubungan atau ikatan kelurga di ukur dengan istilah , sajari satampok, sajangka, saheto sadapo. Disamping itu ada istilah kanduang,dunsanak ,sakaum,sasuku .ora ng yang berasal dari suatu kaum atau saniniak pindah kenengri lain, mereka dikatakan babalahan antara yang tinggal dan yang pergi. Mereka tetap ulas mengulas dan waris mewaris.

     Berdasarkan pada pengertian diatas, maka dalam struktur asyarakat minangkabau masyarakat dibagi kedalam suku-suku yang bersifat matriclan yaitu kumpulan manusia yang berasal dari suatu nenek perempuan. Satu suku (clan) terdiri dari beberapa keluarga atau paruik yang tinggal dalam suatu rumah gadang, idealnya dalam suatu rumah gadang didiammi oleh satu orang ibu, anak-anak serta suaminya. Dirumah gadang ini yang berkuasa dan bertanggung jawab bukanlah suami, melainkan seorang laki-laki, yang disebut mamak rumah atau tungganai.

Yaitu saudara pria kandung menurut garis ibu berumah gadang untuk menjadi pembimbing keluarga yang terdekat yang dinamakan kemenakan.

B.     Tugas dan Tanggung Jawab Ninik Mamak terhadap Anak kemenakan

     Tugas dan tanggung jawab ninik mamak diminang kabau dapat dibedakan atas empat macam :

1.   Manuruik alua nan luruih

Segala sesuatu yang akan dilaksanakan oleh seorang penghulu dalam kepemimpinannya hendaklah menurut garis-garis kebenaran serta bertujuan untuk kebenaran. Alua ini adalah kebenaran yang dapat dibuktikan kebenaranya.

2.   Manumpang jalan nan pasa

Segalam sesuatu yang dilakukan sesuai dengan peratiuran yang telah dibuat,

3.   Mamaliharo anak kemenakan

Artinya seorang ninik mamak harus memelihara harta pusako anak kemenakan jagan samp[ai terjual atau tergadai. Sumbiang ditilikhilang dicari, patah ditimpo, tabanam disilami, hayuik dipintehi , kurang diktukuak, rusak dipeloi.

4.   Mamaliharo harato pusako

Memelihara anak kemenakan adalah tugas yang paling utama disamping tugas-tugas lainnya, dengan tugas memelihara anak kemenakan ini berarti seorang ninik mamak di minang kabau diharuskan untuk memelihara atau memimpin anak kemenakan serta masyarakat umumnya kearah kesempurnaan hidup baik secara lahir maupun batin, mental dan spiritual, rohani maupun jasmani.

 

C.    Sifat-sifat Ninik Mamak

     Berhubungan ninik mamak diminang kabau bertugas dan berkewajiban untuk memelihara anak kemenakannya lahir dan batin, moril dan materil, dan ahirat, maka seorang ninik mamak harus melengkapi dirinya dengan sifat-sifat seorang penghulu. Yakni sifat-sifat yang baik dan terpuji.

Sifat-sifat ninik mamak yakni:

1.   Siddig yaitunya benar. Seorang ninik mamak haruslah seorang yang benar tidak dusta.

2.   Amanah yaitu dapat dipercaya lahir dan batin. Seorang ninik mamak yaitu harus jujur lurus dan benar sehingga dapat dipercaya oleh anak kemenakanya.

3.   Fathanah yaitu cerdas. Seorang ninik mamak harus memiliki pengetahuan yang luas. Baik pengetahuan agama, adat , maupun umum.

4.   Tablig yaitu menyampaikan. Nini mamak harus sanggup menyampaikan kebenaran kepada anak kemenakanya. Nini mamak yaitu harus orang yang pandai berbicara, fasif lidahnya, tidak bisu atau gugup.

 

   SUMBER BACAAN­

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahan , Jakarta :intermasa,1993,hal 13

Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yoyakarta Gajah Mada University Press 1993) hal 16

[1]Idrus Hakim Dt. Rajo Panghulu, rangkaian mustika adat basandi syara’ diminang kabau (Bandung :      Remaja Rosdakarya,1997) hal 159

[1]Depdikbut RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka,1994), hal 667

 

 


[1]Depdikbut RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka,1994), hal 667

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN BERKARAKTER MELALUI IMPLEMENTASI HIGH -TECH DAN HIGH-TOUCH PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

Oleh : Nola Novita Sari

09.101.061

Abstrak   : Di pandang dari pembangunan bangsa dan negara, peningkatan sumber daya manusia perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama dalam pendidikan anak usia dini (PAUD), karena masa usia dini adalah masa emas bagi anak, dimana anak dapat mengekspresikan diri dari apa yang di lihat, di dengar, dan dirasakan.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) bertujuan untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak baik fisik maupun psikis, yang meliputi : moral dan nilai agama, emosional, bahasa, kognitif, fisik, dan kreatifitas seni yang di perlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnyata terutama dalam pembentukan karakter yang kuat. Bermain sambil belajar merupakan salah sau sarana belajar yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sebagai contoh : mendongeng menggunakan boneka tangan.

Namun kenyataannya, pembelajaran di PAUD saat ini justru jauh dari apa yang di harapkan.kreatifitas seni dan kegiatan bermain anak, baik individu maupun kelompok, di kurangi dan bahan ada yang di hilangkan karena guru beroriantasi pada tantangan dan pengharapan orang tua dan guru sekolah dasar (SD), dimana anak usia dini di tuntut untuk pandai membaca, menulis, dan berhitung. Suatu kebangggaan tersendiri jika anak mengecam pendidikan di TK dan lulus dengan multiple-intelegensi yang tinggi. Oleh karena itulah, pendididkan di Indonesia lebih terkesan mementingkan hard-skills daripada soft skills, padahal keduanya harus seimbang dalam implementasinya.

Untuk itulah, high-toimauch, dan high tech perlu di optimalkan pada anak usia dinI terutama untuk mengembangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter dapat terbentuk dan membudaya dalam suatu tatanan masyarakat sosial, jika adanya kerjasamadari berbagai pihak seperti orang tua dan guru, adanya partisipasi pemerintah dan masyarakat, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia seutuhnya, serta adanya keterlibatan siswa sebagai feedback dari interaksi tersebut. Tentu saja, semuanya ini membutuhkan proses, hasinya tidak instan begitu saja.

 

Kata kunci : Pendidikan berkarakter, implementasi high tech dan high touch, pndidikan anak usia dini.

Pendidikan Berkarakter

Pendidikan karakter merupakan proses yang berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan. Tujuannya adalah terwujudnya sosok manusia masa depan yang berakan pada nilai-nilai budaya bangsa.

Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau prilaku sehari-hari. Seorang yang berprilaku tidak jujur, curang, kejam dan rakus dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter jelek, sedangkan yang berperilaku baik, jujur dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter baik/mulia.

Nancy mengungkapkan bahwa character education is a national movenment creating school that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through emphasis on universal values that we all share.

Dari kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa pendidikan berkarakter di terapkan pada pserta didik dengan memberikan model dan berforrkus pada pembinaan yang bak melalui nilai-nilai universal yang di implementasikan. Jelas bahwa, anak dapat menilai mana yang baik dan buruk, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, dan meyakini apa yang mereka lakukan adalah benar.

Menurut Adian Husin (2009), 6 pilar pendidikan berkarakter adalah :

1.      Thustworthiness (kepercayaan), meliputi : kejujuran, handal, berani membela yang benar, membangun reputasi yang baik, patuh dan ikut bela negara.

2.      Respect (saling menghormati), meliputi : sikap toleran terhadap perbedaan, sopan santun, mempertimbangkan perasaan orang lain, berdamai dengan kemarahan dan perselisihan

3.      Responsibility (tanggung jawab), meliputi : sikap selalu melakukan yang terbaik, menggunakan kontrol diri, disiplin, dan belajar tanggung jawab

4.      Fairness (keadilan), meliputi : sikap mau mendengarkan orang lain, mau berbagi, bersikap terbuka, dan jangan menyalahkan orang lain sembarangan.

5.      Caring (peduli), meliputi : bersikap penuh kasih sayang, ucapkan rasa syukur, mau memaafkan orang lain, dan membantu orang lain yang membutuhkan

6.      Citizenship (kewarganegaraan), meliputi : bekerja sama, melibatkan diri dalam interaksi sosial, mentaati peraturan dan hukum yang berlaku, dan melindungi lingkungan hidup.

Megawangi dalam E. Mulyasa (2011:5), pencetus pendidikan karakter di Indonesia telah menyusun 9 pilar karakter mulia yang selayaknya dijadikan acuan dalam pendidikan karakter baik di sekolah maupun di luar sekolah, yaitu (1) cinta Allah dan kebenaran, (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri, (3) amanah, (4) hormat dan santun, (5) kasih sayang, peduli, dan kerja sama, (6)  percaya diri, kreatif dan pantang menyerah, (7) adil dan berjiwa kepemimpinan, (8). Baik dan rendah hati, dan (9) toleran dan cinta damai.

Pendidikan karakter sangatlah penting di aplikasikan sedini mungkin untuk manivestasi sumberdaya manusia indonesia di masa yang akan datang. Sebelum mengaplikasikan pendidikan berkarakter secara holistik kita perlu meninjau kembali kepada hal-hal berikut ini :

Karakteristik dan tugas perkembangan anak usia dini

a.       Menurut pandangan psikologi, anak usia dini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak yang usia 8 tahun. Soegang (2002:53) mengemukakan bahwa anak usia dini terebut :

1)      Suka meniru

2)      Ingin mencoba

3)      Spontan

4)      Jujur

5)      Riang

6)      Suka bermain

7)      Ingin tahu (suka bertanya)

8)      Banyak gerak

9)      Unik

Berdasarkan pendapat diatas dapat di pahami bahwa anak usia dini memiliki karakter yang berbeda dengan orang dewasa.anak usia dini sanagt kreatif, memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Ciri tersebut dapat di lihat dari aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif. Untuk itu, anak usia dini sangat di perlukan arahan, bimbingan berkenaan dengan ciri-cirinya, agar perkembangan anak seimbang antara fisik, sosial, emosi dan kognitif, dan bahasa guna untuk pembentukan pribadi yang utuh.

b.      Triyon dan lilienthal (dalam Eka Rita, 2005 : 19-20) tugas-tugas perkembangan yang harus di jalani anak usia dini :

1.      Berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Pada usia ini, anak belajar menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab dengan perbuatannya.

2.      Belajar memberi, berbagi, dan memperoleh kasih sayang. Kemampuan saling memberi dan menerima kasih sayang antara satu dengan yang lan ataupun dari pendidik.

3.      Belajar bergaul, yaitu mengembangkan kemampuan komunikasi dan berinteraksi dengan teman sebaya, dan belajar menghadapi berbagai masalah  yang di dapat dari hasil interaksi tersebut.

4.      Belajar mengontrol diri. Anak belajar untuk menahan diri dan bertingkah laku sesuai harapan dan peraturan di sekitarnya.

5.      Belajar bermacam-macam peranan di masyarakat. Anak belajar memahami ada berbagai peran dalam kehidupan ini yang memiliki tugas dan tanggung jawab masng-masing. Seperti : polisi bertugas membuat aman keadaan, dokter bertugas mengobati orang sakit

6.      Belajar mengenal tubuh masing-masing, yaitu anggota tubuh, panca indera, dan kegunaannya yang menunjang kehidupan sehari-hari

7.      Mengembangkan kemampuan motorik halus dan kasar, yaitu anak belajar mewarnai, menggunting, menangkap bola dan menendangnya.

8.      Belajar mengenal lingkungan fisik, dengan membandingkannya baik dari ukuran, warna dan bentuk.

9.      Belajar menguasai kosa kata baru untuk memahami suatu hal atau orang lain. Misalnya : menyangkut bengkut benda-benda-benda yang ada  di sekitarnya seperti nama, ciri.

10.  Mengembangkan perasaan positif dperti nama, ciri.

11.  Mengembangkan perasaan positif dengan kasih sayang terhadap lingkungan di sekitarnya. Baik dengan tengan kasih sayang terhadap lingkungan di sekitarnya. Baik dengan teman sebaya, maupun dengan hewan ataupun tumbuhan.

 

Konsep dasar pendidikan anak usia dini

1)      Pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan pengetahuan, sikap dan terampilan agar mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri , seperti merawat dan menjaga kondisi fisik, emosi.

2)      Pendidikan anak usia dini adalah meletakkan dasar-dasar tentang apa yang seharusnya, hal ini sesuai dengan paradigma dunia pendidikan melalui 4 pilar pendidikan yang di rancangkan UNESCO, yaitu : learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together yang dalam implementasinya di lembaga PAUD dilakukan melalui pendekatan learning by playing, belajar yang menyenangkan (joyful learning), serta menumbuh kembangkan keterampilan hidup  sederhana sedini mungkin.       

 

Prinsip dalam  pendidikan anak usia dini (PAUD)

Untuk memenuhi aspek-aspek  dalam perkembanga anak baik aspek fisik, sosial emosional, bahasa dan aspek lainyan seperti moral, agama, maka di perlukan berbagai prinsip yang meliputi :

1)      Beroriantasi pada kebutuhan anak

2)      Belajar sambil bermain

3)      Pendekatan berpusat pada anak

4)      Pendekatan kontruktivisme

5)      Pendekatan kreatif dan inovatif

6)      Lingkungan yang kondunsif

7)      Mengunakan pembelajaran yang terpadu

8)      Pengembangan tematik

9)      Menggunakan berbagai media dan sumber belajar

10)  Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

 

Implementasi high tech dan high touch pada PAUD

1)      High touch

Menurut prayitno high touch meliputi : pengakuan, kasih sayang, dan kelembutan, keteladanana, penguatan, serta tindakan tegas yang mendidik.

a.       Pengakuan dan keteladanan

 Pendidik adalah sosok terbaik yang patut d tiru,  di guguh, oleh karena itu kewibawaan pendidik dalam proses pendidikan terletak pada kemampuannya mengembangkan :

·         Sikap saling menghormati

·         Adanya pengakuan positif

·         Kedekatan terjalin dengan harmonis

·         Hubungan tanpa pamrih

·         Sikap responsif dan membantu

·         Kedekatan pendidik terhadap peserta didik penuh dengan nuasa pendidikan antara kependidikan dan peserta didik

 

b.      Kasih sayang dan kelembutan

Kasih sayang di manifestasikan melalui komunikasi dan perlakuan yang bernuansa kelembutan.

Dengan kasih sayang,

Potensi anak berkembang,

Harapan terbayang

Semangat terpacu untuk berjuang

c.       Penguatan

Penguatan merupakan upaya mendorong peserta didik untuk bertindak positif. Penguatan diberikan dengan pertimbangan : tepat sasaran, tepat waktu dan tempat, tepat isi dan cara penyampaian

d.      Tindakan tegas yang mendidik

Pelanggaran dan kesalahan yang dilakukan peserta didik tidak selayaknya di abaikan atau di biarkan, melainkan di perhatikan dan di tangani secara proporsional

 

2)      High tech

High tech meliputi : materi, metode, alat bantu, lingkungan belajar yang kondunsif, dan adanya penilaian hasil pembelajaran. High tech berlandaskan pada pemberdayaan macro dan micro system serta pemanfaatan teknologi sebagai sumber dan media belajar. Macro system yaitu sistem pembelajaran secara menyeluruh, dan micro system meliputi cara dan model kegiatan yang di lakukan beserta media yang d gunakan. (smith, 1978).

 

 

 

 

Kesimpulan

Pendidikan karakter perlu menjadi prioritas utama untuk membentuk insan yang berkarakter , apalagi jika di terapkan pada anak usia dini yaitu dengan :

1.      Mengaplikasikan metode belajar yang melibatkan semua anak dalam proses pembelajaran terpadu dan menyenangkan.

2.      Menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter sebagai implisit dan eksplesit melalui rangkaian kegiatan yang bermanfaat dan menarik sesuia dengan tema

3.      Menerapkan strategi pembelajaran dan media interaktif yang memperhatikan pendidikan anak usia dini sesuai dengan  tahab perkembangannya.

4.      Perlu adanya keteladanan pendidik yang mengaplikasikan high tech dan high touch pada semua peserta didiknya.

Daftar Pustaka

Ahmadsudrajat. 2008. 5 cara belajar guru. Sumber : http://

Hurlock Elizabeth B (di terjemahkan oleh dr med meitasari, et al). 2005. Perkembangan anak 1 edisi 6 jakarta: erlangga

Prayitno. 2002. Hubungan pendidikan.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL : Dirjen dikdasmen

Rosmala dewi, 2005. Berbagai masalah anak taman kanak-kanak. Jakarta : Depdiknas Dirjen Pembinaan pendidikan tenaga pendidikan dan ketenagaan perguruan tinggi

Soegeng soentaso.2002. pendidikan anak usia dini. Jakarta: citra pendidikan.

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
mso-bidi-font-size:11.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

PENANAMAN MORAL PADA SISWA MELALUI BUDAYA RELIGIUS DI SEKOLAH

Oleh:

NURHAYATUL JF

 

Abstrak: Budaya merupakan kecenderungan umum untuk lebih menyukai keberadaan tertentu dari tata pergaulan dengan orang lain, atau serangkaian aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga menjadi milik bersama, dapat diterima oleh masyarakat, dan bertingkah laku sesuai dengan aturan. Pendidikan adalah usaha sadar manusia untuk meningkatkan kualitas dirinya. Pendidikan sangat berperan serta berpengaruh terhadap budaya, dan agama.

Dalam tataran nilai, budaya religius berupa: semangat berkorban (jihad), semangat persaudaraan (ukhuwah), semangat saling menolong (ta’awun) dan tradisi mulia lainnya. Sedangkan dalam tataran perilaku, budaya religius berupa: berupa tradisi solat berjamaah, gemar bersodaqoh, rajin belajar dan perilaku yang mulia lainnya.

Dengan demikian, budaya religius sekolah adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.

 

Kata Kunci: Penanaman Moral, Siswa, Budaya Religius, Sekolah

 

A.    Definisi Nilai Budaya

Nilai budaya adalah konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga sesuatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga itu tadi (Koentjaraningrat, 1985).

Nilai budaya merupakan konstruk yang disimpulkan sebagai sesuatu yang dianut masyarakat secara kolektif dan pribadi-pribadi secara perorangan, istilah nilai menunjuk pada suatu konsep yang dikukuhi individu atau anggota suatu kelompok secara kolektif mengenai sesuatu yang diharapkan dan berpengaruh terhadap pemilihan cara maupun tujuan tindakan dari beberapa alternatif (C. Kluckhon dalam Berry, 1999).

Sedangkan menurut Hofstede (dalam Berry, 1999) Nilai budaya merupakan kecenderungan umum untuk lebih menyukai keberadaan tertentu dari tata pergaulan dengan orang lain. Nilai biasa dipertimbangkan sebagai hal yang lebih umum dalam karakter (tabiat) dari pada sikap, namun kurang umum jika dibandingkan dengan ideologi. Nilai tampak sebagai ciri individu dan masyarakat yang relatif lebih stabil dan karena itu berkaitan dengan sifat kepribadian dan pencirian budaya (Berry Dkk, 1999).

Walaupun nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat, tetapi sebagai konsep, suatu nilai budaya tersebut sangat umum, mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, dan biasanya sulit diterangkan secara rasional dan nyata. Itulah sebabnya nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan tak dapat diganti dengan nilai-nilai budaya yang lain dalam waktu yang singkat (Rino, 2007).

 

 

Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu :

a)      Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata (jelas).

b)      Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut.

c)      Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

 

 

B.     Definisi Agama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta agama  yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri.

Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu :

a.       menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan.

b.      menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan.

Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.

C.    Definisi Moral

Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.

Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk

Jadi dari defenisi diatas dapat penulis simpulkan  bahwasanyabudaya sekolah adalah suatu pola asumsi-asumsi dasar, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah, yang diyakini dan telah terbukti dapat dipergunakan untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka memiliki pandangan yang tepat bagaimana seharusnya mereka memahami, berpikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada.

 Dan budaya agama di sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan) sehingga menciptakan moral yang baik terhadap lingkungannya. Religius menurut Islam adalah menjalankan ajaran agama secara menyeluruh (kaffah). Allah berfiman dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 208 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Menurut Glock & Stark (1966) dalam Muhaimin, ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu:

1.Dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui keberadaan doktrin tersebut.

2.Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.

3.Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu.

4.Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi.

5.Dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.

Jadi dari defenisi di atas tadi jika kita kaitkan dengan realita yang ada, banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita para siswa dan mahasiswa yang tidak bermoral padahal baik pihak sekolah, keluarga serta lingkungannya sudah mendukung untuk menanamkan moral yang baik pada mereka. Contohnya saja adanya siswa atau mahasiswa yang mencuri, merokok, menghisap ganja atau narkoba dan yang marak dibicarakan pada saat ini adalah tauran para pelajar di mana-mana. Dari peristiwa tersebut dapat dikaji dan ditinjau kembali dimana letak kekurangan atau permasalahannya sehingga para siswa atau mahasiswa berbuat demikian. Dan salah satu upaya agar terhindarnya hal-hal yang demikian, yaitu dengan mengembangkan budaya agama di sekolah yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain melalui: kebijakan pimpinan sekolah, pembiasaan senyum dan salam, pembiasaan sholat wajib/sunnah secara berjemaah, penambahan pembelajaran seni baca Al-Qur’an, gemar mememperingati hari-hari besar Islam (PHBI), melaksanakan kegiatan keagamaan melalui badan da’wah Islam di sekolah, serta melaksanakan tradisi dan perilaku warga sekolah secara kontinyu dan konsisten, sehingga tercipta religion culture tersebut dalam lingkungan sekolah.

Saat ini, usaha penanaman nilai-nilai keagamaan dalam rangka mewujudkan budaya agama sekolah dihadapkan pada berbagai tantangan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, pendidikan dihadapkan pada keberagaman siswa, baik dari sisi keyakinan beragama maupun keyakinan dalam satu agama. Lebih dari itu, setiap siswa memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda.

 

 


Sumber Bacaan:

1.    Malik Fadjar. 2005. Holistika Pemikiran Pendidikan. Bandung: Raja Grafindo Persada.

2.    Komaruddin Hidayat. 2010. “Kultur Sekolah”. (Online tersedia di http://www.uinjkt.ac.id/index.php/ category-table/1456-membangun-kultur-sekolah-.html.) di akses 03 December 2012.

3.    Abuddin Nata. 2012. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

4.    Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 208

 

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

PENERAPAN METODE MENGHAFAL DAN DEMONTRASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI MADRASAH

Oleh :

OKI SUTRISNO

O9101064

 

Abstrak: salahsatu aspek yang menentukan Keberasilan atau kegagalan siswa dalam memahami pembelajaran atau mencapai tujuan dari pendidikan adalah peran guru dalam merancang strategi atau metode.guru sebagai astetektur dalam proses pembelajaran harus bisa memilih dan menerapkan strategi yang tepat karna sebagian dari keberasilan siswa sangat tergantung padanya.

 

Kata Kunci: metode hafalan dan demonstrasi, Dalam meningkatkan prestasi (hasil belajar)

metode hafalan dan demonstrasi di madrasah

Abuddin Nata (2012:324) menyataan Mengafal adalah salah satu metode atau cara untuk menguasai mata pelajaran. Caranya di mulai dengan belajar matan teks kitab, memberi arti pada setiap teks, memahaminya dengan benar, dan kemudian menghafalnya di luar kepalah. Yusuf Al-Qaradhawi (1999:187) memberikan pengertian mengafal, Secara bahasa (Lughat) hafal merupakan lawan dari kata lupa maksudnya selalu ingat dan tidak lalai, memelihara, menjaga, dan yang diingat. Dalam al-Qur’an banyak ditemukan kata-kata tahfizh dan kata-kata tersebut memiliki berbagai macam arti ini dapat dilihat dari firman allah:

a.       Surat Yusuf Ayat 65

$£Js9ur(#qßstGsùóOßgyè»tFtB(#r߉y`uróOßgtFy軟ÒÎ/ôN¨Šâ‘öNÍköŽs9Î)((#qä9$s%$tR$t/r¯»tƒ$tBÓÈöö7tR(¾Ínɋ»yd$oYçGy軟ÒÎ/ôN¨Šâ‘$oYøŠs9Î)(玍ÏJtRur$uZn=÷dr&àáxÿøtwUur$tR%s{r&ߊ#yŠ÷“tRurŸ@ø‹x.9ŽÏèt/(y7Ï9ºsŒ×@ø‹Ÿ2׎Å¡o„ÇÏÎÈ

Artinya:

Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. mereka berkata: “Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)”.

b.      Surat Al-Ambiya” Ayat 32

$uZù=yèy_uruä!$yJ¡¡9$#$Zÿø)y™$Wßqàÿøt¤C(öNèdurô`tã$pkÉJ»tƒ#uätbqàÊ̍÷èãBÇÌËÈ

Artinya:

Dan kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.

Dari kedua ayat diatas di ketahui bahwa arti dari tahgfizh adalah memelihara, menjaga sehinga dapat disimpulkan bahwa mengafal adalah memelihara agar tidak lupa dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan pengertian mengafal secara istilah ialah melafaskan dan membacanya diluar kepalah tampak melihat buku teks.

Di antara karakteristik Al-Qur’an adalah ia merupakan kitab suci yang mudah untuk dihafal,diingat, dan dipahami. Allah berfirman

ô‰s)s9ur$tR÷Žœ£o„tb#uäöà)ø9$#̍ø.Ïe%#Ï9ö@ygsù`ÏB9Ï.£‰•BÇÊÐÈ

Artinya:

Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran.

Ayat Al Qur’an megandung keindahan dan kemudahan untuk dihafal bagi mereka yang mempunyai keinginan untuk mengafalnya, dan menyimpanya dalam hati

1.      Lebih lanjut Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan  agar seseorang (siswa) yang mengafal benar-benar menguasai maka ia haras memperhatikan Etika (sikap)

Dalam mengafal ada etika-etika yang harus di perhatikan. Para pengafal mempunyai tugas yang harus dijalankan.etika tersebut adalah:

a.       Selalu Bersamanya (bersama apa yang dihafal)

Di antara  etika itu adalah selalu bersama apa yang ia hafal, sehingga tidak hilang dari ingatanya. Caranya dengan terus membacanya melalui hafalan.

b.      Beraklak Dengannya

Contohnya Al-Qur’an maka orang yang mengafal Al-Qur’an hendaknya beraklak dengan aklak Al-Qur’an     

c.       Iklas Dalam Mempelajarinya

Para pengaji dan pengafal Al-Qur’an harus mengiklaskan niatnya dan memcari keredhoanya

Sedangkan metode demonstrasi Ramayulis (2005:313) Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk mengambarkan suatu cara mengajar yang pada umunya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian peralatan barang atan benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang medemonstrasikan (pendidik, peserta didik atau orang luar) mempertunjukan sambil menjelaskan tentang suatu yang di demonstrasikan.Lukman Ali (1991) memberikan pengertian lain mengenai metode demonstrasi ini ia mendefenisikan demonstrasi adalah peragaan atau pertunjukan tata cara melakukan atau mengajarkan sesuatu yang diberikan seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk memperjelas suatu yang diperagakan atau dipertunjukan. Demonstrasi adalah mempertunjukan ,mempertontonkan

Dalam konteks pendidikan sekarang ini yang berpusat pada siswa, maka siswa dituntut untuk lebih aktif.siswa tidak lagi hannya mendengar dan mengikuti seluru perinta guru,namun siswa ditekankan untuk bisa memehami dan memecahkan masalah sendiri,untuk guru dituntut juga untuk bisa memilih strategi dan metode yang pas dan tepat dalam mengenbangkan potensi siswa dan salah satu strategi atau metode yang dipandang pas dan tepat ialah metode hafalan dan demonstrasi.karna metode ini memang di pusatkan pada siswa.

Namun dalam proses pendidikan di madrasa metode ini jarang dipakai,karna mengangap siswa akan merasa kesulitan mengafal dan mendemonstrasikannya,hal ini diperkuat lagi dengan banyaknnya materi yang di hadapi siswa.untuk itu para pendidik di madrasah lebih cenderung memakai metode cerama (konvesional) karna lebih muda,simpel dan cepat.penerapan metode semacam ini kelihatannya membuat guru gagal dalam mencapai tujuan pembelajaran,hal itu dapat dilihat dengan hasil belajar siswa yang rendah,dan banyak yang tidak mencapai kreteria kelulusan minimum,di tambah lagi metode ini hanya mengisi aspek kognitif namun tidak bisa memenui aspek afektif dan pisikomotor.

Dalam masalah-masalah ini nantinya akan membuat tujuan pendidikan nasional tidak akan tercapai, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa karna siswa slalu dibiasakan menerima.

UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tersebut, dimensi iman dan taqwa (imtaq) dan berakhlak mulia merupakan bagian yang terpadu dari tujuan pendidikan nasional. Artinya, untuk menjadikan manusia yang berilmu, dan kreatif mandiri. Dengan demikian pendidikan sebagai suatu sistem yang terpadu harus secara sistematis diarahkan untuk membentuk manusia-manusia yang unggul.

Berdasarkan hal itu penerapan metode-metode yang berpusat pada siswa di madrasah/sekolah hurus lebih ditekankan dan salah satu metode itu ialah metode hafalan dan demonstrasi,karna metode ini menuntut siswa untuk menguasahi dan bisa dalam menerapkanya

Maka dalam hal memilih strategi dan metode ramayulis (2005)menyatakan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)      Tujuan yang hendak dicapai atau kopetensi yang harus di kuasai oleh perserta didik.Setiap orang yang mengajarkan sesuatu haruslah mengetahui dengan jelas  tentang tujuan yang hendak di capainya. Demikian juga setiap pendidik atau setiap pendidik yang kerja pokoknya mendidik dan mengajar haruslah mengerti dengan jelas tentang  tujuan pendidikan. Pengertian akan tujuan pendidikan ini muklak perlu sebab tujuan itulah yang akan menjadi sasaran dan menjadi pengarah dari pada tindakan-tindakan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik. Di samping menjadi sasaran dan pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga berfungsi sebagai kreteria bagi pemilihan dan pengetahuan alat-alat (termasulk metode) yang akan digunakanya dalam mengajar.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia kita mengenal adanya tujuan nasional, tujuan instruksional, yujuan kurikuler dan tujuan pembelajaran. Tujuan nasional pendidikan yang juga disebut tujuan akhir pendidikan adalah suatu yang menjadi sasarandari keseluruan kegiatan mendidik dan mengajar. Tujuan nasional itu perlu dijabar menjadi tujuan instruksional, tujuan instruksional menjadi tujuan kerikuler dab tujuan pembelajaran  sebab dengan demikian pendidik akan mendapat gambaran yang jelas terhadap apah yang hedak di capai itu dan pendidik akan dapat juga mempersiapkan alat-alat yang akan dipakainya serta metode yang tepat yang akan digunakanya.

Di dalamn KTSP ada pula kopetensi yang akan dikuasai, berupa kopetensi lulusan, kopetensi mata pelajaran dan kopetensi dasar. Semua kopetensi tersebut harus di perhatikan sebelum memilih metode

2)      Peserta Didik

Para peserta didik yang akan menerima bahan pelajaran yang akan disajikan, harus pula diperhatikan oleh pendidikdalam memili metode mengajar. Ini perlu sebab metode mengajar itu ada yang menuntut pengetahuan dan kecekatan tertentu misalnya metode hafalan dan demonstrasi yang menuntut potensi otak peserta didik untuk mengafal dan mendemonstrasikanya sebagai menguji hafalan tersebut

Selain dari pada tuntutan (syarat-syarat dari metode tertentu yang harus di penui oleh peserta didik) dari metode mengajar tersebut pengunaan sesuatu metode mengajar haruslah sesuai dengan kemampuan perkembangan serta kepribadian para peserta didik.

3)      Bahan pelajaran

Bahan pelajaran yang menuntut kegiatan penjelidikan oleh peserta didik hendaknya disajikan melalui metode unit atau metode proyek.apabilah bahan pelajaran mengandung problem-problem harus di sajikan dengan metode pemecahan masalah, dan bahan pelajaran yang mengandung teks maka harus disajikan dengan metode hafalan, dan sebagainya.

4)      Fasilitas

Yang termasuk dalam fasilitas  ini antara lain alat peraga, ruang waktu, keserapatan tempat dan alat-alat pretikum. Fasilitas  ini turut menentukan metode mengajar yang akan di pakai oleh peserta didik

5)      Situasi

Yang termasuk pada situasi di sini adalah keadaan peserta didik (yang menyakut kelelahan mereka, semangat mereka) keadaan pendidik, keadaan kelas-kelas yang berdekatan dengan kelas yang akan diberikan pelajaran degan metode tertentu

6)      Partisipasi

Partisipasi adalah turut aktif dalam suatu kegiatan.apabilah pendidik ingin agar peserta didiknya turut aktif sama merata dalam suatu kegiatan, maka pendidik akan mengunakan metode yang pas untuk mencapai keinginan tersebut

7)      Pendidik

Di atas sudah dikemukakan bahwa metode mengajar menentukan syarat-syarat yang perlu dipenuhi misalnya tiap pendidik yang akan mengunakan metode  tertentu ia harus mengerti dengan metode itu (misalnya jalanya pengajaran serta kebaikan dan kelemahanya, situasi-situasi yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan trampil mengunakan metode itu.

8)      Kebaikan dan kelemahan metode

Tidak ada satu metode  yang baik untuk setiap tujuan dalam setiap situasi. Setiap metode mempunyai kebaikan dan kelemahan. Pendidik perlu mengetahuai kapan suatu metodr tepat du gunakan dan kapan harus di gunakan kombinasi dari metode-metode

prestasi (hasil belajar) siswa

Purwanto (2009:44) Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil belajar menunjukan kepada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional

Nana Sudjana,( 2009: 22) mengemungkakan pengertian hasil belajar menurut para ahli sebagai berikut:

a.       Mulyono, Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar

b.      A.J Romiszowski, hasil belajar merupakan keluaran dari suatu sistem pemprosesan masukan, masukan ini berupa bermacam-macam informasi,sedangkan keluarnya adalah perbuatan atau kinerja.

c.       Jhon M. Kaller memandang hasil belajar sebagai keluaran suatu sistem pemprosesan berbagai masukan berupa informasi

Bentuk hasil belajar

Menurut pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:

a.       Informasi verbal

Yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

b.      Ketrampilan intelektual

Yaitu kemampuan memprsentasikan konsep dan lambang, misalnya berupa kemampuan dalam melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.

c.       Strategi kognitif

Yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

d.      Ketrampilan motorik

Adalah kemampuan dalam melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

e.       Sikap

Yaitu kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai  sebagai standar perilaku.

Dalam menentukan hasil belajar ini maka seorang guru harus mengadakan tes-tes baik itu dalam bentuk tulisan maupun lisan, hingga dari ia mendapat gambaran sejauh mana siswanya dapat memahami materi-materi yang ia ajarkan

 

Kesimpulan

Penerapan metode-metode studen center seperti metode hafalan dan demonstrasi harus di terapkan di madrasah/sekolah. Berkenaan dengan proses pembelajaran, para pendidik pada satuan-satuan pendidikan harus bisa memilih metode yang tepat sesuai dengan materi dan situasi yang dihadapi.Untuk melaksanakan hal tersebut seorang pendidik harus memperhatikan faktor-faktor dalam memilih metode.

Kesuksesan atau kegagalan institusi pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan sebagian berada pada guru,karna memang gurulah yang menjadi astetektur dalam proses pembelajaran.untuk itu guru harus bisa membawa peserta didiknya menjadi manusia yang cerdas. Kreatif dan mandiri,hal ini itu dapat dilihat dari hasil belajar siswa,melalui tes-tes yang diberikan.

 

SUMBER BACAAN­

Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2012)

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2005)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Beroreantasi Santdar Proses Pendidikan, (jakarta :kencana remedia group, 2006)

Purwanto, Evaluasi Hasil belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009)

Lukman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (jakarta: Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa 1991)

Yusuf Al-Qaradhawi, Berinteraksi Dengan Al-Qur’an (jakarta:Gema Insani 1999), h.187

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

PENERAPAN METODE CERITA DAN MAIN PERAN PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

 Oleh

PATRA DARMA

O9 101 065

 

Abstrak: Dalam proses pembelajaran diperlukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Prilaku guru adalah mengajar dan prilaku siswa adalah belajar, belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu,  belajar dapat dipandang sebagai proses yang di arahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman, Maka untuk mencapai tujuan pembelajaran seorang guru mengunakan berbagai strategi dan metode untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu, maka keterkaitan antara metode dengan materi merupakan suatu rancangan dari guru karena keberasilan siswa tergantung pada cara guru dalam menyampaikannya dan merancang pembelajaran.

 

Kata Kunci: metode cerita,metode main peran dan akidah akhlak

metode cerita

Merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi siswa dengan membawakan cerita secara lisan, cerita yang dibawakan itu harus menarik dan mengundang perhatian siswa dan tidak lepas dari tujuan pendidikan. Bila isi cerita itu dikaitkan dengan kehidupan siswa, maka mereka dapat memahami isi cerita itu, mereka akan mendengarkannya dengan penuh perhatian da mudah menangkap isi cerita.

Sedangkan menurut samsudin metode bercerita adalah cara bertutur kata dan penyampaian cerita atau memberikan penjelasan anak secara lisan.

Cara ini adalah cara yang paling menarik,paling disukai, dan paling menempel pada ingatan seseorang adalah metode cerita. Karena sebuah cerita sulit untuk dilupakan dan membuat pendengarannya suka kepada orang yang menceritakannya.

Dengan mendengarkan sutu cerita anak didik memahami apa yang disampaikan oleh guru, bahkan anak didik akan mampu menggambarkan, manghayalkan tentang apa yang telah diceritakan oleh guru.

1.      Manfaat metode cerita

Penggunaan metode cerita ini mempunyai beberapa manfaat, sebagai berikui:

a.       Untuk mengembangkan daya imajinasi, daya pikir, emosi, dan penguasaan bahasa anak.

b.      Menambah pengalaman dan pengetahuan.

c.       Melatih daya konsentrasi, mendengarkan dan daya tangkap.

d.      Menambah perbendaharaan kata.

e.       Menciptakan suasana yang akrab.

f.       Mengembangkan perasaan sosial dan emosi anak.

g.      Metode cerita digunakan guru untuk memberikan informasi tentang kehidipan sosial anak didik dengan orang yang ada disekitarnya dengan bermacam pekerjaan.

2.      Langkah-langkah metode cerita

a.       Menetapkan tema dan tujuan cerita.

b.      Menetapkan bentuk cerita.

c.       Menyiapkan alat dan media yang digunakan.

d.      Menetapkan langkah-langkah cerita.

e.       Membaca dan memahami isi cerita.

Dengan persiapan yang matang, maka kegiatan bercerita akan lebih terarah, fokus dan tidak melebar kemana-mana, sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3.      Tujuan metode cerita

Secara umum kegiatan bercerita untuk anak didik memiliki tujuan sebagai berikut:

a.       Menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral dan agama yang terkandung dalam sebuah cerita sehingga mereka dapat menghayatinya dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

b.      Guru dapat memberikan informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang perlu diketahui oleh anak.

Berdasarkan tujuan di atas dapat diketahui bahwa tujuan memberikan cerita kepada anak didik adalah memberikan informasi yang berguna bagi anak didik tang bisa dilakukan bahkan di amalkan dalam kehidupan sehari-harinya.                       

1.   Main peran

Merupakan suatu metode yang dapat mendorong siswa mengekspresikan dan melepaskan perasaaannya yang melibatkan roses psikologis, sikap, nilai dan keyakinan (belief) serta menyarahkan pada kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analis.

Metode mengajar yang menekankan kenyataan dimana oara murit di ikut sertakan dalam permainan peranan di dalam mendemonstrasikan masalah-masalah sosial.

1.      Kelebihan dan kekurangan

a.       Kelebihan

1)      Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian.

2)      Akan menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.

3)      Anak-anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.

4)      Anak dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur.

b.      Kekurangan

1)      Metode ini memerlukan waktu cukup banyak.

2)      Memerlukan persiapan yang matang

3)      Kadang-kadang anak-anak tidak mau mendramatisasikan sesuatu adengan karna malu

4)      Kita tidak dapat mengabil kesimpulan apa-apa apabilah pelaksanaan dramatisasi itu gagal.

 

 

2.      Saran-saran dalam melaksanakan metode bermain peran

1)      Guru harus mempunyai tujuan yang jelas tentang pola tingah laku atau watak tertentu yang hendak ditanamkan

2)      Guru mencritakan suatu pristiwa sosial dengan jelas tentang hal yangakan dimainkan

3)      Guru memilih murid –murid untuk menjadi pelaku suatu peranan tertentu, memberi contoh, dan melatih .

4)      Guru menetapkan peranan pendengar

5)      Guru harus menghentikan apabilah dramasisasi itu telah sampai punyaknya, yaitu sampai pada adegan yang dituju

6)      Pada saat itu, guru mengadakan diskusi untuk menjelesaikan masalah itu dengan tepat.

Akidah akhlak

Adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan pada siswa yang merupakan mata pelajaran pokok di sekolah agama, yang materinya membahas tentang akidah, keimanan, dan akhlak.

Fungsi dari pelajaran ini sangat besar sekali terhadap pengembangan diri siswa di masyarakat, sebagai sarana untuk berinteraksi dengan baik yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya yang baik.

 

Kesimpulan

Penerapan metode-metode studen center atau yang lebih menekankan pada keaktifan siswa seperti metode cerita dan main peran harus di terapkan di madrasah/sekolah. Berkenaan dengan proses pembelajaran, para pendidik pada satuan-satuan pendidikan harus bisa memilih metode yang tepat sesuai dengan materi dan situasi yang dihadapi.Untuk melaksanakan hal tersebut seorang pendidik harus memperhatikan faktor-faktor dalam memilih metode.

Kesuksesan atau kegagalan institusi pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan sebagian berada pada guru, karna memang gurulah yang menjadi arsitektur dalam proses pembelajaran, untuk itu guru harus bisa membawa peserta didiknya menjadi manusia yang cerdas. Kreatif dan mandiri,hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa, melalui tes-tes yang diberikan dan keterampilan siswa pada suatu kegiatan.

 

 

SUMBER BACAAN­

Ahmadi abu, strategi belajar mengajar, Bandung: Pustaka setia,2005.

Anas Sudjono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta :PT Raja Garafinda Persada

 

B.Uno Hamzah, Model Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

 

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2005.

 

Zainal Aqib, Belajar Dan Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak, Bandung: CV. Yrama Vidya, 2009.

 

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

PENERAPAN  KOMBINASI METODE INFORMATION SEARCH DAN METODE DRILL DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN

 

Oleh :

PRIMA NOVEKI

09 101 066

 

Abstrak: Peningkatan hasil belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara terutama dengan  melalui kombinasi metode information search dan metode drill pada mata pelajran pendidikan Al-Qur’an karena dengan ini diharapkan hasil belajar dapat meningkat secara menyeluruh bukan hanya kepada sebagian siswa saja

 

Kata Kunci: hasil belajar, metode information search, metode drill, pendidikan Al-Qur’an

 

 Metode Information Search

  1. Pengertian Information Search

Metode information searchadalah strategi ini sama dengan ujian open book. Secara berkelompok peserta didik mencari informasi yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada mereka.[1]

Metode information search yaitu suatu cara yang digunakan oleh guru dengan maksud meminta peserta didik untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan baik oleh pendidik maupun peserta didik sendiri, kemudian mencari informasi jawabannya lewat membaca untuk menemukan informasi yang akurat.

Metode information search atau dalam bahasa Indonesianya adalah metode mencari informasi yang mana tujuan dari metode ini adalah dapat mengoperasikan otak dan memacunya untuk berpikir dan mencari jawaban. Metode ini bisa disamakan dengan ujian buka buku.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa metode information search merupakan metode yang digunakan oleh pendidik yang membenarkan siswa mencari informasi untuk mata pelajaran tertentu sehingga siswa memahami kompetensi dalam matapelajaran tersebut.

Tim-tim dikelas mencari informasi (biasanya diungkap dalam guru/pendidikan ala ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka.Metode ini sangat membantu menjadikan materi yang biasa-biasa saja menjadi lebih menarik.Guru Meninggalkan siswa mencari jawaban sendiri adalah metode yang bagus dalam mengoperasikan otak dan memacunya untuk berpikir dan mencari jawaban.

 Indikasi metode ini memiliki peran positif adalah, bahwa metode ini dapat mengasah otak, indra dan menjadikannya mencari dengan giat untuk menemukan jawaban yang di inginkan, yang pada dasarnya juga mengindikasikan kemajuan dan keuntungan yang menambah perbendaharaan siswa. Jelasnya guru memberi sebuah permasalahan tertentu dan memberikan pendekatan makna pada mereka kemudian meninggalkan jawaban dan putusan terakhir kepada mereka.

2. Langkah- langkah Metode Information search

Dalam buku Active learning karangan Mel Siberman dijelaskan prosedur

atau langkah-langkah information search yaitu:

1)      Buatlah sekumpulan pertanyaan yang dapat dijawab dengan mencari informasi yang bisa ditemukan dalam buku sumber yang telah anda bagikan kepada siswa. Materi sumbernya bisa mencakup:

a. Buku pegangan

b. Dokumen

c. Buku Teks

d. Panduan referensi

e. Informasi yang diakses melalui computer

f. Artifak

g. Peralatan “berat: (misalnya mesin)

2)      Bagikan pertanyaan-pertanyaan tentang topiknya

3)      Perintahkan siswa untuk mencari informasi dalam tim-tim kecil.

4)       Kompetisi yang bersahabat bisa diwujudkan untuk mendorong partisipasi

5)      Bahaslah jawaban didepan kelas. Perluaslah jawabannya guna memperluas cakupan pembelajaran.

 

Menurut Hisyam Zaini, ada beberapa langkah-langkah dari metode information search yaitu:

1.    Buatlah beberapa pertanyaan yang dapat dijawab dengan mencari informasi yang dapat ditemukan dalam bahan-bahan sumber yang bisa di akses siswa.

2.    Bagikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada siswa

3.    Minta siswa menjawab pertanyaan bisa individual atau kelompok kecil. Kompetesi antar kelompok dapat di ciptakan untuk meningkatkan partisipasi.

4.    Beri komentar atas jawaban yang dibeikan siswa. Kembangkan jawaban untuk memperluas skope pembelajaran.[2]

 

Jadi metode information search ini adalah cara yang diambil untuk menyampaikan atau mengajarkan bahan atau materi kepada siswa, agar dapat dikuasai dengan baik untuk mencapai maksud yang diinginkan. Dalam penerapan metode ini, proses pembelajaran akan berjalan aktif karena siswa mencari informasi sendiri tentang materi yang akan dibahas.

Penggunaan metode ini menuntut kecerdasan dari guru dan kepintarannya untuk memilih masalah-masalah yang akan di lontarkan, serta memperhatikan kesederhanaan dan kemudahan di dalamnya, juga mendekatkan prestasi belajar ke otak dengan menyebutkan pengantar dan kondisi-kondisi yang menyertai dan sejenisnya.

Metode ini dilakukan dengan membangkitkan akal dan kemampuan anak untuk dapat berpikir secara logis, dapat memahami problem dengan mencari jalan keluarnya sendiri, dengan penggunaan metode ini seorang siswa diharapkan dapat memiliki pemikiran yang kritis dalam mengungkapkan hasil pencarian jawaban dari sumber belajar yang telah diberikan, dapat memperluas perbendaharaan kata dan tidak hanya terpaku pada material

resources yang menjadi bahan rujukan untuk mencari jawaban. Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dari metode ini adalah:

a)      Siswa mencari jawaban sendiri dari sebuah masalah yang di ajukan merupakan metode bagus dan efektif untuk membuat otak bekerja dan mengasahnya berpikir

b)      Adakalanya permasalahan yang di lontarkan mengharuskan jawaban dari siswa adakalanya tidak

c)      Metode ini menuntut kepiawaian guru dan kepintarannya untuk memilih contoh

d)     Semakin masalah yang di lontarkan mudah, bukan dari permasalahan yang sulit bagi otak, hal itu akan lebih cepat kepada mencapai tujuan.

 

Dalam buku yang berjudul “Membuat Siswa Aktif Belajar (65 cara belajar mengajar dalam kelompok) yang ditulis oleh Drs A. Surjadi, M.A., Ph.D, ada model belajar mengajar yang bernama “Penelaahan Induktif Kitab Suci” yang mana dalam metode ini lebih kepada penelaahan tentang ayat-ayat yang perlu di cari penafsirannya, asbabun nuzulnya dan yang lainnya yang berkenaan dengan ayat tersebut.

Dari model belajar mengajar ini kita dapat mengambil kesimpulan tentang adanya kesamaan dalam pelaksanaannya dengan metode information search dan adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh guru adalah:

1)      Menyediakan buku-buku atau sumber seperti tafsir-tafsir Al-Quran

2)      Menyediakan beberapa meja untuk meletakkan buku-buku tersebut

3)      Guru memberi pertanyaan yang harus di jawab oleh masing-masing kelompok

4)      Guru membagi kelompok guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan bantuan buku yang telah disediakan

5)      Membantu kelompok jika mereka perlu bimbingan

6)      Mempersilahkan kelompok untuk mempresentasikan hasil laporannya

7)      Merangkum dan meluruskan dari hasil laporan

8)      Memberi saran tentang hal-hal yang perlu di pelajari lebih lanjut

9)      Mengevaluasi hasil belajar

Dari langkah-langkah model belajar yang seperti ini tidak beda jauh dengan metode information search dan yang membedakan hanya terletak dengan sumber yang di letakkan di meja dengan sumber yang langsung dipegang oleh siswa.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari langkah-langkah metode ini

adalah:

a. Dapat memperjelas apa yang sulit bagi siswa untuk memahaminya serta apa yang menjadi problem baginya

b. Dapat memberi rasa tenang pada hati dan mendekatkan makna pada otak

c. Metode ini adalah faktor mantapnya pengetahuan di otak siswa

 

3. Tinjauan Tentang Metode Information Search dalam Teori Belajar.

Metode information search merupakan metode yang lebih cenderung pada teori kognitif, karena dalm pembelajaran dengan menggunakan metode inisiswa diharapkan dapat menggunakan daya nalarnya untuk dapat menemukan jawaban dari bahan ajar yang telah ada.

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi, perceptual dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik.

Kebebasan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.

2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit.

3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.

4. Untuk menarik minat dan retensi belajar perlu mengaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.

5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.

6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Akan bermakna, informasi harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.

Adanya perbedaan individual dalam diri siswa yang perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.[3]

 METODE DRILL

1.         Pengertian Metode Drill

 Menurut Lufri metode drill disebut juga dengan metode latihan atau training yaitu suatu metode atau cara mengembangkan kompetensi atau skill anak didik baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor, sehingga anak menjadi terampil dalam bidang yang dilatihkan.[4]

Metode drill atau disebut juga latihan dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan.

Jadi dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa  pengertian dari metode drill adalah suatu cara atau metode untuk memperoleh kemampuan atau ketangkasan anak didik baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor terhadap apa yang mereka pelajari.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan metode drill, sebagai berikut:

a.    Harus disadari bahwa pengertian belajar bukan berarti pengulangan yang persis sama dengan apa yang telah dipelajari sebelumnya oleh siswa, akan tetapi terjadinya suatu proses belajar dengan latihan siap adalah adanya situasi yang berbeda serta pengaruh latihan pertama, maka latihan kedua, ketiga dan seterusnya akan lain sifatnya.

b.    Situasi belajar itulah yang mula-mula harus diulangi untuk mendapat memperoleh respons dari siswa.

Latihan drill cocok digunakan bilamana untuk memperoleh:

a.       Kecakapan motorik, seperti mengulas, menghafal, membuat alat-alat, menggunakan alat, dan permainan.

b.      Kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal tanda-tanda/  simbol dan sebagainya.

c.       Asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan simbol, membaca peta, dan sebagainya.

2.    Keunggulan dan Kelemahan Metode Drill

Keunggulan metode ini adalah:

a.       Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya.

b.      Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa para siswa yang berhasil dalam belajarnya telah memilki suatu kerampilan khusus yang berguna kelak dikemudian hari.

c.       Guru lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan mana siswa yang disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang dengan memperhatikan tindakan dan perbuatan siswa disaat berlangsungnya pengajaran.

Sedangkan kelemahan metode drill antara lain:

a.       Dapat menghambat inisiatif siswa, dimana inisiatif dan minat siswa yang berbeda dengan petunjuk guru dianggap suatu penyimpangan dan pelanggaran dalam pengajaran yang diberikannya.

b.      Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan. Dalam kondisi belajar ini pertimbangan inisiatif siswa selalu disorot dan tidak diberikan keleluasaan. Siswa menyelesaikan tugas secara status sesuai dengan apa yang diinginkan oleh guru.

c.       Membentuk kebiasaan yang kaku, artinya seolah-olah siswa melakukan sesuatu secara mekanis, dan dalam memberikan stimulus siswa dibiasakan bertindak secara otomatis.

d.      Dapat menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat menghafal dimana siswa dilatih untuk dapat menguasai bahan pelajaran secara hafalan dan secara otomatis mengingatkannya bila ada pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan hafalan tersebut tanpa suatu proses berpikir secara logis.

D. HASIL BELAJAR

  1. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil belajar (product)  menunjukan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.[5]

Menurut Nana Sudjana hasil belajar merupakan “Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. [6]

Jadi apa yang didapatkan oleh siswa, pengalaman-pengalaman yang didapatkan oleh siswa dapat dapat dinilai dalam bentuk kemampuan-kemampuan yang terdapat dalam diri siswa tersebut.

Ada beberapa pakar ahli yang mendefenisikan hasil belajar sebagai berikut:

a.      Mulyono, Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh  anak setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar.

b.      A.J Romiszowski, hasil belajar merupakan keluaran (Outputs) dari suatu system pemprosesan masukan (Inputs), masukan ini berupa bermacam-macam informasi, sedangkan keluarnnya adalah perbuatan atau kinerja (performance).

c.      Jhon M. Kaller memandang hasil belajar sebagai keluaran suatu sistem pemprosesan berbagai masukan berupa informasi.[7]

Dari beberapa pendapat para ahli terlihat bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang diterima oleh siswa dalam proses belajar sehingga kemampuan tersebut bisa digunakan dalam bentuk perbuatan.

Hasil belajar sering sekali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan.Untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syarat.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu berasal dari dalam diri orang yang belajar dan luar dirinya di bawah ini dikemukakan faktor-faktor yang menentukan pencapaian hasil belajar.

    1. Faktor internal (yang berasal dari dalam diri) meliputi, kesehatan, itelegensi, bakat, minat dan motivasi, serta cara belajar.
    2. Faktor eksternal (yang berasal dari luar diri)

          Keluarga

Keluarga adalah ayah, ibu, dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah.Faktor orang tua sangat besar pengaruh terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian, dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, akrab atau tidaknya situasi dalam rumah, semua itu mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak. Di samping itu faktor keadaan rumah keberhasilan belajar.

           Sekolah

          Masyarakat

          Lingkungan Sekitar.[8]

 

Sejalan dengan Slameto menyatakan faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut:

a)      Faktor Jasmaniah, Terdiri dari faktor kesehatan, dan cacat tubuh

b)      Faktor Psikologis terdiri dari

          Itelegensi, kecakapan yang terdiri dari 3 jenis yaitu kecakapan menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif.

          Perhatian, untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus memiliki perhatian yang tinggi terhadap bahan yang dipelajarinya.

          Minat, kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang.

          Motivasi, merupakan pendorong suatu organisme untuk melakukan sesuatu. Motif instrinsik dapat mendorong seseorang sehingga akhirnya orang itu menjadi spesialis dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu. Tidak mungkin seseorang berusaha mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya. Jika ia tidak mengetahui betapa penting dan faedahnya hasil yang dicapai dari belajarnya itu sendiri.

          Bakat, merupakan the capacity to learn. Maksudnya adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika bahan pelajaran yang dipelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajar lebih baik karena ia senantiasa belajar dan lebih giat belajar

c)      Faktor Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan dua macam. Yaitu kelelahan jasmani dan rohani

d)     Faktor Keluarga

          Cara orang tua mendidik anak, cara orang tua mendidik anak besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya, dapat menyebabkan kurang berhasil dalam belajarnya.

          Relasi anggota keluarga, relasi anggota keluarga yang terpenting adalah orang tua dengan anaknya, selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga lainnya.

          Suasana Rumah, suasana rumah yang dimaksud sebagai situasi kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak berada dan belajar.

          Keadaan Ekonomi Keluarga, keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan motivasi belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokok misalnya, pakaian, perlindungan, kesehatan, dan lain-lain juga membutuhkan fasilitas belajar seperti, ruangan belajar, meja, kursi, alat tulis menulis, buku-buku dan sebagainya. Semua fasilitas belajar tersebut akan terpenuhi jika keluarga memiliki cukup uang.[9]

 PENDIDIKAN AL-QUR’AN

1. Pengertian Mata Pelajaran Pendidikan Al-Qur’an

Mata pelajaran pendidikan Al-Qur’an pemberian pengetahuan serta bimbingan tentang membaca, menulis, memahami, menghayati, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an yang berhubungan dengan aqidah, ibadah, dan akhlak.

2. Karakateristik Mata Pelajaran Pendidikan Al-Qur’an

a.    Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya merupakan suatu usaha atau pekerjaan yang sangat terpuji. Hal ini sesuai dengan hadits”sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”(H.R.Bukhari)

b.    Membaca Al-Qur’an bernilai ibadah di sisi allah SWT

c.    Mendengarkan orang membaca Al-Qur’an memperoleh rahmat dan hidayah adari allah SWT

d.   Al-Qur’an merupakan obat terhadap jiwa, petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

e.    Al-Qur’an mudah dipelajari, dihafal, dan dihayati

f.     Al-Qur’an merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan

g.    Gaya bahasa al-Qur’an memiliki keindahan dan nilai sastra yang amat tinggi serta tidak tertandingi oleh bahsa manusia

h.    Mempelajari dan membacanya akan melahirkan rasa  ketenangan dan kesucian jiwa

i.      Mengartikan dan memahami isi ayat-ayat Al-Qur’an akan melahirkan kecerdasan intelektual, emosional, disiplin, ikhlas, tawakal, enerjik dalam hidup yang penuh dengan gairah.

 

3. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Al-Qur’an

a.    Meningkatkan kompetensi membaca, menulis, menerjemahkan, menghafal, memahami, menghayati isi Al-Qur’an sebagai lanjutan dari tingkat pendidikan sebelumnya

b.    Menngkatkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an dan senang membacanya

c.    Terbiasa mengamalkan isi Al-Qur’an, baik berkenaan dengan aqidah, ibadah maupun akhlak

d.   Menghafal minimal 20 surat pendek pilihan yang terdapat dalam juz ‘amma dan ayat-ayat pilihan lainnya

e.    Meningkatkan efektifitas baca tulis Al-Qur’an dan pemahamannya di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

 

Kesimpulan

metode” adalah cara yang teratur dan sistematis untuk pelaksanaan sesuatu; cara kerja.

Metode information search yaitu suatu cara yang digunakan oleh guru dengan maksud meminta peserta didik untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan baik oleh pendidik maupun peserta didik sendiri, kemudian mencari informasi jawabannya lewat membaca untuk menemukan informasi yang akurat.

Metode drill atau disebut juga latihan dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan.

Mata pelajaran pendidikan Al-Qur’an pemberian pengetahuan serta bimbingan tentang membaca, menulis, memahami, menghayati, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an yang berhubungan dengan aqidah, ibadah, dan akhlak.

 

 

SUMBER BACAAN­

Ramayulis.2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta:Kalam Media

 

Zaini, Hisyam.2002. Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi. yogyakarta:CTSD

Purwanto.2009. evaluasi hasil belajar. yogyakarta:pustaka pelajar

 

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Proses Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

 

Lufri.2006. Strategi Pembelajaran Biologi.padang:UNP PRESS

 

basyiruddin, Usman.2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers

 

Abdurrahaman, Mulyono.2003. Pendidikan Bagi Anak yang Berkesulitan Hasil Belajar. Jakarta:Rineka Cipta

 

M. Dalyono.2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

 

Slameto.2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

 

Peraturan Gubernur Sumatra Barat.2010.kurikulum pendidikan Al-Qur’an tingkat SMA, No.71

 

 

 


[1] Ramayulis, op, cit, h.117

[2] Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi,(yogyakarta:CTSD,2002), h 48-49

[3]http://Rinta Septy Amanda- skripsi-Penerapan metode information search dalam meningkatkan hasil belajar siswa-pdf.wordpress/.com.tersedia:di akses tgl 3 oktober 2012 jam 20.00 wib

[4] Lufri, Strategi Pembelajaran Biologi,(padang:UNP PRESS,2006), h 38

[5]Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. (Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2009).h. 44.cet I

[6]Nana Sudjana, Penilaian Proses Hasil Belajar Mengajar.(Bandung:Remaja Rosdakarya.2009). h. 22 cet X

[7] Mulyono Abdurrahaman. Pendidikan Bagi Anak yang Berkesulitan Hasil Belajar.(Jakarta:Rineka Cipta.2003).h. 37-38 dan  60.cet II

[8] M. Dalyono. Psikologi Pendidikan.(Jakarta: Rineka Cipta, 2009).cet ,v, h. 59.

[9] Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta.2003). h.54-72

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

PEMBINAAN MORAL DAN AGAMA BAGI GENERASI MUDA

OLEH:

PUTRI MINANDA

Abstrak: Pendidikan adalah usaha sadar manusia untuk meningkatkan kualitas dirinya, baik personal maupun kolektif. Pendidikan juga merupakan suatu upaya manusia untuk memanusiakan dirinya dan membedakannya dengan makhluk lain. Untuk itu pendidikan menjadi penting, tatkala manusia berinteraksi dengan manusia lainnya dan pendidikanlah yang akan membedakan kualitas interaksi tersebut. Interaksi akan terlihat indah jika didalamnya tertanam nilai-nilai agama (moral). Nilai agama inilah yang akan membentuk tata aturan supaya hidup menjadi harmonis dan agama pula yang menjadikan hidup ini terarah. Agama juga mengatur hubungan manusia dengan khalik-Nya, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kemajuan lahiriah dan kebahagiaan bathiniah. Sebab itulah pendidikan agama yang merupakan bagian pendidikan terpenting untuk melestarikan aspek-aspek sikap dan nilai keagamaan harus dioperasionalkan secara konstruktif dalam masyarakat, keluarga dan diri sendiri. Pendidikan agama juga harus mempunyai tujuan yang berintikan tiga aspek, yaitu aspek iman, ilmu dan amal yang merupakan sendi tak terpisahkan. Disamping itu pula seorang pendidik hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya melainkan juga akhlak.

Pembinaan moral dan agama dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu pendidik agama perlu memantau kegiatan pendidikan agama Islam yang dialami oleh peserta didiknya, sehingga terwujudlah keselarasan dan kesatuan tindak dalam pembinaanya.

 

Kata Kunci:  Pembinaan moral, pembinaan agama, generasi muda

 

Hakikat Pembinaan moral dan agama

Istilah moral berasal dari kata latin ‘mos’ (moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan, nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas, merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.Menurut Zakiah Daradjat, dalam bukunya yang berjudul “Peranan Agama dalam Kesehatan Mental mengatakan bahwa moral adalah kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut. Tindakan itu haruslah mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan atau keinginan pribadi.

Dalam Islam moral merupakan terjemahan dari kata akhlak. Namun demikian moral dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan atau kelakuan yang bersumber dari nilai-nilai masyarakat, sedangkan akhlak merupakan suatu kelakuan atau sikap yang dimiliki oleh seseorang yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Di kalangan para ulama terdapat berbagai pengertian tentang apa yang dimaksud moral/akhlak. Murtadha Muthahhari mengemukakan bahwa moral/akhlak mengacu kepada perbuatan yang bersifat manusiawi, yaitu perbuatan yang lebih bernilai dari sekedar perbuatan alami seperti makan, tidur, dan sebagainya.

Pengertian moral secara lebih lengkap dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih, bahwa moral/akhlak adalah suatu perbuatan yang lahir dengan mudah dari jiwa yang tulus, tanpa memerlukan pertimbangan dan pertimbangan lagi.

Berdasarkan definisi di atas Abuddin Nata, merumuskan bahwa perbuatan moral/akhlak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:1) Perbuatan tersebut telah mendarah daging atau mempribadi, sehingga menjadi identitas orang melakukannya.2) Perbuatan tersebut dilakukan dengan mudah, gampang serta tanpa memerlukan pikiran lagi. Sebagai akibat dari telah mempribadinya perbuatan tersebut. 3) Perbuatan tersebut dilakukan atas kemauan dan pilihan sendiri bukan karena paksaan dari luar. Perbuatan tersebut dilakukan dengan sebenarnya bukan berpura-pura, sandiwara, atau tipuan dan perbuatan tersebut atas dasar niat karena Allah SWT.

Dalam hubungannya antara ajaran agama khususnya Islam dan moral ini, Zakiah Daradjat berpendapat bahwa jika kita ambil ajaran agama, maka moral adalah sangat penting bahkan yang terpenting di mana kejujuran, keadilan, kebenaran dan pengabdian adalah di antara sifat-sifat yang terpenting dalam agama.

Hal ini sejalan pula dengan pendapat Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa: Inti ajaran agama adalah moral yang bertumpuh pada keyakinan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa (Habl minallah) dan keadilan serta berbuat baik dengan sesama manusia (Habl minannaas).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa moral dalam ajaran Islam merupakan terjemahan dari kata akhlak yang berarti sifat terpuji yang merupakan pantulan berupa perilaku, ucapan dan sikap yang ditimbulkan oleh seseorang atau dengan kata lain moral adalah amal saleh dan dalam mendidik moral anak orang tua harus memberikan tauladan yang baik sebab moral anak terbentuk dengan meniru bukan dengan nasehat atau petunjuk.

Generasi muda dalam arti luas mencakup umur anak-anak dan remaja, mulai dari lahir sampai mencapai kematangan dari segala aspeknya ( jasmani, rohani, sosial, budaya dan ekonomi). Dalam arti sempit atau populer generasi muda adalah masa muda (remaja dan awal masa dewasa.

 Pembinaan berarti pembinaan dari segala aspek kehidupan generasi muda, terutama pembinaan pribadi yang dimulai sejak anak lahir atau bahkan sejak dalam kandungan. Pembinaan pribadi dan moral terjadi melalui semua pengalaman hidup, baik melaui penglihatan, pendengaran dan pengalaman yang diterimanya atau melalui pendidikan. Oleh karena itu dalam pembinaan generasi muda, perlulah kehidupan moral dan agama itu sejalan, karena moral tidak dapat dipisahkan dari keyakinan beragama.

Manusia sebagai khalifah di bumi telah dibekali berbagai potensi. Dengan mengembangkan potensi tersebut diharapkan manusia mampu menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah SWT dan sebagai khalifah. Diantara potensi tersebut adalah potensi beragama.

Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan suci yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci. Bila kembali pada ajaran agama Islam, dengan bersumber pada al-Quran, akar naluri beragama itu bagi setiap individu telah tertanam jauh sebelum kelahiran di dunia nyata. Informasi ini berdasarkan al-Quran surat ar-Rum ayat 30:

óOÏ%rsùy7ygô_urÈûïÏe$#Ï9$Zÿ‹ÏZym4|NtôÜÏù«!$#ÓÉL©9$#tsÜsù}¨$¨Z9$#$pköŽn=tæ4ŸwŸ@ƒÏ‰ö7s?È,ù=yÜÏ9«!$#4šÏ9ºsŒÚúïÏe$!$#ÞOÍhŠs)ø9$# ÆÅ3»s9uruŽsYò2r&Ĩ$¨Z9$#ŸwtbqßJn=ôètƒÇÌÉÈ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Ayat tersebut mengataakan bahwa menurut fitrahnya, manusia adalah makhluk yang beragama. Dengan istilah lain disebut sebagai Homo Religion (makhluk yang bertuhan). Dikatakan demikian karena secara naluri manusia pada hakikatnya menyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Menurut penelitian Ernes Harmar perkembangan agama pada anak-anak melalui beberapa fase: 1) The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng), tingakt ini dimulai pada anak yang berusia 3 tahun sampai dengan 6 tahun. Pada tahap ini konsep mengenal Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Tingkat perkembangan ini seakan-akan ank itu menghayati konsep ketuhanan itu kurang masuk akal, sesuai dengan perkembangan intelektualnya. 2) Tingkat Realistic Stage (Tingkat Kenyataan), tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar sehingga sampai keusia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide-ide keTuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada kenyataan, konsep ini timbul melalui lembaga keagamaan dan pengajaran orang dewasa.3) Tingakt Individual Stage (Tingkat Individu).

Mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia?

a.        Agama merupakan sumber moral. Manusia sangatlah memerlukan akhlaq atau moral, karena moral sangatlah penting dalam kehidupan. Moral adalah mustika hidup yang membedakan manusia dari hewan. Tanpa moral kehidupan akan kacau balau, tidak saja kehidupan perseorangan tetapi juga kehidupan masyarakat dan negara, sebab soal baik buruk atau halal haram tidak lagi dipedulikan orang. Dan kalau halal haram tidak lagi dihiraukan. Ini namanya sudah maehiavellisme. Machiavellisme adalah doktrin machiavelli “tujuan menghalalkan cara kalau betul ini yang terjadi, biasa saja  kemudian bangsa dan negara hancur binasa.  Ahmad Syauqi, 1868 – 1932 seorang penyair Arab mengatakan “bahwa keberadaan suatu bangsa ditentukan oleh akhlak, jika akhlak telah lenyap, akan lenyap pulalah bangsa itu”.Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Alexis Carrel seorang sarjana Amerika penerima hadiah nobel 1948 “moral dapat digali dan diperoleh dalam agama, karena agama adalah sumber moral paling teguh. Nabi Muhammad Saw di utus tidak lain juga untuk membawa misi moral, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

b.         Agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia, baik dikala suka maupun di kala duka. Hidup manusia di dunia yang pana ini kadang-kadang suka tapi kadang-kadang juga duka. Maklumlah dunia bukanlah surga, tetapi juga bukan neraka. Jika dunia itu surga, tentulah hanya kegembiraan yang ada, dan jika dunia itu neraka tentulah hanya penderitaan yang terjadi. Kenyataan yang menunjukan bahwa kehidupan dunia adalah rangkaian dari suka dan duka yang silih berganti.

 

Merebaknya isu-isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), tawuran pelajar, pornografi, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, penganiaayan, perjudian dan pembunuhan sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat dianggap sebagai suatu persoalan yang sederhana karena tindakan tersebut menjerumus kepada tindakan kriminal. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua, guru dan masyarakat, sebab pelaku beserta korbannya adalah remaja terutama para pelajar dan mahasiswa.

Beragamnya fenomena yang muncul pada tatanan kehidupan manusia khususnya bangsa Indonesia pada saat ini yang berkaitan dengan perubahan tingkah laku sehingga terjadilah kemerosotan moral di mana-mana, menjadikan citra bangsa Indonesia tidak seindah dulu, yang dikenal sebagai bangsa yang santun, berakhlak dan saling menghormati dan membantu satu sama lain serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebersaman dan persatuan. Kenyataan ini dapat kita saksikan di layar televisi, yang mana setiap hari ditayangkan tindakan – tindakan yang cenderung tidak manusiawi, seperti meningkatnya tindakan kekerasan, penganiayaan dan tindakan kriminalitas lainnya, yang selanjutnya menjadikan satu kelompok dengan kelompok lain saling menyakiti, saling berbuat zalim dan aniaya. Dimana seseorang atau kelompok yang merasa kuat akan menindas dan merampas hak kelompok yang lemah. Sungguh ini semua pemandangan yang tidak mengenakkan.

Fenomena ini terjadi tidak hanya dikalangan masyarakat umum, dalam arti hanya dilakukan oleh manusia dewasa saja, melainkan juga terjadi pada pola prilaku anak- anak, tidak terkecuali pada siswa yang masih berada dalam lingkungan lembaga pendidikan.

Tampaknya masalah ini, semakin memuncak terutama di kota-kota besar, barangkali akibat pengaruh kebudayaan asing yang meningkat melalui film, bacaan dan gambar-gambar yang berhubungan dengan negara asing. Biasanya kemerosotan moral disertai oleh sikap menjauh dari agama. Nilai-nilai moral yang tidak didasarkan kepada agama akan terus berubah sesuai dengan keadaan, waktu dan tempat. Keadaan nilai yang berubah itu menimbulkan kegoncangan pula, karena menyebabkan orang hidup tanpa pegangan yang pasti. Nilai yang tetap dan tidak mudah berubah adalah nilai agama, karena nilai agama absolut dan berlaku sepanjang zaman, tidak dipengaruhi oleh tempat dan keadaan. Oleh karena itu orang yang kuat keyakinan bergamalah yang mampu mempertahankan nilai agama yang absolut itu dalam kehidupan sehari-hari dan tidak terpengaruh oleh arus kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat serta dapat mempertahankan ketenangan jiwanya.

Anak merupakan amanat Allah SWT bagi kedua orang tuanya. Ia mempunyai kewajiban yang suci dan cemerlang, apabila ia dibiasakan sejak kecil baik, dididik dan dilatih dengan kontiniu, maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik. Sebaliknya apabila ia dibiasakan berbuat buruk, nantinya ia terbiasa berbuat buruk dan menjadi terbiasa untuk berbuat buruk dan menjadikan ia celaka dan rusak. Dengan demikian orang tua dituntut menjadi pendidik yang memberikan pengetahuan pada anak-anaknya, memimpin keluarga dan mengatur kehidupannya, memberikan contoh yang baik kepada anaknya sebagai keluarga yang ideal dan bertanggung jawab.

Corak keagamaan pada remaja juga ditandai oleh adanya petimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material, remaja sangat bingung menentukan piliha itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cendrung jiwanya untuk bersikap materialis.

Kita tidak dapat mengatakan seseorang anak yang baru lahir itu bermoral atau tidak. Karena moral itu tumbuh dari pengalaman-pengalaman yang dilalui oleh anak sejak lahir. Pembiasan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua. Yang dimulai dengan pembiasaan hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya, kemudian ditiru dari orang tuanya tersebut. Karena itu agama mempunyai peranan penting dalam pengendalian moral seseorang. Tapi harus diingat bahwa pengertian tentang agama, tidak sama dengan moral. Betapa banyak orang yang mengerti agama, akan tetapi moralnya merosot. Dan tidak sedikit pula orang yang tidak mengerti agama sama sekali, moralnya cukup baik.

Dalam pembinaan moral, agama mempunai peranan yang penting, karena nilai-nilai moral yang datang dari agama tetap tidak berubah oleh waktu dan tempat. Misalnya pada suatu masyarakat, mungkin di suatu waktu anak muda dipandang tidak sopan berjalan atau berada di tempat sepi berduaan ( satu laki-laki dan satu perempuan). Akan tetapi mungkin di daerah yang sama dianggap biasa saja. Atau apa yang dipandang baik oleh suatu masyarakat. Dianggap tidak baik oleh masyarakat lain.

Kita akan dapat melihat betapa eratnya hubungan anatar moral dan agama. Diantara remaja ada yang bertambah rajin dalam beribadah, apabila ia merasa bersalah (dosa). Maka ibadah bagi remaja seolah-olah untuk menentramkan hatinya yang gelisah karena merasa bersalah. Selain itu dapat kita lihat pula bahwa remaja itu beragama hanya karena orang tuanya. Cara beragama seperti ini merupakan lanjutan dari cara beragama di masa kanak-kanak, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada pikiran mereka terhadap agama.

Perkembangan moral pada remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada masa remaja juga mencakupi:1) Self-Directif, taat akan agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.2) Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik. 3) Submissive, merasa ada keraguan terhadap ajaran moral dan agama. 4) Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral. 5) Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan dan moral masyarakat.

Memahami konsep keagaamaan pada anak-anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti pola “ideas concept on authority”. Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya authotarius, maksudnya konsepkeagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh unsur dari luar diri mereka. Hal tersebut dapat dimengerti karena anak sejak usia muda telah melihat, mempelajari hal-hal yang berada diluar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu hingga kemaslahatan agama. Dengan demikian ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjaadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua maupun pendidik mereka

Zakiah Darajat menjelaskan bahwa dalam diri manusia selain memiliki kebutuhan jasmani juga mempunyai kebutuhan rohani. Manusia mempunyai keseimbangan akan kebutuhan tersebut, sehingga dalam kehidupannya tidak mengalami tekanan. Terdapat enam unsur kebutuhan yang dilontarkan Zakiah Daradjat: a) Kebutuhan akan rasa sayang. b ) Kebutuhan akan rasa aman. C) Kebutuhan akan rasa harga diri. d) Kebutuhan akan rasa bebas. e) Kebutuhan akan rasa sukses .f) Kebutuhan akan rasa ingin tahu.

Gabungan dari keenam kebutuhan tersebut menyebabkan seseorang memerlukan agama. Melalui agama kebutuhan tersebut dapat tersalurkan dan melaksanakan ajaran agama secara baik, maka kebutuhan rasa aman, kasih sayang dan sebagainya akan dapat terpenuhi.

Lingkungan Keluarga, Sekolah Dan Masyarakat Dalam Pembinaan Moral Dan Agama

Menurut Zahkiyah Daradjat proses pembinaan moral dan agama  itu terjadi melalui dua kemungkinan yaitu melaui proses pendidikan dan melalui proses pembinaan kembali. Melalui proses pendidikan harus sesuai dengan syarat-syarat psikologis dan pedagogis dalam ketiga lembaga pendidikan yaitu rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pembinaan moral dan agama harus dimulai sejak anak lahir oleh ibu bapaknya. Karena setiap pengalaman yang dilaui oleh anak, baik melalui pendengaran, penglihatan, perlakuan, dan sebagainya, akan menjadi bagian dari pribadinya yang akan tumbuh nantinya.

Kemudian pendidikan agama yang diberikan di sekolah hendaknya dapat menjawab segala persoalan yang sedang dilalalui anak. Begitu anak masuk sekolah, maka mulai ada pengaruh masyarakat yang menimpanya. Apa yang dilihatnya di sekolah dan masyarakat, baik yang menyenangkan dan yang buruk, semua ikut mempengaruhi pembinaan moral yang dilaksanakan di rumah dan di sekolah tadi. Melalui proses pembinaan kembali maksudnya adalah memperbaiki moral yang telah rusak, atau membina moral kembali dengan cara berbeda dari yang pernah dilalui dulu.

Setiap guru yang ingin berhasil dalam tugasnya mendidik anak-anak yang dipercayakan kepadanya, harus memahami perkembangan jiwa anak-anak yang dihadapinya, disamping kemampuan ilmiah yang dimilikinya, serta penguasaan terhadap metode dan keterampilan mengajar.

Bagi seorang guru agama, diperlukan syarat lain, disamping syarat-syarat yang biasa diperlukan bagi seorang guru. Guru agama hendaknya mengetahui ciri perkembangan jiwa agama pada anak-anak dalam tiap umur, latar belakang dan pengaruh pendidikan, serta lingkungan di mana si anak dibesarkan. Agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan cara berhasil guna dan berdaya guna untuk mencapai tujaun pendidikan yang telah ditentukan.

Adapun Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Setiap guru agama hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama  dan melatih keterampilan anak dalam beribadah saja. Akan tetapi pendidikan agama jauh lebih luas dari pada itu, yang bertujuan membentuk kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam. Pembinaan sikap, moral, dan akhlak, jauh lebih penting dari pada pandai menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum agama, yang tidak di implikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tugas guru agama tidak hanya melaksanakan pendidikan agama secara baik, akan tetapi juga harus dapat memperbaiki pendidikan agama yang sudah terlanjur salah diterima anak, baik dalam keluarga maupun masyarakat sekitarnya.

 

Kesimpulan

Pembinaan moral dan agama  itu terjadi melalui dua kemungkinan yaitu melaui proses pendidikan dan melalui proses pembinaan kembali. Melalui proses pendidikan harus sesuai dengan syarat-syarat psikologis dan pedagogis dalam ketiga lembaga pendidikan yaitu rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Melalui proses pembinaan kembali maksudnya adalah memperbaiki moral yang telah rusak, atau membina moral kembali dengan cara berbeda dari yang pernah dilalui dulu.

Pendidikan agama yang diberikan di sekolah hendaknya dapat menjawab segala persoalan yang sedang dilalalui anak. Begitu anak masuk sekolah, maka mulai ada pengaruh masyarakat yang menimpanya. Apa yang dilihatnya di sekolah dan masyarakat, baik yang menyenangkan dan yang buruk, semua ikut mempengaruhi pembinaan moral yang dilaksanakan di rumah dan di sekolah.

Guru agama hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama  dan melatih keterampilan anak dalam beribadah saja. Akan tetapi pendidikan agama jauh lebih luas dari pada itu, yang bertujuan membentuk kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam. Pembinaan sikap, moral, dan akhlak, jauh lebih penting dari pada pandai menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum agama, yang tidak di implikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

SUMBER BACAAN­

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, (Jakarta: Kencana,2009)

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta:PT Raja Gravindo Persada, 2004)

Asri Budiningsi, Pembelajaran Moral, (Jakarta:PT Rineka Cipta,2004)

Choirul Fuad Yusuf, Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ,(Jakarta:Pena Cita Satria,2007)

Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana,2006)

Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama,(Jakarta:Bulan Bintang,1996)

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam,(Jakarta:Kalam Mulia, 2005)

Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta:Bulan Bintang, 1982)

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2009)

http://www.masbied.com/2009/10/30/orang-tua-dan-pendidikan-moral-bagi-anak/

shttp://www.sarjanaku.com/2011/09/pendidikan-agama-islam-pengertian.html

 

 

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

Upaya Mewujudkan Pendidikan Agama Islam yang Berpotensi Karakter

Oleh :

Rani Soraya

 

Abstrak:Pendidkan merupakan suatu proses memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang berilmu dan berpendidikan hal ini dilalui melalui pembinaan yang diberikan dari pendidik yang mewujudkan peserta didik yang memiliki karakter yang baik bagi nusa dan bangsa.

 

Kata Kunci: Upaya Mewujudkan Pendidikan Agama Islam yang Berpotensi Karakter

 

Hakikat pendidikan karakter

Pendidikan berkarakter merupakan salah satu sasaran pendidikan di masa sekarang. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah yang dituangkan dalam UU Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter merupakan aspek pentimg dari kualitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa.


Sementara itu, UU 20 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Nasional Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendikdikan islam sebagai suatu proses pengembangan potensi  kreativitas peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada allah swt, cerdas, terampil, memiliki etos kerja yang tinggi, berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, bangsa dan negara, serta agama. Proses ini sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar pada pandangan dan konsep. Oleh karena itu, perwujudan proses belajar mengajar dapat terjadi dalam berbagai model. Bruce joyce dan marshal weil mengemukakan 22 model mengajar yang dikelompokkan kedalam 4 hal, yaitu :

a)      Proses informasi

b)      perkembangan pribadi

c)      interaksi sosial

d)     modifikasi tingkah laku

Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu materi penting dalam pelaksanaan pendidikan formal terutama yang berbasis umum. Hal tersebut dikarenakan materi pendidikan Agama Islam merupakan satu-satunya wahana untuk memberikan pengetahuan keagamaan, jika peserta didik tidak mengikuti kegiatan-kegiatan yang bernuansa religius selain disekolah, maka guru memegang peranan penting dalam mengelola dan mengambil tindakan bagaimana dan seberapa jauh tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pendidikan Agama Islam.

Kegiatan belajar mengajar yang dapat melahirkan interaksi-interaksi antar potensi yang ada dalam diri peserta didik merupakan suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Salah satu cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal diantaranya bagaimana guru dengan segenap pengalaman dan pengetahuannya mampu mengelola dengan menggunakan metodelogi yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik

            2. Kedudukan Guru

            Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti terlibat dalam agenda penbicaraan terutam yang menyangkut persoalan pendidikan formal disekolah.

            Disekolah, guru hadir untuk mengabdikan diri kepada umat manusia dalam hal ini anak didik. Negara menuntun generasinya yang memerlukan pembinaan dan bimbingan dari guru. Guru dan anak didik adalah dua sosok manusia yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Pada hakikatnya guru dan anak didik itu bersatu. Mereka satu dalam jiwa, terpisah dalam raga.raga mereka boleh terpisah, tetapi jiwa mereka tetap satu sebagai “Dwitunggal” yang kokoh bersatu.Menjadi guru berdasarkan pada tuntutan pekerjaan adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi menjadi guru berdasasrkan panggilan jiwa atau tuntutan hati nurani adalah tidak nudah, karena kepadanya lebih banyak dituntut suatu pengabdian kepada anak didik daripada karena tuntutan pekerjaan dan material.

            3. Pendekatan yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran

            Dalam mengajarar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik.pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan.setiap guru tidak sel;alu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pembelajaran.

            Ada beberapa pendekatan yang diajukan dalam pembicaraan ini diharapkan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai permasalahan dalam interaksi. Ada beberapa pendekatan yang dilakukan guru yaitu:

a)      Pendekatan individual

            Pendekatan individual mempunyai arti penting bagi kepentingan pengajaran.persoalan kesulitan belajar anak didik lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekastan kelompokdiperlukan.

b)      Pendekatan kelompok

Pendekatan kelompok diharapkan dapat ditumbuhkan dan dikembangkan rasas sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Bekerja kelompok   dapat membantu anak didik hidup bersama.

c)      Pendekatan bervariasi

      Dalam mengajar guru yang hanya menggunakan metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif. Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didikdalam belajar bermacan-macam. Sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

d)     Pendekatan Edukatif

      Apapun yang guru lakukan dan gunakan dalam pendidikan dan pengajaran bertujuan untuk mendidik, bukan karena motif lain.dalam mendidik kurang arif damn bijaksana, bila menggunakan kekuasaan karena hal itubisa merugikan pertumbuhan dan per kenbangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi seorang guru dengan melakukan pendekatan edukatif.setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghrgai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial, dan norma agama.

Pendidkan karakter mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerjasama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Ada empat jenis pendidikan karakter yang dilaksanakan dalam proses pendidikan yaitu:

1.      Pendidikan karakter berbasis nilai religious yang merupakan kebenarab wahyu Tuhan (konsenvasi moral)

2.      Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, antara lain yang merupakan budi pekerti, apresiasi sastra, keteladanan, tokoh-tokoh sejarah dan parapemimpin bangsa (Konservasi lingkungan)

3.      Pendidikan karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungan)

4.      Pendidikan karakter berbasis potensi diri yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Metode pendidikan  karakter disekolah  dapat berupa:

a.       Mengajarkan

b.      Keteladanan

c.       Menentukan prioritas

d.      Praksis prioritas

e.       Refleksi

 

          Berangkat dari hal tersebut diatas, secara formal upaya menyiapkan kondisi, sarana/prasarana, kegiatan, pendidikan, dan kurikulum yang mengarah kepada pembentukan watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan yuridis yang kuat. Namun, sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak yang menerpa semua lapisan masyarakat. Tidak terkecuali juga pada anak-anak usia sekolah. Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut mulai dirintis melalui pendidikan karakter bangsa.

 Dalam pemberian pendidikan karakter bangsa di sekolah, para pakar berbeda pendapat. Setidaknya ada tiga pendapat yang berkembang. Pertama, bahwa pendidikan karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Pendapat kedua, pendidikan karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran Pkn, mata pelajaran aama dan mata pelajaran lain yang relevan. Pendapat ketiga, pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran.

Pendidikan ke arah terbentuknya karakter bangsa para siswa merupakan tanggungjawab semua guru. Oleh karena itu, pembinaannya pun harus oleh semua guru. Dengan demikian, kurang tepat jika dikatakan bahwa mendidik para siswa agar memiliki karakter bangsa hanya ditimpahkan pada guru mata pelajaran tertentu, semisal guru PKn atau guru pendidikan agama. Walaupun dapat dipahami bahwa porsi yang dominan untuk mengajarkan pendidikan karakter bangsa adalah para guru yang relevan dengan pendidikan karakter bangsa.

Tanpa terkecuali, semua guru harus menjadikan dirinya sebagai sosok teladan yang berwibawa bagi para siswanya. Sebab tidak akan memiliki makna apapun bila seorang guru PKn mengajarkan menyelesaikan suatu masalah yang bertentangan dengan cara demokrasi, sementara guru lain dengan cara otoriter. Atau seorang guru pendidikan agama dalam menjawab pertanyaan para siswanya dengan cara yang nalar yaitu dengan memberikan contoh perilaku para Nabi dan sahabat, sementara guru lain hanya mengatakan asal-asalan dalam menjawab.

Pembangunan karakter bangsa harus dilakukan melalui pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga; satuan pendidikan; pemerintah; masyarakat termasuk teman sebaya, generasi muda, lanjut usia, media massa, pramuka, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat; kelompok strategis seperti elite struktural, elite politik, wartawan, budayawan, agamawan, tokoh adat, serta tokoh masyarakat. Adapun strategi pembangunan karakter dapat dilakukan melalui sosialisasi, pendidikan, pemberdayaan, pembudayaan, dan kerja sama dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat serta pendekatan multidisiplin yang tidak menekankan pada indoktrinasi.

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif atau dingkat PAKEM merupakan proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Dengan demikian melalui penerapan pendakatan PAKEM siswa didik untuk gemar membaca, belajar dengan sungguh-sungguh, mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan sebaik mungkin, berupaya mendapatkan hasil trerbaik, bekerjasama dengan sesama teman dan hal-hal positip lainnya yang semuanya memiliki keterkaitan dengan indikator nilai-nilai pembangunan karakter bangsa.

            Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM adalah:

1. Memahami sifat yang dimiliki anak

2. Mengenal anak secara perorangan

3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar

4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah

5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik

6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan    belajar

8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

Dalam draf ”Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa” yang dikeluarkan oleh Depdiknas (2009), Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari:

1.      Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama. Secara politis kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaedah yang berasal dari agama.

2.      Pancasila: negara Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945 tersebut. Artinya, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warganegara yang lebih baik dan warganegara yang lebih baik adalah warganegara yang menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warganegara.

 

3.      Budaya adalah suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan dasar dalam memberi makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai-nilai dari pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4.      Tujuan Pendidikan Nasional adalah kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Di dalam tujuan pendidikan nasional terdapat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki seorang warganegara.

Pendidikan karakter merupakan proses yang berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan. Tujuannya adalah terwujudnya sosok manusia masa depan yang berakan pada nilai-nilai budaya bangsa.

Pendidikan karakter bangsa dalam keterpaduan pembelajaran dengan semua mata pelajaran sasaran integrasinya adalah materi pelajaran, prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar para siswa. Konsekuensi dari pembelajaran terpadu, maka modus belajar para siswa harus bervariasi sesuai dengan karakter masing-masing siswa Variasi belajar itu dapat berupa membaca bahan rujukan, melakukan pengamatan, melakukan percobaan, mewawancarai nara sumber, dan sebagainya dengan cara kelompok maupun individual.

Berikut prinsip-prinsip yang  digunakan dalam pengembangan pendidikan  budaya karakter bangsa adalah:

1.      Berkelanjutan, mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai budaya dan karkter bangsa merupakan proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai  dari suatu satuan pendidikan.

2.      Melalaui semua mata pelajaraan, penngembangan diri, dan budaya sekolah, bahwa pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui setiap mata pelajaran.

3.      Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan.

4.      Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyeluruh.

Perencanaan pelaksanaan pendidikan budaya karakter bangsa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor) secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik dan diterapkan kedalam kurikulum melalui hal-hal sebagai berikut:

1.      Program pengembangan Diri

2.      Pelaksanaan pendidikan karakter bangsa dilakukan melalui pengintekrasian kedalam kegiatan sekolah melalui hal-hal berikut:

a.      Kegiatan ruti sekolah

b.      Kegiatan spontan

c.       Keteladanan

d.      Pengkondisian

3.      Pengintekrasian dalam mata pelajaran

Pengembangan nilai diintegrasikan dalam pokok bahasan dari setiap mata pelajaran, nilai tersebut di cantumkan dalam silabus dan Rpp dengan cara:

a.       Mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada Standar Isi (SI) untuk menentukan nilai-nilai budaya dan  nilai karakter yang tercantum itu sudah tercakup didalamnya

b.      Menggunakan tabel 1 yang memperlihatkan keterkaitan antara Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dengan nilai dan indicator untuk menentukan nilai yang dikembangkan

c.       Mencantumkan nilai0nilai budaya dan karakter bangsa dalam table 1 itu kedalam silabus

d.      Mencantumkan nilai-nilai yang sudah tertera dalam silabus kedalam Rpp

e.       Menngembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktifyang memungkinkan peserta didik melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai.

f.       Memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan untuk menginternalisasiskan nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku.

4.      Budaya sekolah pembelajaran peserta didik secar aktif

Budaya sekolah cakupannya sangat luas, umumnya mencakup ritual, harapan, hubungan, demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstra kurikuler, kegiatana ekstra kurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun interaksi social antar komponen di sekolah.

SUMBER BACAAN­

            Syaiful bahri djamarah, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta: Pt rineka cipta,2005) hal 5-9

Armai Arif. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.

 

http://www.infodiknas.com/upaya-mewujudkan-pendidikan-karakter-bangsa-melalui-penerapan-pendekatan-pembelajaran-aktif-kreatif-efektif-dan-menyenangkan-pakem-dalam-kbm-di-smpn.

Uzer Usman. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung:  Pt Remaja Rosdakarya.

Widya Aksara. 2010.Prosiding Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa. Bandung

Masnur Muslilich. 2011. Pendidikan Karakter Menjadi Tantangan Krisis Multidimensional.Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Mansyur Ramly. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa.Jakarta.

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

STUDI TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DALAM RANGKA PENERAPAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

Oleh:

RANTI DELFITA

09 101 070

 

Abstrak

Pendidikan merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh setiap orang agar tujuan dari pendidika nasional negara ini tercapai. Pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang berlangsung dalam kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui bimbingan, pengajaran, latihan dalam membentuk kepribadian serta menemukan dan mengembangkan fitrah yang dibawa sejak lahir, guna kebahadiaan dan kesejahteraan hidupnya.

Hakikat pendidikan

Untuk masuk pada suatu pendidikan kita harus beranjak terlebih dalulu pada belajar itu sendiri dari situ kita baru akan mengetahui apa pendidikan itu.  Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.dengan demikian belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.

Dalam Islam belajar merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan, dengan belajar dari yang tidak tahu menajdi tahu tentu melalui proses seperti membaca, memahami. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Alaq ayat 1-5.

ù&tø%$#ÉOó™$$Î/y7În/u‘“Ï%©!$#t,n=y{ÇÊÈt,n=y{z`»|¡SM}$#ô`ÏB@,n=tãÇËÈù&tø%$#y7š/u‘urãPtø.F{$#ÇÌȓÏ%©!$#zO¯=tæÉOn=s)ø9$$Î/ÇÍÈzO¯=tæz`»|¡SM}$#$tBóOs9÷Ls>÷ètƒÇÎÈ

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Dari ayat di atas bahwa membaca merupakan pendidikan, tampa membaca orang tak akan mengetahui sebelum membaca, Untuk menetahui apa yang tidak diketahui maka kita harus melalui pendidikan sehingga bias mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sehingga terbentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Merosotnya kualitas pendidikan banyak mendapat sorotan dari masyarakat, peserta lulusan kependidikan, para pendidik dan pemerintah. Oleh karena itu pemerintah berupaya semaksimal mungkin mengadakan perbaikan dan penyempurnaan di bidang pendidikan. Sebagai langkah antispasi, maka pendidikan banyak diarahkan pada penataan proses belajar, penggunaan dan pemilihan  media belajar secara tepat dan bervariasi.

Persoalan tentang pendidikan, fokusnya selalu berkenaan dengan persoalan peserta didik, peserta didik yang dicintai, disayangi, dan generasi yang masa depannya patut dipersiapkan. Tugas mendidik anak memang tidak mudah dilakukan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini. Kesulitan-kesulitan menjalankan tugas mendidik itu amat terasa, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sudah sedemikian kuat, bahkan melampaui kekuatan pengaruh faktor-faktor pendidikan lainya. Seperti halnya kenakalan remaja sudah menjadi berita utama dalam masyarakat, termasuk di media baik elektronika maupun cetak. Wacana yang dibicarakan oleh berbagai pemberitaan yang terutama adalah kenalakan remaja, perkelahian, pergaulan bebas, penggunaan obat terlarang, mabuk dan bahkan tindak kekerasaan yang tidak selayaknya dilakukan. Menghadapi persoalan seperti itu, sudah pasti para orang tua dan guru menjadi risau. Cita-cita berupa agar kelak menjadi orang tua yang berhasil, yaitu memiliki anak yang sukses, shalih dan shalihah, taat pada kedua orang tua, berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama menjadi obsesi yang terlalu sulit diwujudkan. Kesulitan menunaikan tugas pendidikan, lebih-lebih pada masa sekarang ini, bukan semata-mata oleh karena keterbatasan lembaga pendidikan yang tersedia, melainkan disebabkan amat sedikitnya lembaga pendidikan yang mampu melakukan peran-peran pendidikan secara utuh terhadap para siswanya.

Pendidikan merupakan usaha pengembangan potensi peserta didik secara sadar, teratur, terencana dan terarah agar nanti menjadi manusia dewasa dalam segala aspek kehidupan, siap pakai dan terampil atau disebut juga dengan life skill.Hal ini sesuai dengan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:

Pendidikan merupakan proses yang terjadi secara berkesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik sesara aktif mengembangkan potensi dirinya untik memiliki spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam kehidupan manusia pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam membentuk generasi mendatang. Dengan adanya pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia yang berkualitas, bertanggungjawab dan mampu mengantisipasi masa depan. Upaya pendidikan senantiasa mengantar, membawa perubahan dan perkembangan hidup serta kehidupan umat manusia.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran wajib di sekolah yang harus diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang menekankan bukan hanya pada pengetahuan terhadap Islam, tetapi juga terutama pada pelaksanaan dan pengamalan agama peserta didik yakni agar dalam aktifitas kehidupannya tidak terlepas dari pengamalan agama, berakhlak mulia dan berkepribadian utama dan berwatak sesuai dengan ajaran Islam dalam seluruh kehidupannya, terutama pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD)yang mengajarkan bagaimana mendidik manusia menjadi lebih beragama  serta menjalankan syariat-syariat yang ada dalam kontek koridor Agama Islam.

Selain itu Pendidikan Agama Islam di sekolah mempunyai peran yang strategis dalam pengembangan Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Oleh karenanya untuk mengetahui mutu Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan di sekolah secara nasional, maka perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap hasil pembelajaran.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan disekolah dasar. Dimana materi Pendidikan Agama Islam dibagi menjadi empat jenis, yaitu :materi dasar, materi sekuensial, materi instrumental, materi pengembangan personal.

Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar yang berlangsung dalam kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui bimbingan, pengajaran, latihan dalam membentuk kepribadian serta menemukan dan mengembangkan fitrah yang dibawa sejak lahir, guna kebahadiaan dan kesejahteraan hidupnya.

Pendidikan agama Islam pada sekolah umum bertujuan agar siswa memahami, menghayati, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam sehinggaj menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha atau kegiatan untuk menbuat anak didik berkepribadian yang sesuai dengan ajaran islam, terutama Al-Qur’an dan sunnah Rasul, sehingga ajaran itu terwujud pada sikap dan perilakunya demi terjaminnya kesinambungan ajaran Islam.

Berdasarka pada defenisi tersebut berarti bahwa pendidikan agama islam harus merupakan suatu kegiatan untuk membuat anak didik kreatif dan berkepribadian yang sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga ajaran Islam itu terwujud pada sikap dan perilakunya sehari hari.

 

 

Evaluasi pendidikan Agama islam di SMP dalam rangka penerapan standar nasional pendidikan

Dalam rangka memajukan pendidikan nasional khususnya di SMP, secara umum pemerintah menetapkan tiga arah pengembangan pendidikan yaitu:

1.      Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT

2.      Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, jujur, adil, etis, disiplin, toleransi, menjaga keharmosisan secara personal dan sosial

3.      Mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

 

Selanjutnya untuk meningkatkanmutu pendidikan di Indonesia pemerintah telah mengeluarkan peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan (SNP).  SNP adalah kriteria minimal tentangsistem pendidikan di seluruh wilayah hukum negara kesatuan republik Indonesia.

Ruang lingkup dari standar nasional pendidikan ini meliputi:

a.       Standar isi

b.      Standar proses

c.       Standar kompetensi lulusan

d.      Standar pendidik dan tenaga kependidikan

e.       Standar sarana dan prasarana

f.       Standar pengelolaan

g.      Standar pembiayaan

h.      Standar penilaian pendidikan

Standar nasional pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Adapun fungsinya adalah sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalaam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Selain itu Pendidikan Agama Islam di sekolah mempunyai peran yang strategis dalam pengembangan sistem pendidikan nasional di Indonesia dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Oleh karena itu  untuk mengetahui mutu Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan di sekolah secara nasional, maka perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap hasil pembelajaran.

          Adapun permasalahan yang temui di lapangan adalah rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru tentang penggunaan media dan metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga siswa cepat bosan, jenuh dan kurang bersemangat dalam belajar. Sedangkan siswa hanya menganggap mata pelajaran Pendidikan agama Islam hanya untuk diketahui,dibaca dan dihafal, bukan untuk dipahami.  Sehingga apabila guru mengajukan pertanyaan setelah pembelajaran selesai hanya beberapa orang siswa yang mampu menjawab. Hal ini sangat mempengaruhi terhadap tujuan pembelajaran agama di sekolah. Dengan demikian untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

            Melihat proses pembelajaran yang pasif, di mana siswa yang hanya mendengar penjelasan dari guru daripada mencari informasi dari sumber lain. Aktifitas siswa dalam kelas hanya sebagai pendengar karena guru selalu menggunakan metode ceramah dan tanya jawab

Evaluasi merupakan proses pengumpulan data secara ilmiah yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilam keputusandalam menentukan  alternatif kebijakan.

Pendidikan agama Islam (PAI) di SMP perlu dilakukan evaluasi sejauhmana kesesuaiannya dengan standar nasional pendidikan. Adapun yang termasuk kedalam evaluasi tersebut mencakup:

1.      Aspek input, meliputi standar isi, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, dan standar pembiayaan.

2.      Aspek proses, meliputi standar proses, standar pengelolaan, dan standar penilaian pendidikan

3.      Aspek out-put, meliputi standar kompetensi lulusan, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

Seperti yang kita ketahui bahwa  masih banyaknya yang belum sesuai antara peleksanaan PAI dengan standar nasional pendidikandari banyak segi, contoh nya: dari segi input, dalam pengembangan dan penyusunan kerangka kurikulum kurang melibatkan pihak-pihak yang seharusnya yaitu, komite sekolah dan perancangan mereti yang akan diajarkan kurang memperhatikan dan menyesuaikan dengan kondisi peserta didik bahkan yang lebih parahnya guru PAI masih berijazahkan SMA dan masih ada sekolah yang kurang mempergunakan jaringan internet untuk pembelajaran.

Dalam segi pelaksanaan banyak terjadi kendala yang dihadapi oleh guru, terutama dalam merancang perencanaan pembelajaran PAI masih banyak guru yang lemah dalam menggunakan media dan guru juga tidak mengefektifkan keterlibatan siswa dalaam pembelajaran, dalam penilaian guru hanya melihat hasil dari siswa dengan melakukan tes tertulis tanpa menggunakan praktek dan yang lebih penting lagi guru PAI kurang melakukan evaluasi melalui praktek dan unjuk kerja langsung dari siswa. Untuk melihat hasil belajar guru PAI kurang memanfaatkan hasil dari evaluasi yang telah dilakukan untuk hasil perbaikan pembelajaran, untuk meningkatkan hasil belajar guru juga kurang memberikan penugasan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi, namun guru hanya melakukan penilaian dari aspek kognitif saja.

Dari temuan di atas, maka penyelenggaraan PAI pada tingkat SMP perlu dilakukan evaluasi, sejauhmana penyelenggaraan PAI di SMP telah sesuai dengan standar nasional pendidikan, baik dari segi input, segi proses maupun outputnya.

Untuk lebih meningkatkan hasil belajar kita harus menggunakan berbagai jenis media. Setiap media mempunyai karakteriktik tertentu, baik dilihat dari segi kemampuannya maupun cara penggunaanya. Memahami karakteristik berbagai media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran. Di samping itu memberikan kemungkinan pada guru untuk dapat menggunakan berbagai jenis media pembgajaran secara bervariasi. Sedangkan apabila kurang memahami karakteristik media tersebut, guru akan dihadapkan kepada kesulitan dan cenderung bersifat spekulatif.

Menurut Rahadi  ada beberapa karakteristik media gambar yang harus diperhatikan dalam pembelajaran PAI  sebagai berikut:

a.  Harus autentik, artinya dapat menggambarkan obyek atau peristiwa seperti jika siswa melihat langsung. Apalagi pada mata pelajaran salat, gambar harus benar-benar sesuai dengan bentuk yang mendukung tata cara pelaksanaannya.

b.  Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok dalam gambar tersebut terkait dengan tata cara salat pembelajaran PAI.

c.  Ukuran gambar proporsional, sehingga siswa mudah membayangkan ukuran yang sesungguhnya benda atau objek yang digambar.

d.Memadukan antara keindahan dengan kesesuiannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Gambar harus message. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Maka dalam pemilihan gambar yang baik untuk kegiatan pengajaran terdapat beberapa kriteria yang perlu diperhatikan antara lain:

a.       Keaslian gambar. Gambar menunjukkan situasi yang sebenarnya,  seperti   melihat keadaan atau benda yang sesungguhnya. Kekeliruan dalam hal ini akan memberikan pengaruh yang tak diharapkan gambar yang palsu dikatakan asli.

b.      Kesederhanaan. Gambar itu sederhana dalam warna, menimbulkan kesan tertentu, mempunyai nilai estetis secara murni dan mengandung nilai praktis. Jangan sampai peserta didik menjadi bingung dan tidak tertarik pada gambar.

c.       Bentuk item, hendaknya sipengamat dapat memperoleh tanggapan yang tetap tentang obyek-obyek dalam gambar.

d.      Perbuatan,  gambar hendaknya hal sedang melakukan perbuatan. Siswa akan lebih tertarik dan akan lebih memahami gambar-gambar yang sedang bergerak.

e.       Fotografi, Siswa dapat lebih tertarik kepada gambar yang nilai fotografinya rendah, yang dikerjakan secara tidak profesional seperti terlalu terang atau gelap. Gambar yang bagus belum tentu menarik dan efektif bagi pengajaran.

f.       Artistik, segi artistik pada umumnya dapat mempengaruhi nilai gambar. Penggunaan gambar tentu saja disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Berdasarkan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional dijelaskan tentang pendidikan agama di SMP antara lain pada pasal 7 ayat 1 bahwa pendidikan agama pada tingkat SMP dilaksanakan melalui muatan dan kegiatan agama, kewarganagaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, etestika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Penilaian hasil belajar pendidikan agama Islam sesuai dengan ayat 3 pasal 64 yang menyatakan bahwa penilaian hasil belajar kelompok agama dan akhlak mulia dilakukan melalui pengamatan perubahan tingkah laku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik disamping penilaian yang dilakukan melalui ujian, ulangan, dan penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

Benyamin S. Bloom dalam Anas  juga mengemukakan mengenai hasil belajar yaitu “ Tujuan Pendidikan mengacu pada 3 ranah yaitu ranah proses berpikir  (cognitive domain ), ranah sikap (affective domain), dan ranah keterampilan (psychomotor domain).

          Secara garis besar hasil belajar diklasifikasikan oleh Benyamin Bloom dalam Nana Sudjana menjadi 3 ranah yaitu :

a.    Ranah Kognitif

                             Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

b.    Ranah Efektif

          Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi dan internalisasi.

c.    Ranah Psikomotor

Berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek yakni, gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan dan ketepatan, gerakan pengalaman terhadap aktivitas pembelajaran.

Ketiga ranah ini harus dievaluasi secara seimbang. Penekanan salah satu ranah saja dapat mempengaruhi proses dan kualitas pembelajaran. Hasil belajar yang akan diamati dalam penelitian ini adalah hasil belajar, aspek Kognitif berupa tes. Jenis tes yang akan digunakan adalah tes essay.

Sebelum kita ketahui hasil belajar siswa dari pelaksanaan dan evaluasi ada beberapa hal penyebab rendahnya hasil belajar antara lain :

1)   Kurangnya pengawasan dari orang tua.

2)   Kelemahan system

3)   Kurangnya pengetahuan guru

4)   Kurangnya minat anak

5)   Strategi kurang relevan

  Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa suatu proses pembelajaran pada akhirnya akan menghasilkan kemampuan atau kapabilitas yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan.

          Dengan demikian dapat diketahui bahwa hasil belajar merupakan indikator keberhasilan seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan perubahan yang didapat setelah melakukan kegiatan belajar yang meliputi penguasaan terhadap ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

 

Kesimpulan

            Pendidikan merupakan proses yang terjadi secara berkesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik sesara aktif mengembangkan potensi dirinya untik memiliki spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

            Pendidikan agama islam harus merupakan suatu kegiatan untuk membuat anak didik kreatif dan berkepribadian yang sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga ajaran Islam itu terwujud pada sikap dan perilakunya sehari hari.

            Evaluasi merupakan proses pengumpulan data secara ilmiah yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilam keputusandalam menentukan  alternatif kebijakan

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0mm;
mso-para-margin-right:0mm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0mm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-US;
mso-fareast-language:EN-US;}

PENERAPAN STRATEGI ACTIVE LEARNING TIPE THE FIRING LINE DI SEKOLAH / MADRASAH

 

Oleh :

 

Reni Yoza                                                    

09 101 071

 

Abstrak: Pelaksanaan strategi mengajar yang ada di sekolah/madrasah, tampaknya masih ada sebagian guru yang cendrung menggunakan pembelajaran konvensional dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran konvensional metode yang paling dominan digunakan oleh guru adalah metode ceramah dimana pelajaran berpusat pada guru, sedangkan untuk memajukan pendidikan sekarang guru perlu merancang pembelajaran agar berpusat pada siswa. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan strategi active learning tipe the firing line.  Strategi avtive learning tipe the firing line merupakan salah satu strategi yang diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami suatu masalah serta melibatkan gerak fisik siswa. Keterlibatan fisik ini akan meningkatkan partisipasi siswa yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.

 

 

Kata Kunci: Penerapan, strategi active learning tipe the firing line, sekolah/madrasah

 

 

Strategi Active Learning Tipe The Firing Line

1.      Strategi pembelajaran

Pengertian strategi pembelajaran dapat dikaji dari dua kata pembentuknya, yaitu strategi dan pembelajaran. Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya (guru dan media) untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan pembelajaran berarti upaya membelajarkan siswa, dengan demikian, strategi pembelajaran berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam upaya membelajarkan siswa.[1]

Menurut Dick dan Carey, “strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.[2] Strategi merupakan suatu cara yang digunakan dalam pembelajaran dengan mengatur dan menetapkan suatu kegiataan agar proses yang dilalui bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan dan membawa hasil yang memuaskan sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Menurut W. Gulo strategi pembelajaran adalah rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar tercapainya tujuan pembelajaran. Sedangkan menurut Wina Sanjaya strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[3]

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah cara menyampaikan materi pembelajaran kepada pelajar sehingga kompetensi (tujuan pembelajaran) dapat tercapai dengan optimal. Seorang guru harus mampu menggunakan berbagai strategi dalam pembelajaran. Pemilihan strategi dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan latar belakang peserta didik, agar peserta didik mudah memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh guru di kelas.

Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit tercapai secara optimal, dengan kata lain pembelajaran tidak dapat berlangsung secara efektif dan efesien.

 

Strategi pembelajaran sangat berguna baik bagi guru maupun bagi siswa. Bagi guru strategi dapat dijadikan pedoman dan acuan bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan pembelajaran. Bagi siswa penggunaan strategi pembelajaran dapat mempermudah proses belajar, karena setiap strategi pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa. hubungan antara strategi pembelajaran dengan guru, siswa dan hasil belajar dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.1 Hubungan strategi pembelajaran dengan guru, siswa dan hasil belajar.[4]

2.      Strategi active learning

Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar secara aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik, biasanya dengan cara ini peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.[5]

Belajar aktif sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum, ketika peserta didik pasif atau hanya menerima dari guru, ada kecendrungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima dari guru. Hal ini terjadi karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan pada waktu yang lama.

Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof dari Cina, Konfusius, dia mengatakan:

Apa yang saya dengar, saya lupa

Apa yang saya lihat, saya ingat

Apa yang saya lakukan, saya paham.[6]

Dari kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar aktif sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima dari guru ada kecendrungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan.

Menurut Melvin L. Silberman mengemukakan bahwa: agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah.[7]

Dengan demikian strategi belajar aktif adalah suatu cara yang digunakan dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehingga siswa terlibat secara aktif, dimana ketika siswa belajar secara aktif berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran, sehingga dengan demikian mereka akan lebih kreatif dalam mengembangkan informasi dan aktif dalam menggunakan otak untuk menimbulkan ide pokok dari materi pelajaran.

3.      Pembelajaran aktif tipe the firing line

Teknik formasi firing line merupakan salah satu strategi yang ada pada buku avtive learning 101 cara belajar siswa aktif karya Melvin L. Silberman. Strategi ini merupakan  format  gerakan cepat dan dinamis yang bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan, misalnya menguji dan bermain peran. Strategi ini menonjolkan secara terus menerus pasangan secara bergilir, sehingga siswa mendapat kesempatan untuk merespon pertanyaan-pertayaan atau tipe pertanyaan yang lain.[8]

Strategi avtive learning tipe the firing line merupakan salah satu strategi yang diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami suatu masalah dan dapat membantu guru menekankan hasil-hasil konsep penting sehingga tidak mudah dilupakan siswa dan siswa dapat lebih ingat dengan pembelajaran yang baru disampaikan.

Pada strategi avtive learning tipe the firing line kekuatan suatu tim sangat berpengaruh besar dalam penerapan tujuan strategi ini atau kerjasama antar anggota kelompok sangat membantu siswa dalam memahami konsep yang sudah diberikan. Dalam strategi ini diharapkan siswa yang mempunyai daya tangkap yang baik bisa membantu temannya dalam 1 kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lawan dengan jangka waktu yang ditentukan. Strategi ini akan mengajak siswa untuk bisa menyampaikan pendapatnya tentang suatu konsep melalui kegiatan permainan. Melalui kegiatan ini diharapkan pelajaran menjadi menyenangkan dan bertahan lama dalam ingatan siswa.

Strategi the firing line memiliki beberapa prosedur sebagai berikut:

a.       Tetapkan tujuan anda untuk menggunakan “regu tembak”

b.      Susunlah kursi dalam formasi dua barisan berhadapan, sediakan kursi yang cukup untuk seluruh siswa di kelas.

c.       Pisahkan kursi-kursi menjadi sejumlah regu beranggotakan tiga sampai lima orang siswa pada sisi atau deret. Formasi bisa tampak seperti gambar berikut ini:

XXXX                        XXXX                        XXXX

YYYY                        YYYY                        YYYY

d.      Bagikan pada setiap siswa X sebuah kartu berisi sebuah tugas atau pertanyaan yang akan diminta untuk dijawab oleh siswa Y yang duduk berhadapan dengannya.

e.       Mulailah tugas pertama, perintahkan siswa X untuk menembakkan tugas atau pertanyaan dalam kartu kepada siswa Y yang duduk dihadapannya, lanjutkan dengan jumlah babak sesuai dengan jumlah tugas yang diberikan.[9]

Guru juga dapat memvariasikan strategi the firing line ini sesuai dengan kebutuhan kelas. Variasi yang dapat dilakukan antara lain:

a.       Menukar peran antar kedua kelompok.

b.      Dalam beberapa situasi, mungkin akan lebih menarik dan lebih tepat untuk memberikan tugas yang sama kepada setiap anggota regu. Dalam hal ini, siswa X akan diminta untuk menjawab instruksi yang sama untuk tiap anggota regunya.[10]

Adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi the firing line sebagai berikut:

a.       Menetapkan tujuan untuk menggunakan strategi the firing line.

b.      Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok sebanyak 3-5 orang tiap kelompok, dimana  kemampuan siswa dalam setiap kelompok tersebut heterogen.

c.       Guru menjelaskan materi secara ringkas kepada siswa.

d.      Guru memerintahkan siswa untuk saling berdiskusi dengan anggota kelompoknya masing-masing tentang materi SKI yang dipelajari sekarang dan menyelesaikan LKS. Guru dapat terus memantau dan membimbing aktivitas siswa dengan cara berkeliling kelas.

e.       Setelah selesai berdiskusi, dilakukan latihan soal dengan menggunakan strategi the firing line, yaitu:

1)      Guru menyuruh siswa menyusun kursi di kelas menjadi dua formasi barisan  berhadapan.

2)      Guru memisahkan kursi-kursi menjadi sejumlah regu beranggotakan 3 sampai 5 orang siswa pada setiap deret. Siswa dalam masing-masing kelompok diperintahkan duduk dikursi tersebut berhadapan dengan siswa dalam kelompok lain. Formasi ini bisa tampak seperti ini:

XXXX                        XXXX

YYYY                        YYYY

3)      Guru memilih dua kelompok untuk tampil ke depan kelas dengan cara loting, yaitu kelompok X sebagai penanya dan kelompok Y sebagai penjawab dengan posisi kelompok saling berhadapan dan bersyaf.

4)      Masing-masing dari kelompok X mendapat satu kartu pertanyaan yang telah disiapkan oleh guru tentang materi SKI  yang sebelumnya telah dipelajari.

5)      Kelompok X menembak anggota dari kelompok Y yang ada dihadapannya satu persatu untuk menjawab pertanyaan yang ada di dalam kartu pertanyaan dengan waktu yang telah ditentukan.

6)      Setiap anggota kelompok Y yang bisa menjawab pertanyaan dari kelompok X dengan benar akan diberi skor 10.

7)      Kelompok lain yang tidak tampil harus memperhatikan dan mendengarkan pertanyaan yang diberikan kepada kelompok X.

8)      Jika siswa pada kelompok Y tidak bisa menjawab, maka dapat dibantu oleh teman sekelompoknya. Namun jika teman sekelompoknya tidak bisa menjawabnya, maka pertanyaan tersebut dilemparkan pada kelompok lain yang tidak tampil.

9)      Bagi kelompok yang tidak tampil, kelompok yang bisa menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh kelompok penanya dengan benar juga akan diberi skor 10 untuk kelompok tersebut.

10)  Apabila soal tersebut tidak dapat juga dijawab oleh kelompok lain, maka soal tersebut akan dibahas guru pada akhir pembelajaran.

f.       Membalikkan peran agar siswa X bisa menjadi siswa Y.

Melalui permainan tembak berupa kartu pertanyaan ini diharapkan pelajaran dapat menjadi menyenangkan, dengan begitu siswa menjadi lebih termotivasi, berminat untuk belajar dan lebih menperhatikan pelajaran yang sedang dipelajari serta mempersiapkan diri sebelum belajar, berdiskusi dengan teman, dan bertanya. Strategi ini didesain untuk menghidupkan kelas, belajar menyenangkan dan menigkatkan keterlibatan fisik siswa.

Setiap strategi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing begitu pula dengan strategi active learning tipe the firing line. Adapun kelebihan strategi active learning tipe the firing line diantaranya adalah:

a.       Dalam belajar siswa melibatkan lebih dari satu inderanya.

Proses pembelajaran setidaknya melibatkan indera penglihatan dan pendengaran. Memerlukan vokal atau berbicara. Karena dalam hal ini siswa dituntut aktif dan seimbang.

b.      Keterpaduan antara olah pikir, olah fisik dan olah rasa.

Siswa  diarahkan untuk mampu bertanya dan menjawab untuk melaksanakan siswa perlu berfikir dan berusaha untuk menyiapkannya. Olah fisik dilakukan dengan berpindah dari kelompok yang lain untuk memberi dan mendapatkan informasi.  Siswa lebih semangat, merasa belajarnya bebas tapi pasti dan terarah. Selain itu terdapat olah rasa. Siswa  akan mendapatkan makna dalam hatinya, perasaan nyaman atau tidak ketika berada dalam kelompok yang berbeda-beda. Keterpaduan ini akan menjadi belajar lebih bermakna.

c.       Kerjasama yang baik dan kebermaknaan belajar

Dalam belajar yang dilaksanakan berkelompok pastilah memerlukan kerjasama. Hal ini dilakukan dengan tujuan kelompok tersebut akan menjadi yang terbaik. Sehingga kesan pembelajaran semakin bermakna yang diperoleh dalam proses kerjasama dalam kelompok.

d.      Merangsang siswa untuk selalu  bersaing sehat dalam belajar.

Tidak dapat dipungkiri dalam kelas pastilah terdapat kompetisi atau persaingan. Dengan pembelajaran nyaman, aktif menyenangkan, terarah dan pasti peserta didik akan merasakan telah mendapat sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya sehingga kebutuhannya akan belajar merasa dipenuhi. Dengan demikian mereka terangsang  untuk mendapatkan kepuasan hati tersebut.

Disamping memiliki kelebihan strategi avtive learning tipe the firing line juga memiliki kelemahan, diantaranya :

a.       Memerlukan waktu yang lebih.

b.      Bagi peserta diklat yang pemalu, kurang vokal dan kurang aktif (fisik) tipe ini kurang sesuai. Sebagaimana ketentuan-ketentuan di atas yang harus dipenuhi.

Selama ini srategi pembelajaran di sekolah banyak didominasi oleh guru. Guru menjabarkan materi yang akan diajarkan dan siswanya menerima pembelajaran tersebut, siswa lebih banyak menerima pengetahuan dari guru dari pada mencari ilmu pengetahuan sendiri, sehingga gambaran tentang materi pelajaran bukan berasal dari dirinya sendiri.

Strategi avtive learning tipe the firing line ini dirancang untuk membuat siswa termotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum belajar, berdiskusi dengan temannya dan bertanya. Selain itu strategi ini juga menonjolkan secara terus menerus pasangan secara bergiliran, sehingga siswa memdapat kesempatan untuk merespon pertanyaan-pertanyaan.

Strategi avtive learning tipe the firing line di gunakan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan terlibatnya aktivitas siswa dalam berdiskusi dengan temannya, serta melibatkan gerak fisik siswa. Keterlibatan fisik ini akan meningkatkan partisipasi yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Dalam penerapannya strategi avtive learning tipe the firing line juga dapat divariasikan dengan metode yang lain, yaitu:

a.       Metode ceramah

b.      Metode Tanya jawab

c.       Metode kerja kelompok

Kesimpulan

Pelaksanaan strategi mengajar yang ada di sekolah/madrasah, tampaknya masih ada sebagian guru yang cendrung menggunakan pembelajaran konvensional dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran konvensional metode yang paling dominan digunakan oleh guru adalah metode ceramah dimana pelajaran berpusat pada guru, sedangkan untuk memajukan pendidikan sekarang guru perlu merancang pembelajaran agar berpusat pada siswa. hal ini bisa dilakukan dengan menggabungkan metode ceramah dengan strategi dan metode yang lain serta menggunakan alat dan media pembelajaran yang bisa mendukung pembelajaran yang lebih aktif.. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan strategi active learning tipe the firing line.

Melalui permainan tembak berupa kartu pertanyaan ini diharapkan pelajaran dapat menjadi menyenangkan, dengan begitu siswa menjadi lebih termotivasi, berminat untuk belajar dan lebih menperhatikan pelajaran yang sedang dipelajari serta mempersiapkan diri sebelum belajar, berdiskusi dengan teman, dan bertanya. Strategi ini didesain untuk menghidupkan kelas, belajar menyenangkan dan menigkatkan keterlibatan fisik siswa.

 Strategi avtive learning tipe the firing line merupakan salah satu strategi yang diharapkan dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami suatu masalah serta melibatkan gerak fisik siswa. Keterlibatan fisik ini akan meningkatkan partisipasi siswa yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Dalam penerapannya strategi avtive learning tipe the firing line juga dapat divariasikan dengan metode yang lain, yaitu:

1.      Metode ceramah

2.      Metode Tanya jawab

3.      Metode kerja kelompok

Sumber Bacaan

 

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Jakarta: Bumi Aksara, 2009

Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

Adripen dan Susi Herawati, Desain Pembelajaran Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Batusangkar: STAIN Press Batusangkar, 2007

Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD Institute Agama Islam Negeri Sunan Kali Jaga, 2007

Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif (Terjemahan), Bandung: Nusa Media dan Nuansa, 2004


[1]Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h.2

<