BELAJAR DARI R.A KARTINI

 

Oleh : Syafri Salmi

Mahasiswa PAI STAIN Batusangkar

Siapa yang tidak kenal dengan R.A Kartini, ia lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang sangat taat pada adat istiadat. Saat usia 7 tahun, ia bersekolah di Sekolah Kelas Dua Belanda. Selain belajar di sekolah, ia juga kerap memperoleh pelajaran Bahasa Jawa, memasak, menjahit, mengurus Rumah Tangga dan pelajaran agama di rumahnya. Keluarganya sangat mengedepankan pendidikan. Setelah lulus dari Sekolah Dasar yaitu pada usia 12 tahun ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orang tuanya. Ia dipingit Hingga waktu untuk menikah tiba. Hal ini membuat Kartini sangat sedih, ia berkeinginan untuk   menentang semua kebijakan orang tuanya tersebut, tapi ia tidak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca, Inilah bisa diungkapkan oleh Ajeng kartini. Hal ini sangat sesuai sekali dengan konsep ajaran agama islam, bahwa wahyu yang pertama yang dibawa oleh baginda kita rasulullah adalah “ Iqra’ “ Perintah untuk membaca. dari  Semua buku, termasuk surat kabar yang dibaca Kartini pada waktu itu, Kalau ada kesulitan dari apa  yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya.

 Melalui kegiatan inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berfikir wanita Eropa ( Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Hingga Timbullah keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia pun mulai mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda.

Pernah ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda. Permohonannya tersebut dikabulkan oleh Mr. J.H Abendanon pada waktu itu. Singkat cerita, Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Sekolah tersebut diberi nama  “Sekolah Kartini”.

Keberhasilannya mendirikan sekolah tersebut tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak ada perbedaan terhadap siapapun, baik si kaya dengan simiskin, yang lemah dan yang kuat, semuanya itu sama, bisa mencicipi pendidikan disekolah tersebut.

Pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya.

Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa, Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”.

Itu uraian yang penulis uraikan, banyak sekali pelajaran yang dapat kita contoh dari liku – liku perjuangan yang dilakukan oleh R.A Kartini ini, mulai dari semangat perjuangannya dalam mencari ilmu, dengan cara membaca walaupun dalam kesibukkan, namun yang membaca tetap saja dilaksanakan.

Memang benar kata orang pintar, dengan Ilmu kita bisa menguasai segalanya, dengan ilmu hidup akan menjadi mulia. dari jauh – jauh hari Islam juga sudah memberikan Isyarat, bahwa diperintahkan kita untuk Membaca. Sungguh benar, dan mulyanya ajaran agama Islam kita ini, sesuai sekali dengan prinsipnya, bahwa Islam ini merupakan agama yang membawa keselamatan bagi Umat Manusia.

Tentu dengan hal ini, Kita sangat berharap mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diizinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diizinkan menentukan jodoh / suami sendiri.

 Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan yang kurang baik ini.

Juga, dengan upaya yang telah dilakukan OLeh pejuang wanita ini, kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut, “Hidup itu akan indah dan berbahagia apabila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang” sepotong kalimat yang diucapkan R.A Kartini semasa hidupnya ini mampu memberikan arti dan spirit tersendiri dalam perjuangan meraih persamaan dan kesetaraan gender atau disebut juga emansipasi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s