ESENSI DARI IBADAH QURBAN

Hari raya Qurban sudah diambang pintu, yang merupakan salah satu hari besar bagi umat Islam. Hari yang memiliki sejarah, mengandung berbagai macam rahasia dan makna tersendiri sebagai bentuk dari salah satu kekuasaan yang maha kuasa.

Qurban berasal dari bahasa arab Qarraba yang berarti pendekatan diri. Sedangkan secara istilah qurban itu adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik kita, yang diberikan dijalan Allah SWT dengan dasar keimanan dan keikhlasan.

Jadi ibadah Qurban atau yang sering kita sebut dengan hari raya haji merupakan suatu kegiatan penyembelihan binatang ternak berupa sapi atau kambing dengan dilandasi dengan keimanan dan keikhlasan yang dilaksanakan pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Bicara tentang Qurban, tentunya kita tidak akan lepas dari peristiwa pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim A.S, istrinya Siti Hajar, dan anaknya Nabi Ismail A.S.

Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah yang sangat merindukan seorang anak, akan tetapi keinginan yang sangat diimpikan tersebut tak kunjung terkabulkan.  Namun hal ini tidak membuat dirinya menjauh dari Allah SWT, walaupun keinginannya untuk memiliki anak belum terkabulkan, Nabi Ibrahim tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT, kualitas ibadahnya semakin meningkat, karena dia yakin Allah maha tau atas semua ini. Setiap hari Nabi Ibrahim selalu berdo’a kepada Allah SWT “Robbii Habli Minassholihin” Ya Allah berkatilah aku seorang keturunan atau anak yaitu anak yang sholeh.

Berkat kesabaran dari Nabi Ibrahim, akhirnya baru diumur tuanya keinginan untuk meiliki seorang anak terkabulkan. Namun setelah anak beranjak remaja, saat itu pula perintah Allah SWT datang. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anak satu-satunya itu.

Ibrahim harus berjuang melawan nafsu demi mencari ridlo Allah. Sedangkan Siti Hajar sebagai ibu yang menyambung nyawa ketika hamil dan melahirkan anaknya serta mengasuh dan membesarkan anaknya dengan segala kesusahannya, dengan iman dan kesabaran yang mantap merelakan anaknya untuk diqurbankan demi pengabdian diri kepada Allah SWT.

Begitu juga dengan anaknya putra yang sholeh bernama Ismail dengan sabar dan penuh dengan keikhlasan menyerahkan dirinya untuk diqurbankan demi memenuhi perintah Allah SWT dan Bentuk kepatuhannya kepada kedua orang tua.

Pengorbanan Nabi Ibrahim tersebut suatu bentuk dari kepatuhan yang luar biasa, sehingga “penyembelihan” ini diabadikan Allah SWT dalam syari’at pengurbanan sebagai teladan bagi umat manusia sesudah generasi Nabi Ibrahim AS.

Pengorbanan Nabi Ibrahim A.S, Siti Hajar dan putrannya Ismail, dihadapinnya penuh dengan berbagai tantangan dan rintangan. Seperti pada waktu mereka diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengurbankan anaknya, satu – satu anak yang sudah lama dimpi – impikan dan sangat disayangi, mereka digoda Iblis. iblis menggoda mereka agar tidak melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.

Akan tetapi hal ini tidak membuat keimanan keluarga ini tidak mudah digoyangkan oleh tipu daya Iblis ini. Dalam sejarahnnya mereka melempar syaithan-syaithan itu dengan batu-batu, itulah yang dijadikan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji di Mina dengan melempar jumrah. Dari peristiwa ini dapat kita ambil hikmah bahwa setiap kita melakukan kebenaran , pasti besar godaan dan tantangan serta besar pula pengorbanannya.

Perintah berqurban pada hakikinya tidak hanya sekedar menuntut seseorang untuk menyembelih hewan qurban pada hari yang telah ditetapkan saja, tetapi perintah ini mempunyai jangkauan makna luas, yaitu sebagai ajaran agar mau berbuat dan berqurban untuk saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan, seperti fakir miskin dan lain – lain sebagainnya. Allah SWT telah mengingatkan kita bahwa rizki, kekuasaan, kekayaan, kedudukan dan kenikamatan yang kita dapatkan,  semuannya itu tidaklah terlepas dari izin Allah SWT.

Maka dari itu kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah qurban sebagai bentuk dari rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan kepada kita. Firman Allah “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan berqurbanlah.” ( Q.s Al Kausar ayat 1 – 2 ).

Yang menarik dari ibadah qurban yang kita laksanakan pada hari raya haji  ini adalah qurban itu kita laksanakan dengan menyembelih binatang, tidak dengan bentuk memberikan makanan ataupun membagikan uang secara langsung kepada masyarakat. Qurban yang kita lakukan dalam menyembelih binatang tersebut melambangkan bahwa manusia harus membunuh dan mengikis habis segala bentuk sifat kebinatangan yang bibitnya ada dalam diri manusia. Binatang yang kita sembelih adalah hewan, dimana hewan itu memiliki sifat serakah, egois, hanya mengutamakan nafsu, tidak mempedulikan halal haram, serta berbagai sifat negatif lainnya. Dengan menyembelih binatang dalam ibadah qurban berarti kita membunuh segala bentuk sifat kebinatangan yang ada pada kita, sehingga yang tinggal adalah sifat keutamaan sebagai hamba Allah SWT.

Sesungguhnya esensi dari ibadah qurban bukanlah terletak pada daging bintang yang kita sembelih, melainkan terpancar nilainya berdasarkan motivasi yang melatar belakangi mengapa seseorang itu berqurban. Janganlah dikira bahwa yang akan dinilai Allah hanya dagingnya atau darah dari hewan qurban itu. Akan tetapi yang sesungguhnnya yang akan dinilai oleh Allah SWT dari ibadah qurban tersebut adalah keikhlasan kita dalam melaksanakan ibadah qurban tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s